Berbahaya dan Jangan Ditiru! Pendaki yang "Nyeker" di Gunung Gede Pangrango - Kompas.com

Berbahaya dan Jangan Ditiru! Pendaki yang "Nyeker" di Gunung Gede Pangrango

Wahyu Adityo Prodjo
Kompas.com - 17/07/2017, 07:04 WIB
Gunung Pangrango.KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Gunung Pangrango.

JAKARTA, KOMPAS.com - Saya tersentak ketika melihat dua orang pendaki di jalur pendakian Gunung Gede Pangrango via Cibodas, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Saat itu, saya tengah mendaki Gunung Pangrango bersama kedua rekan saya.

Di depan saya, ada sepasang pendaki yang terengah-engah saat berada di jalur pendakian. Mereka tampak duduk di bebatuan. Namun, tak lama mereka kembali melanjutkan pendakian pada pagi hari itu.

Hal yang mengejutkan adalah seorang pendaki laki-laki tak menggunakan alas kaki alias "nyeker". Sementara, sang perempuan menggunakan sandal. Saya bingung.

"Kok tak pakai sandal, Mas?" tanya saya kepada pendaki itu.

"Sepatu saya dipakai teman saya. Kakinya sakit," jawab pendaki tersebut sambil melangkahkan kaki.

"Loh, gak sakit Mas kakinya?" tanya saya. "Enggak, mas," ujarnya sambil meneruskan pendakian tanpa menoleh.

Pendaki yang nyeker saat mendaki Gunung Pangrango, Jawa Barat.KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Pendaki yang nyeker saat mendaki Gunung Pangrango, Jawa Barat.

Saya kembali meneruskan pendakian tanpa berbicara dengannya. Puncak Gunung Pangrango, dengan ketinggian 3.019 meter di atas permukaan laut (mdpl) telah menunggu. Namun selama perjalanan, bayang-bayang perjalanan pendaki tanpa alas kaki tersebut terus mengusik pikiran saya.

"Apa kakinya benar tak sakit? Saya yang menggunakan sepatu saja masih merasa sakit," batin saya.

Perlu diketahui, jalur pendakian Gunung Gede via Cibodas hingga pos Kandang Badak (2.395 mdpl) didominasi oleh medan yang berbatu. Saya bertemu pendaki tersebut di sekitar Pos Panyangcangan Kuda (1.628 mdpl).

Di saat suasana yang makin dingin karena perubahan ketinggian, saya melesat Gunung Pangrango. Tempat favorit aktivis era 1960-an, Soe-Hok Gie, yaitu Lembah Mandalawangi sudah menunggu. Sebuah tempat yang dicintai Soe-Hok Gie bila menilik puisinya dengan judul "Mandalawangi-Pangrango".

Berbahaya

Pendakian gunung adalah kegiatan wisata yang berbahaya. Risiko yang dihadapi saat mendaki gunung tak tanggung-tanggung yaitu kematian. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat setidaknya telah menolong pendaki sebanyak 25 kasus dengan berbagai sebab. Pendaki-pendaki yang ditolong Basarnas umumnya karena tersesat, kelelahan, cidera saat mendaki, hipotermia, ancaman hewan buas, terjatuh, dan penyebab-penyebab lainnya.

Seorang pemandu gunung bersetifikat dari Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Setiyawan alias Wawan mengatakan alas kaki berfungsi untuk menahan otot kaki dari cidera, melindungi punggung kaki dari benturan, serta hawa dingin. Namun, tentang alas kaki, ia menyebut masih banyak pendaki yang menyepelekan hal tersebut.

"Pendakian dewasa ini semakin ramai, namun banyak pendaki yang masih meyepelekan alas kaki. Sebagian besar masih nyaman menggunakan sandal gunung bahkan bertelanjang kaki. Padahal, sandal gunung sebetulnya hanya nama, sendal tetaplah sendal yang mempunyai fungsi bukan untuk menahan otot engkel kaki," kata Wawan saat dihubungi KompasTravel, Minggu (16/7/2017).

Menurutnya, alasan-alasan yang muncul dari pendaki yang menyepelekan alas kaki karena lebih nyaman tak menggunakan sepatu.

"Mereka lebih bebas menggunakan sandal, karena tidak terbiasa menggunakan sepatu, bahkan bertelanjang kaki lebih nyaman. Kedua berdalih karena tidak memiliki sepatu gunung yang harganya mahal," sambung laki-laki yang juga anggota organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Unit Pandu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (MPA UPL Unsoed), Jawa Tengah itu.

Senada dengan Wawan, Ade Wahyudi yang juga pemandu gunung bersertifikat APGI mengatakan kaki adalah faktor yang paling krusial dalam pendakian gunung. Hal itu karena kaki adalah penopang utama saat mendaki gunung.

"Risiko buat cedera kena batu, tertusuk benda tajam sepanjang jalur, kaki lecet, resiko cidera engkel, kalau sudah terjadi dan setelahnya sampai bikin mereka gak bisa jalan, malah ngerepotin pendaki atau tim evakuasi karena gak bisa jalan," sebut laki-laki yang juga anggota organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) tersebut.

Kecelakaan dalam pendakian gunung bermuara dari kesiapan pendaki. Bila pendaki tak memersiapkan alat pendakian seperti alas kaki, maka bersiaplah untuk terpapar bahaya-bahaya yang ada. Masih mau celaka saat mendaki gunung?

PenulisWahyu Adityo Prodjo
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar