Permainan Papan di Meja Makan - Kompas.com

Permainan Papan di Meja Makan

Kompas.com - 06/06/2017, 13:20 WIB
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Bermain permainan papan bersama teman di The Bunker Cafe.

THE Bunker Cafe hadir dengan konsep unik. Tak hanya menyuguhkan minuman dan hidangan segar berkualitas, kafe ini menghadirkan 220 jenis ”board game”.

Bersantap di Bunker Cafe, perut tidak hanya kenyang, tetapi keakraban pun terjalin erat lewat ”board game” alias permainan papan di atas meja makan yang sudah menjadi bagian dari identitas kafe.

Memasuki kafe di Kawasan Gading Serpong Boulevard, Tangerang, rombongan anak muda ataupun keluarga tampak asyik bermain menghadap papan permainan.

Mereka serius berinteraksi satu sama lain hingga lupa menyentuh telepon seluler yang biasanya tak pernah lepas dari genggaman. Biasanya para tamu menghabiskan 1,5 jam hingga 2 jam larut dalam board game.

Permainan atau gim papan yang dihadirkan sangat beragam, baik dari jenis maupun tingkat kesulitan.

Kesamaan dari setiap jenis permainan terletak pada komponen lembaran persegi, seperti papan sebagai alas permainan yang umumnya berasal dari bahan karton tebal.

(BACA: Pernah ke Kafe Sawah? Konsepnya Unik dan Disukai Wisatawan)

Gim papan sejatinya sudah akrab dikenal dalam wujud yang lebih sederhana, seperti monopoli, halma, atau ular tangga.

Hadir dengan kemasan yang lebih modern dan tentu saja lebih mengasyikkan, ratusan gim papan impor hadir di Bunker Cafe. Tengoklah dinding kafe yang dihiasi beragam jenis kotak gim papan terkini.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Ragam pilihan permainan papan di The Bunker Cafe.
Gim dengan kotak berjudul Meeple War, misalnya, mengajak pemainnya belajar tentang strategi, antisipasi, dan kemampuan diplomasi untuk menghancurkan musuh, membangun kota, dan membentuk pasukan.

Pelanggan biasanya menyukai permainan jenis game party yang menekankan unsur kesenangan dan keseruan.

Keseruan permainan antara lain dibangun karena gim papan hadir di dunia nyata sehingga pemainnya tak lantas larut di dunia maya, seperti internet.

(BACA: Nongkrong ala Orang Timur Tengah di Kafe Ini)

Mereka bisa berinteraksi dengan lawan main yang nyata dengan membayar Rp 15.000 per orang per jam untuk setiap permainan.

Salah satu pelanggan Kafe Bunker, Lucia, yang sempat memecahkan rekor bermain gim papan selama 8,5 jam tanpa henti di meja kafe menemukan kesenangan berbeda ketika bermain gim papan.

”Pengalamannya beda dengan bermain gim di komputer. Bisa kumpul dan bercanda ama teman. Bisa sambil ngomong. Real life,” kata Lucia yang kini menjadi Master Game di Bunker Cafe.

Karya seni

Pemilik The Bunker Cafe, Stephen Setiawan, sengaja ingin menghadirkan lingkungan bebas gawai.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Bermain permainan papan bersama teman di The Bunker Cafe.
Bukan berarti sama sekali meninggalkan gawai, tetapi ia prihatin menyaksikan pengunjung restoran atau kafe yang lebih larut dalam gawai dibanding berinteraksi dengan rekan atau keluarga.

”Di kafe, ujung-ujungnya main HP. Disediakan alternatif. Mendapat pengalaman melakukan sesuatu bersama dengan genuine quality time. Ketemu yang tulus,” tambah Stephen.

Ketika masih kuliah, Stephen pernah hampir putus kuliah karena kecanduan gim daring.

Kecanduannya berlarut-larut bermain di dunia maya akhirnya terobati ketika mulai kenal gim papan yang sekaligus membantunya kembali ke dunia nyata.

Lewat gim papan, ia pun jadi bisa belajar berkomunikasi dan bergaul dengan orang lain.

Gim papan yang awalnya hadir sebagai pelengkap akhirnya menjadi identitas kuat dari The Bunker Cafe. Namun, bukan berarti kafe ini kemudian asal-asalan dalam menyajikan hidangan.

Semua masakan dan minuman yang disuguhkan tetap mengutamakan kualitas terbaik dengan harga terjangkau.

Semua bahan baku makanan dan minuman merupakan bahan segar. Tidak ada bahan baku cepat saji atau kalengan yang dihadirkan.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Pilihan makanan di The Bunker Cafe.
Ragam buah-buahan yang digunakan untuk racikan minuman pun berasal dari buah segar. Demikian pula dengan daging serta sayuran sebagai bahan aneka santapan dan kudapan.

Kopi yang disuguhkan, misalnya, diracik dari biji kopi lokal Indonesia yang dipilih dengan sangat hati-hati. The Bunker Cafe bekerja sama dengan beberapa micro-roaster yang menyangrai kopi dalam jumlah kecil selayaknya seorang seniman.

Kopi tersebut, antara lain, berasal dari Wonosobo, Aceh, dan Mandailing. ”Bukan kopi pabrikan. Tergantung profil apa yang mau diciptakan. Bitter, rustic, atau sweet? Kadang seasonal,” ujar Stephen.

Selain kopinya yang diramu bak karya seni, beberapa minuman lain pun diracik khusus dan hanya bisa dijumpai di The Bunker Cafe.

Minuman yang dinamai butter cookie blended diolah dari karamel dan vanila dengan penambahan nuansa baru dengan hadirnya biskuit marie regal.

Sebagian orang punya sejarah kenangan bersantap biskuit regal yang seolah jadul, tetapi bisa dikemas modern.

Jika pada gim papan dikenal meeple atau minipeople, tokoh ini akhirnya juga diabadikan dalam jenis minuman meeple mojito yang diolah dari melon dan apel.

Menu racikan spesial lainnya adalah strawberry cheesecake atau blueberry grape tea. Setelah berteriak-teriak seru menghadap permainan papan, segelas minuman racikan yang unik menambah segar suasana.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Spice Beef Rice Bowl di The Bunker Cafe, Ruko Graha Summarecon, Serpong, Tangerang Selatan.
Perpaduan rasa

Bersantap di The Bunker Cafe menjadi petualangan tersendiri karena suguhan masakannya yang juga spesial. Pilihan rasa menu makanan adalah perpaduan dari ringan, natural, hingga organik.

Sulit untuk menemukan masakan dengan bumbu yang terlalu kuat atau rasa yang terlalu manis di kafe ini.

”Kami mengembangkan resep dari dua aspek. Pilihan bahan baku berkualitas dan rasa yang berkualitas. Rasa fusion yang high end,” kata Stephen.

Menyantap spaghetti carbonara, rasa gurihnya bakal bikin ketagihan dengan potongan daging segar.

Tak hanya masakan ala Eropa, The Bunker Cafe juga menyajikan menu Asia, seperti spicy beef rice bowl dengan takaran nasi yang sanggup membuat kenyang dengan taburan sayur dan olahan daging sapi. Citarasa Nusantara dihadirkan lewat menu seperti gulai fried rice.

Perpaduan makanan dan minuman berkualitas dan permainan yang mengasyikkan menjadi Bunker Cafe sebagai pelarian yang menyenangkan.

Jika dunia luar dengan segala kesibukan kuliah atau bekerja diibaratkan sebagai medan ”peperangan”, The Bunker Cafe ingin menghadirkan diri sebagai bungker atau tempat persembunyian untuk sejenak menghindar dari ”peperangan”.

Suasana bungker dihadirkan dari lantai yang hanya dilapisi semen dengan pemakaian elemen yang lebih natural, seperti batu, tanpa cat ataupun keramik.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Spagetti Carbonara di The Bunker Cafe, Ruko Graha Summarecon, Serpong, Tangerang Selatan.
Apabila tentara pada era perang dunia menghiasi bungker dengan coretan di dinding, The Bunker Cafe juga menghias dindingnya dengan lukisan mural berkisah tentang peperangan seru.

Hadir di lokasi dengan tujuh kampus berbeda dan dihuni oleh banyak keluarga muda, kafe bungker ini ingin hadir sebagai pusat komunitas, tak sekadar tempat makan dan minum.

”Jiwanya dari bungker, tetapi dikreasikan menarik. Di sini, konsumen bisa bekerja, bermain, makan.... Tidak hanya kafe, tetapi community center. Orang bisa melakukan apa saja,” ujar Stephen. (MAWAR KUSUMA)

EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X