Menginap di Rumah Peninggalan Belanda Sejak 1910 di Lumajang, Mau? - Kompas.com

Menginap di Rumah Peninggalan Belanda Sejak 1910 di Lumajang, Mau?

Wahyu Adityo Prodjo
Kompas.com - 19/05/2017, 07:16 WIB
KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Rumah peninggalan Belanda di area Perkebunan Teh Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (10/5/2017). Wisatawan bisa menyewa rumah peninggalan Belanda itu dengan biaya Rp 450.000 per malam.

LUMAJANG, KOMPAS.com - Siapa sangka Perkebunan Teh Kertowono punya rumah-rumah peninggalan Belanda yang telah berusia lebih dari satu abad tepatnya tahun 1910. Serunya lagi wisatawan bisa menginap di rumah-rumah peninggalan Belanda itu.

KompasTravel sempat menginap di rumah-rumah Belanda yang ada di Perkebunan Teh Kertowono. Rumah-rumah peninggalan Belanda punya beberapa kamar yang bisa diinapi oleh wisatawan yang tengah berlibur di Perkebunan Kertowono.

Arsitektur rumah peninggalan Belanda terasa kental. Salah satunya terlihat dari banyaknya jendela dan bentuk jendela yang besar.

(BACA: 4 Obyek Wisata di Lumajang yang Tak Boleh Anda Lewatkan)

Lantai rumah masih didominasi dengan tegel-tegel polos. Sementara dinding rumah hanya satu warna yaitu putih dan ditemani warna coklat pada jendela serta atap.

Suasana penginapan rumah Belanda di Perkebunan Teh Kertowono terbilang nyaman. Hawa sejuk terasa dan panorama hijau bisa terlihat. Adapula pabrik peninggalan Belanda di dekat rumah Belanda.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Interior rumah peninggalan Belanda di area Perkebunan Teh Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (10/5/2017). Wisatawan bisa menyewa rumah peninggalan Belanda itu dengan biaya Rp 450.000 per malam.
Rumah yang KompasTravel inapi bernama "Wisma Theobroma". Ada beberapa rumah yang biasa disewakan untuk wisatawan dengan fasilitas seperti kamar mandi, televisi, kamar tidur, selimut, ruang tamu, dan dapur.

Karyawan Pelaksana Tata Usaha Bagian Anggaran dan Tanaman PTPN XII, Rudi Eko Purwanto mengatakan rumah-rumah peninggalan Belanda itu pada masa lampau merupakan tempat para manajer Perkebunan Teh Kertowono tinggal.

(BACA: Legenda di Balik Indahnya Puncak B29 Lumajang)

Para manajer itu merupakan orang-orang Belanda yang ditugaskan mengelola perkebunan teh sejak tahun 1910.

"Bangunan yang paling tua itu ada di Afdelling tengah. Ini semua bangunan tak ada perubahan bentuk. Kalau kayu masih tetap. Paling ada perubahan di atap rumah karena diganti," kata Rudi saat ditemui beberapa waktu lalu.

Awalnya manajemen Perkebunan Teh Kertowono tak membuat penginapan untuk para wisatawan. Rudi menyebut hanya memberdayakan fasilitas-fasilitas yang ada sebelumnya.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Wisma Theobroma, rumah peninggalan Belanda di area Perkebunan Teh Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (10/5/2017). Wisatawan bisa menyewa rumah peninggalan Belanda itu dengan biaya Rp 450.000 per malam.
"Kami ada empat rumah. Jumlah kamarnya ada sembilan. Satu rumah disewakan harganya Rp 450.000 per malam. Tak ada fasilitas makan dengan harga itu," lanjutnya.

Pengalaman yang ditawarkan untuk wisatawan adalah kebanggaan bisa menginap di rumah-rumah peninggalan Belanda. Sebelumnya, tak ada yang bisa menginap di rumah-rumah tersebut.

"Ini sebuah kebanggaan bisa tidur di tempatnya meneer zaman Belanda. Masyarakat kecil baru bisa merasakan sekarang. Semua yang tinggal dulu itu orang Belanda. Ada yang ditempati manajer dan para pembesar (pejabat tinggi) perkebunan," tambahnya.

Rudi mengatakan bila wisatawan ingin mencoba menginap sebaiknya melakukan reservasi terlebih dahulu. Proses reservasi bisa melalui organisasi Gucialit Organisasi Wisata Alam, email di kertowono@gmail.com, dan telepon di nomor 0334 -883691.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Rumah peninggalan Belanda di area Perkebunan Teh Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (10/5/2017). Wisatawan bisa menyewa rumah peninggalan Belanda itu dengan biaya Rp 450.000 per malam.
Perkebunan Teh Kertowono sendiri ada di wilayah Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Luas wilayah Perkebunan Teh Kertowono sendiri sekitar 2.267,97 hektar. 

Dari Kota Lumajang, Perkebunan Teh Kertowono berjarak sekitar 55 kilometer. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.

Wisatawan dengan minat khusus bisa menjajal medan perkebunan teh dengan motor trail. Selain itu, wisatawan juga bisa bermain sepeda di kebun teh.

Di Bukit Inspirasi, wisatawan juga bisa menikmati pemandangan matahari terbit dengan latar gunung dan laut. Gunung-gunung yang terlihat seperti Gunung Semeru, Lemongan, Raung, dan Argopuro.

PenulisWahyu Adityo Prodjo
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X