Sipaha Lima, Ritual Sakral Agama Leluhur Suku Batak - Kompas.com

Sipaha Lima, Ritual Sakral Agama Leluhur Suku Batak

Kontributor Medan, Mei Leandha
Kompas.com - 10/07/2017, 12:04 WIB
Ruas Parmalim, penganut agama leluhur Batak mengadakan ritual Sipaha Lima di Medan, Sabtu (8/7/2017)KOMPAS.com/Mei Leandha Ruas Parmalim, penganut agama leluhur Batak mengadakan ritual Sipaha Lima di Medan, Sabtu (8/7/2017)

MEDAN, KOMPAS.com - Tiap bulan ke lima penanggalan suku Batak atau Juli pada kalender Masehi, ruas (umat) Parmalim yang merupakan penganut agama leluhur Batak mengadakan ritual Sipaha Lima.

Ini adalah bentuk syukur atas rezeki, kesehatan, dan keselamatan sepanjang tahun kepada Debata Mula Jadi Na Bolon atau Tuhan Yang Maha Esa. Satu ekor kerbau jantan akan disembelih untuk dijadikan persembahan, diiringi tarian Tortor dan irama Gondang Sebangunan, musik khas Batak.

Biasanya, acara Sipaha Lima diadakan di bale pasogit di Huta Tinggi tepatnya di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Tapi kali ini, acara diadakan di Istana Parmalim yang berada di Jalan Air Bersih Ujung Medan, yang juga merupakan kantor DPD Kota Medan Punguan Parmalim.

Pada 5 - 7 Juni 2017, ratusan orang datang dari seluruh penjuru, tak hanya kaum Parmalim. Para perempuan mulai anak-anak sampai opung-opung (nenek-nenek) mengenakan kebaya dan ulos, menyanggul cepol rambutnya. Para pria mengenakan kemeja dan jas, bersarung dan berselempang ulos, ada juga yang hanya mengenakan sarung dan kemeja.

Sebagian dari mereka melilitkan kain putih di kepala seperti sorban. Ini ciri khas dan penanda bahwa yang mengenakannya sudah menikah. Kalau kain selendangnya ada dua, ulos dan kain putih, berarti mereka ulupunguan (pimpinan agama) atau keluarganya.

Kamis yang terik, usai melepas alas kaki, Kompas.com bergabung dengan lautan manusia yang duduk bersila dengan kedua tangan terkatup di depan dada. Di halaman bale parsantian, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki, berkelompok mengelilingi tempat upacara.

Ihutan Ugamo Malim, Raja Poltak Marsinton Naipospos terlihat khusyuk dengan rapal-rapal doa yang dipanjatkannya. Beberapa kali dalam doanya dia terdengar menangis sesenggukan. Setiap sesi doa diakhiri dengan gondang yang diikuti gerak tangan menortor. Begitulah sampai hampir dua jam.

Jelang petang, sekelompok laki-laki berdiri. Menarik kerbau menuju tengah lapangan dan menambatkannya di sebatang pohon yang sudah disediakan. Dari mulai mengarak kerbau sampai menambatkannya, dilakukan dengan gerak, suara dan irama gondang.

Setelah kerbau ditambat, perempuan dan laki-laki bergantian menortor hingga waktu yang ditentukan, kerbau pun disembelih. Para pria yang bertugas sebagai parhobas (pelayan) sigap mengangkat badan kerbau menggunakan tandu yang sudah disediakan.

"Kerbau itu bentuk syukur, persembahan yang kita yakini diterima Mula Jadi Na Bolon, Debata Na Tolu... Ini persembahan kurban kepada Mula Jadi Na Bolon atas berkat selama setahun penuh. Harapan kita ke depannya diberikan lagi berkat. Setelah disembelih, nanti ada acara persembahan lagi. Setelah dimakan, sisa daging akan dibagi-bagi ke warga secara merata, namanya panation," kata Halasan Sirait, Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran dari Sekretariat Pusat Parmalim di Jakarta.

Dijawabnya pertanyaan kenapa ritual Sipaha Lima diadakan di Medan. Sepeninggal Ihutan Ugamo Malim Raja Monang Marnangkok Naipospos, Parmalim terbelah menjadi dua kubu. Pihaknya adalah kelompok yang mempertahankan tradisi dan budaya turun-temurun dan sesuai dengan AD-ART Parmalim yang ditetapkan sejak 1987 lalu.

Bentrok fisik mereka alami saat sedang beribadah. Akibatnya mereka membuat laporan ke Polres Toba Samosir pada Mei 2017 lalu.

"Ihutan itu tidak diangkat dan diberhentikan, turun temurun kepada ahli warisnya yang dianggap mampu. Jatuhlah kepada Poltak Marsinton Naipospos, putra kedua Marnangkok Naipospos yang layak. Kita menghindari bentrok, memilih cara damai, makanya diadakan di Medan. Tapi cukup sekali ini saja Sipaha Lima di sini. Parmalim itu mengakui keberanekaan agama tapi Ugamo Malim harus di Tanah Batak," kata Halasan.

Menurut Halasan, perpecahan Parmalim saat ini sudah dituliskan dalam nubuat bahwa suatu masa ruas Parmalim akan hilang dua per tiganya. Namun kehilangan ruas tersebut akan membuat Ugamo Malim semakin besar.

"Kebetulan kami sepertiganya, kami yakini kamilah nanti pemenangnya, kamilah yang besar itu. Saat ini kami mengalah, bukan berarti kalah, ya.. Mohon doanya, kami akan bangun bale pasogit di Kecamatan Lumbanjulu, sudah tersedia tanah seluas 13 hektar di sana. Kami harus kembali ke tanah Batak," kata warga Jakarta ini.

Dia berharap, tidak hanya Parmalim tapi dunia yang matanya saat ini ke Danau Toba. Untuk itu, dia meminta pemerintah mempermudah dan mau bekerja sama agar bisa menghubungkan Parmalim dengan Danau Toba dan masuk dalam kalender pariwisata dan budaya nasional. Menurutnya, 65 persen kunjungan wisatawan adalah tempat-tempat ritual keagamaan.

"Kalau kami makmur, otomatis negara juga akan makmur, itu harapannya," pungkas Halasan.

Berdasarkan data 2015, warga Parmalim berjumlah 1.334 kepala keluarga (KK) atau 5.555 jiwa tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Ada 6 KK tinggal di areal kompleks bale pasogit. Terdiri dari 48 punguan, di Kabupaten Toba Samosir terdapat 11 cabang atau 11 ulupunguan.

Di Medan, ada 373 jiwa penganut Parmalim yang tersebar di 10 kecamatan, yakni Medan Amplas, Patumbak, Medan Kota, Medan Denai, Medan Marelan, Tanjung Morawa, Medan Labuhan, Medan Belawan. Sebagian masuk wilayah Kabupaten Deli Serdang, yaitu Kecamatan Sunggal dan Percut Seituan.

Di luar Kota Medan, ruas Parmalim dapat ditemui di Kabupaten Simalungun, Samosir, Toba Samosir dan Tapanuli Utara. Di Jakarta, sebanyak 60 KK berdomisili di Jalan Malaka, Jakarta Timur. Ugamo Malim berisi ajaran-ajaran kebaikan dan sangat mencintai perdamaian. Ini terlihat dari doa dan perilaku ruas-nya.

Mereka lebih memilih diam ketika dipinggirkan, dihilangkan haknya untuk memilih agama dan kepercayaan yang mereka yakini oleh negara. Mereka tidak melawan saat hak-hak sebagai warga negara diabaikan, tak dipenuhi.

Parmalim adalah para penganut Ugamo Malim. Sebutan ini dinabalkan setelah Raja Sisingamangara ke XII mangkat. Sebelum pergi, dia menitahkan ajaran ini untuk diteruskan kepada Raja Mulia Naipospos. Ihutan Ugamo Malim, itulah gelar yang disandangnya. Sampai hari ini sudah tiga generasi menggantikan tugasnya. Agama ini awalnya berpusat di Huta Tinggi, ditandai dengan berdirinya bale pasogit yang tidak ada di daerah lain.

PenulisKontributor Medan, Mei Leandha
EditorSri Anindiati Nursastri

Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM