Pengolahan Berlian Pertama di Asia, Ada di Bandung - Kompas.com

Pengolahan Berlian Pertama di Asia, Ada di Bandung

Kompas.com - 03/07/2017, 15:06 WIB
TRIBUNJABAR/FASCO DEHOTMAN Bagian dalam Indo Wisata Pemata, Bandung.

KOMPAS.com - Wisata pembuatan dan pengolahan berlian menjadi atraksi baru wisatawan yang liburan ke Bandung, Jawa Barat. Destinasi sekaligus perusahaannya bernama Indo Wisata Permata, bergerak dalam bidang pembuatan perhiasan terutama berlian dan batu mulia.

"Di Indo Wisata Permata kami tidak hanya menyediakan berlian bagi pelanggan menengah ke atas, menengah ke bawah pun bisa memilikinya," ujar Guest Relation Indo Wisata Permata (IWP), Nenden, saat ditemui Tribun Jabar di galeri perhiasan IWP, Sabtu (1/7/2017).

Banyak orang beranggapan bahwa berlian pasti memiliki harga puluhan juta. Anggapan yang cukup salah, karena di IWP, wisatawan bisa mendapati berlian dengan harga di bawah Rp 1 juta.

Sales Manager IWP, Yohan, menuturkan bahwa rentang harga termurah untuk berlian adalah Rp 600.000-900.000. Salah satu benda termurah adalah liontin. 

TRIBUNJABAR/FASCO DEHOTMAN Tampak luar Indo Wisata Permata.

Di sini, wisatawan bisa melihat proses pengolahan berlian mulai dari marking hingga micro setting. Total ada enam proses pengolahan berlian yang bisa dilihat di sini.

Tempat pengolahan berlian yang diklaim pertama se-Asia ini berlokasi di Komplek Citra Green Dago, Blok N1-10, Kota Bandung. Tempat wisata edukasi ini dirintis pada 14 Februari 2016.

Alda Ramadhika selaku Marketing IWP menuturkan bahwa IWP menawarkan tempat pengalaman baru yang belum ditemukan di tempat wisata lainnya di Asia.

"Sehingga timbullah rasa penasaran masyarakat untuk mengunjungi IWP sebagai pilihan utama berwisata di Kota Bandung," tuturnya.

Selain gedung pengolahan berlian, IWP juga menyediakan fasilitas penunjang lainnya seperti kafe yang terdiri dari tiga lantai. IWP buka setiap hari mulai pukul 10.00-17.00 WIB. 

Artikel ini diambil dari Tribun Jabar dengan judul "Indo Wisata Permata, Tempat Edukasi Berlian Pertama di Asia".

EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar