Upaya Menjaga Bunga Edelweis dari Kepunahan - Kompas.com

Upaya Menjaga Bunga Edelweis dari Kepunahan

Kontributor Malang, Andi Hartik
Kompas.com - 09/07/2017, 20:06 WIB
Bunga Edelweis tumbuh di sepanjang perjalanan menuju bibir kaldera Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/3/2015). Bunga Edelweis merupakan tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi.Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo Bunga Edelweis tumbuh di sepanjang perjalanan menuju bibir kaldera Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/3/2015). Bunga Edelweis merupakan tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi.

MALANG, KOMPAS.com - Tanaman edelweis yang ada di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mekar sempurna, Jumat (7/7/2017).

Bunganya yang berwarna putih melambai ditiup angin kawasan Gunung Bromo. Edelweis yang dikenal dengan bunga keabadian itu sengaja ditanam di dekat pemukiman warga. Tujuannya adalah pembudidayaan.

Sebab, populasi bunga edelweis yang ada di dalam hutan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus menyusut karena selalu dicari oleh warga. Karenanya, pihak TNBTS berupaya melestarikan bunga tersebut dengan membudidayakannya.

Harapannya, warga Tengger yang ada di lereng Gunung Bromo dan Semeru bisa ikut membudidayakan bunga tersebut.

"Pelatihan untuk warga Suku Tengger sudah kita lakukan untuk membudidayakan bibitnya," kata Kepala TNBTS, John Kennedie.

Edelweis merupakan tumbuhan dilindungi yang hanya bisa hidup di kawasan setinggi di atas 2.000 meter dari permukaan laut (mdpl). Bagi warga Suku Tengger, edelweis merupakan kebutuhan rutin saat melaksanakan ritual peribadatan. Bunga tersebut harus ada dalam setiap sesaji yang dipersembahkannya.

Seorang wisatawan saat mencium edelweis yang tumbuh di lereng Bromo, Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (7/7/2017)KOMPAS.com / Andi Hartik Seorang wisatawan saat mencium edelweis yang tumbuh di lereng Bromo, Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (7/7/2017)

Mereka menyebut edelweis dengan Tana Layu, dari bahasa sansekerta yang artinya tidak layu. Oleh karena itu, selain dicari karena memiliki nilai ekonomis, edelweis juga dicari untuk kebutuhan ritual warga Suku Tengger yang mayoritas beragama Hindu.

Namun, upaya petugas TNBTS untuk membudidayakan edelweis masih menemui kendala. Warga Suku Tengger yang diharapkan bisa menjadi penggerak budidaya edelweis belum menyadari pentingnya membudidayakan bunga tersebut.

"Kami belum berhasil menemukan masyarakat yang cocok untuk membudidayakan," kata Penyuluh Kehutanan TNBTS, Birama Terang Radityo.

Namun demikian, sudah ada sebagian warga yang mau membudidayakan edelweis. Seperti warga Suku Tengger di Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan dan Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo.

Ada tiga jenis edelweis yang tumbuh di hutan TNBTS yakni Anaphalis javanica, Anaphalis viscida dan Anaphalis longifolia. Perawatannya tidak terlalu sulit. Bahkan, tanpa adanya perawatan yang intens pun, edelweis bisa tumbuh.

"Perawatannya tidak terlalu susah. Sebenarnya tidak dirawat pun hidup. Kalau hanya untuk kebutuhan sehari -hari tidak usah dipupuk. Kalau untuk wisata harus dirawat," katanya.

Petugas TNBTS sudah menyebar 1.000 bibit edelweis kepada warga Suku Tengger. Bahkan TNBTS sudah mencanangkan Desa Wisata Edelweis untuk kebutuhan pembudidayaan tersebut.

PenulisKontributor Malang, Andi Hartik
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar

Close Ads X