Nuansa India di Jantung Singapura - Kompas.com

Nuansa India di Jantung Singapura

Estu Suryowati
Kompas.com - 17/07/2017, 16:03 WIB
Restauran Komala Vilas merupakan restauran India tertua di kawasan Little India, Singapura, Sabtu (16/7/2017). Harga makanan dan minumannya cukup bersahabat di kantong pelancong.KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Restauran Komala Vilas merupakan restauran India tertua di kawasan Little India, Singapura, Sabtu (16/7/2017). Harga makanan dan minumannya cukup bersahabat di kantong pelancong.

SINGAPURA, KOMPAS.com - Little India merupakan distrik atau kawasan pusat komunitas India di Singapura. Yang menarik, meski berada di tengah-tengah kota, masih banyak bangunan di sana dengan arsitektur khas India.

Tak hanya dalam bentuk fisik, kultur orang-orang India yang tinggal di Singapura pun masih kental melekat di sana. Semua pedagang makanan di kios atau restoran, pedagang bunga, buah dan sayur, perhiasan, serta tempat penukaran uang adalah pria. Toko-toko di sana umumnya buka mulai pukul 10 pagi.

"Para wanita, kebanyakan mereka mengerjakan pekerjaan rumah, merawat anak-anak. Kalau pagi, mereka pergi ke pasar membeli buah-buahan dan sayur-sayuran," terang Daniel Lim, pemandu wisata kepada KompasTravel saat famtrip Hilton Garden Inn Singapura akhir pekan lalu.

Little India terletak di sekitar jalan Serangoon, Singapura. Jalan Serangoon merupakan jalan tertua yang berada di wilayah itu, dibangun sekitar tahun 1820. Banyak literatur yang menjelaskan penamaan jalan ini. Tapi, kata Daniel, salah satu yang dipercaya oleh masyarakat setempat yaitu Serangoon berarti gong yang dipukul untuk menakut-takuti hewan liar saat membelah perkebunan.

Dulunya, orang-orang dari India didatangkan ke tanah Singapura untuk dipekerjakan sebagai buruh perkebunan. Beberapa diantaranya ada yang menjadi peternak sapi atau kerbau dan bekerja di ladang pertanian.

Dibutuhkan waktu 30-40 menit perjalanan dari Bandara Internasional Changi menuju Little India dengan menggunakan taksi. Ongkosnya sekitar 20-30 dollar Singapura atau sekitar Rp 195.000 hingga Rp 292.500 (kurs 9.750 per dollar Singapura), tergantung cuaca dan kondisi jalanan.

Stasiun MRT Little India, Singapura, Sabtu (15/7/2017). Moda transportasi masal ini cukup populer di masyarakat Singapura dan tarifnya pun ramah di kantong para pelancong. MRT di Singapura juga memiliki rute sampai ke Bandara Internasional Chnagi.KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Stasiun MRT Little India, Singapura, Sabtu (15/7/2017). Moda transportasi masal ini cukup populer di masyarakat Singapura dan tarifnya pun ramah di kantong para pelancong. MRT di Singapura juga memiliki rute sampai ke Bandara Internasional Chnagi.

Tetapi jika ingin lebih irit, ada Mass Rapid Transit (MRT) yang bisa diakses dari stasiun MRT di bandara menuju stasiun MRT di Little India. Carilah MRT dengan jalur hijau kemudian transit di St. Tanah Merah, stasiun transit untuk seluruh perjalanan dari dan ke Bandara Internasional Changi.

Turun di St. Tanah Merah, carilah MRT yang menuju Tuas Link. Jangan lupa turun dan transit di St. Bugis, untuk berganti kereta di jalur biru nomor 11 yang menuju arah Bukit Panjang. Hati-hati kebablasan. Sebab, hanya butuh dua pemberhentian untuk mencapai St. Little India dari St. Bugis. Satu stasiun di antaranya yaitu St. Rochor.

Untuk anak-anak dengan tinggi badan di atas 90 sentimeter dan orang dewasa, tarif MRT dari Bandara Internasional Changi sampai ke St. Little India yaitu 1,69 dollar Singapura atau sekitar Rp 16.500 dengan jarak tempuh 18,6 kilometer.

Saat KompasTravel berkunjung ke Little India bersama rombongan dari Hilton Garden Inn Serangoon, pada Jumat (14/7/2017), Daniel menunjukkan banyak sudut menarik di sana, dan tentu saja sangat instagramable.

Rumah Tan Teng Niah, Chinese villa ini merupakan salah satu landmark Little India, Jumat (14/7/2017). Bangunan mencolok warna-warni ini sangat instagramable buat foto-foto para turis.KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Rumah Tan Teng Niah, Chinese villa ini merupakan salah satu landmark Little India, Jumat (14/7/2017). Bangunan mencolok warna-warni ini sangat instagramable buat foto-foto para turis.

Pertama, rumah Tan Teng Niah. Terletak di Kerbau Road, bangunan sangat mencolok dibandingkan dengan sekitarnya karena warna-warni temboknya sangat cerah. Tadinya tidak begitu, hanya putih saja.

Rumah ini dibangun oleh seorang pebisnis China, Tan Teng Niah, untuk istrinya sekitar tahun 1900. Bangunan delapan kamar ini mengalami restorasi pada 1980. Dalam perkembangannya, warna bangunan pun menjadi berwarna-warni.

Kata Daniel, bangunan yang juga menjadi landmark Little India ini merupakan satu-satunya Chinese Villa yang masih bertahan.

"Jadi, kamu tahu kenapa orang-orang China datang ke Singapura? Orang-orang China ini adalah pebisnis pandai. Makanya mereka datang kemari. Mereka menyewa kerbau dari orang-orang India untuk menggarap sawah dan perkebunan nanas. Lalu, hasil kebunnya, seperti nanas dibeli oleh orang-orang India untuk pakan ternak," terangnya lagi.

Salah satu sudut mural di Little India, Singapura, Jumat (14/7/2017). Para turis dimanjakan dengan 15 mural yang sangat menarik.KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Salah satu sudut mural di Little India, Singapura, Jumat (14/7/2017). Para turis dimanjakan dengan 15 mural yang sangat menarik.

Kedua, mural. Total ada 15 gambar dinding atau mural di kawasan Little India. Umumnya menunjukkan kultur India, seperti simbol kepercayaan, aktivitas di pasar, tari-tarian, dan sebagainya.

Bagi turis yang ingin berfoto ria dengan latar belakang mural cantik dan penuh warna, disarankan untuk menyusurinya dengan berjalan kaki saja. Sembari mencari mural, di sekitar situ juga banyak bangunan flat tempat tinggal orang-orang India.

Jothi Store & Flower Shop, salah satu toko bunga besar dan paling eksis di Little India, Singapura, Jumat (14/7/2017). Masing-masing untaian bunga punya makna berbeda untuk tiap-tiap dewa. KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Jothi Store & Flower Shop, salah satu toko bunga besar dan paling eksis di Little India, Singapura, Jumat (14/7/2017). Masing-masing untaian bunga punya makna berbeda untuk tiap-tiap dewa.

Ketiga, pasar tradisional dan toko bunga. Bagi pelancong yang meminati budaya masyarakat lokal, sangat disarankan berkeliling pasar yang menjual sayuran segar atau buah-buahan. Di Little India, juga banyak toko yang menjual bunga untuk beribadah serta pernak-pernik wanita. Seperti Jothi Store & Flower Shop, tepatnya di jalan Campbell Lane.

"Bunga-bunga yang dijual berwarna-warni dan harum. Tiap-tiap untaian ada makna dan harapan tersendiri, untuk dewa yang berbeda-beda," tutur Daniel.

Sayangnya, rombongan tak sampai ke Pasar Tekka, salah satu pasar terbesar dan tertua di kawasan tersebut. Saat ini, Pasar Tekka sedang dalam tahap renovasi. Di papan pengumuman tertulis target pekerjaan renovasi rampung Agustus mendatang.

Pasar Tekka adalah pasar tradisional tertua dan salah satu pasar yang terbesar di Little India, Singapura, Sabtu (15/7/2017). Saat foto ini diambil, pasar Tekka tengah dalam proses renovasi.KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Pasar Tekka adalah pasar tradisional tertua dan salah satu pasar yang terbesar di Little India, Singapura, Sabtu (15/7/2017). Saat foto ini diambil, pasar Tekka tengah dalam proses renovasi.

Tetapi KompasTravel menyempatkan mampir ke deretan ruko-ruko persis di sebelah pasar keesokan harinya, bersama Alex selaku External Relation Hilton Garden Inn Serangoon yang menemani media.

Deretan ruko sebelah Pasar Tekka ini menyuguhkan berbagai jenis barang kebutuhan sehari-hari. Mulai dari personal care, pakaian seperti kain sari dan syal, bahkan toko alat-alat listrik dan pulsa.

Harga barangnya pun cukup terjangkau. Syal berukuran panjang yang biasanya digunakan oleh para wanita India dijual dari harga 5 dollar Singapura (Rp 48.750) dan 8 dollar Singapura (Rp 78.000).

Puas melihat-lihat, berfoto ria dan berbelanja, saatnya untuk isi perut. Tak perlu khawatir, banyak tempat makan dan restoran di kawasan Little India. Salah satu yang tersohor yaitu Komala Vilas, restoran India tertua yang didirikan sejak tahun 1947.

Banyak tokoh penting yang pernah menyantap lezatnya briyani, dosai, chappathi, bhattura, dan teh masala di sini. Cherie, teman Alex yang ikut menemani KompasTravel jalan-jalan mengatakan bahwa dua tahun lalu Perdana Menteri India Narendra Modi juga pernah icip-icip makanan di Komala Vilas.

Waktu itu Modi dijamu oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong beserta istri Ho Cing. Soal harga, restoran ini menyediakan berbagai jenis minuman khas India, seperti Masala Tea dengan harga 1,8 dollar Singapura (Rp 17.550), juga Badham dan Lassi 3 dollar Singapura (Rp 29.250).

Jangan khawatir jika rasanya tak cocok di lidah. Di sini juga dijual eh teh, es kopi, dan Milo dengan kisaran harga 1,5 - 2 dollar Singapura (Rp 14.625 - Rp 19.500).

Masala dosai merupakan salah satu jenis dosai yang disediakan di rumah makan atau restoran India, Little India, Singapura, Sabtu (16/7/2017). Di dalam roti tipis semacam crepes raksasa itu terdapat kentang tumbuk yang rasanya mirip perkedel. Makannya dengan kari.  KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Masala dosai merupakan salah satu jenis dosai yang disediakan di rumah makan atau restoran India, Little India, Singapura, Sabtu (16/7/2017). Di dalam roti tipis semacam crepes raksasa itu terdapat kentang tumbuk yang rasanya mirip perkedel. Makannya dengan kari.

Untuk makanan besarnya seperti briyani, dosai, chappathi, bhattura, pengunjung cukup merogoh kocek antara 5,5 - 9 dollar Singapura atau sekitar Rp 53.625 sampai Rp 87.750. Bagaimana, menarik kan jalan-jalan di Little India? Selamat menjelajah.

PenulisEstu Suryowati
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM