Akulturasi Budaya Betawi pada Seporsi Kerak Telor nan Gurih - Kompas.com

Akulturasi Budaya Betawi pada Seporsi Kerak Telor nan Gurih

Muhammad Irzal Adiakurnia
Kompas.com - 10/07/2017, 22:02 WIB
Seporsi kerak telor yang mengisahkan akulturasi budaya betawi pesisir dan pedalaman.KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Seporsi kerak telor yang mengisahkan akulturasi budaya betawi pesisir dan pedalaman.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kerak telor yang merupakan kuliner khas Betawi, bisa Anda jumpai di banyak sudut Kota Jakarta terutama kawasan yang bernilai historis. Seperti Kota Tua, Situ Babakan, Kemayoran, dan tentunya pada acara tahunan Pekan Raya Jakarta (PRJ).

JJ Rizal, sejarawan dan budayawan Betawi mengatakan bahwa di balik rasa kerak telor yang gurih tersebut, ada akulturasi budaya yang tercipta dari bahan-bahannya.

"Dari kerak telor itu kita bisa liat akulturasi budaya Betawi yang berasal dari dua sumbu yang berbeda," ujar JJ saat ditemui di paviliun Mahakarya Indonesia, Jakarta Fair 2017, Sabtu (8/7/2017).

Beras ketan yang menjadi bahan dasarnya merupakan panganan pokok masyarakat pedalaman, atau perkebunan di Jakarta. Dahulu terletak di kawasan Bekasi - Karawang dan sekitarnya.

Seorang pedagang kerak telor di area Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7/2013).KOMPAS.com/FABIANUS JANUARIUS KUWADO Seorang pedagang kerak telor di area Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7/2013).
"Bekasi - Karawang di tahun 1940 itu masih sering panen padi, makanya beras ketan jadi komoditi di sana," ujarnya.

Sedangkan serundeng yang gurih, karena terbuat dari kelapa, merupakan bahan kuliner masyarakat pesisir. Rekat kaitannya dengan "Sunda Kalapa".

Belum lagi batok kelapa yang menjadi bahan bakar wajib memasak kerak telor. Batok kelapa sendiri dipakai untuk menghasilkan kerak yang nikmat dan wangi.

"Jadi ada pertemuan dua arus kebudayaan besar dalam satu produk kebudayaan kuliner Betawi ini. Keduanya memang termasuk asal masyarakat Betawi," ungkap JJ Rizal.

PenulisMuhammad Irzal Adiakurnia
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar

Close Ads X