Mau Nonton Lomba Pacuan Kuda di Pinggir Pantai? Kunjungi Pulau Timor - Kompas.com

Mau Nonton Lomba Pacuan Kuda di Pinggir Pantai? Kunjungi Pulau Timor

Kontributor Kupang, Sigiranus Marutho Bere
Kompas.com - 07/08/2017, 16:14 WIB
Dua ekor kuda yang sedang berpacu dalam lomba pacuan kuda memperebutkan Bupati Timor Tengah Utara Cup di Pantai Tanjung Bastian, Minggu (6/8/2017).KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BERE Dua ekor kuda yang sedang berpacu dalam lomba pacuan kuda memperebutkan Bupati Timor Tengah Utara Cup di Pantai Tanjung Bastian, Minggu (6/8/2017).

KEFAMENANU, KOMPAS.com - Teriakan ratusan penonton siang itu dari tribun maupun dari pinggir arena memotivasi para joki memacu sejumlah kuda untuk saling mendahului mencapai garis finish.

Meski udara terasa panas, namun tak menyurutkan semangat penonton untuk berteriak memanggil nama kuda yang menjadi jagoan penonton masing-masing. Sebut saja ada enam kuda yang berlomba di Klas A Sprint dengan jarak 1.600 meter seperti Alcatras, Berlian, Strong, Pokemon, Inisial D dan Nato Ranger.

Para joki yang sudah terbiasa menunggangi kuda terus bersemangat dan sesekali nyaris terjatuh, tapi akhirnya menuntaskan perlombaan sejauh satu putaran arena sepanjang lebih dari 900 meter itu.

Dengan latar belakang arena pacuan kuda yang berada persis di Pantai Tanjung Bastian, Kelurahan Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur ( NTT), membuat suasana kegiatan pacuan kuda Bupati TTU Cup VIII semakin semarak nan eksotis.

Menonton pacuan kuda yang berada di pantai utara kabupaten yang berbatasan dengan Distrik Oekusi, Timor Leste sudah berlangsung sejak Rabu (2/8/2017) dan ditutup pada Minggu (6/8/2017), memang terasa lengkap karena pemandangan pantai dan gunung batu di belakang arena.

Kondisi arena pacuan kuda yang berbentuk lingkaran masih dibilang tradisional karena pagar keliling arena masih terbuat dari belahan papan berukuran sedang dan diikat menggunakan tali plastik.

Walaupun begitu, antusiasme penonton tetap tinggi. Ada yang hanya berdiri dan berteriak dari dalam tribun, ada pula penonton yang nekat berdiri persis di pinggir arena dan terus memberikan semangat kepada para joki.

Selain menikmati balapan kuda, penonton juga bisa bisa menikmati pantai yang masih asli dengan panorama alam pantai, jurang karang, pasir putih, pepohonan bakau yang dihuni kelelawar dan kawanan kera dengan latar belakang Gunung Kolboki dan Bastian.

Menariknya, para pengunjung bukan hanya menonton dari tribun dan pinggir arena, tapi juga diberi kebebasan untuk menonton pacuan kuda dari berbagai sudut pandang yang dianggap menarik dan nyaman.

Lomba pacuan kuda di Pantai Tanjung Bastian, Kelurahan Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung sejak Rabu (2/8/2017) dan ditutup Minggu (6/8/2017).KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BERE Lomba pacuan kuda di Pantai Tanjung Bastian, Kelurahan Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung sejak Rabu (2/8/2017) dan ditutup Minggu (6/8/2017).
Bila menonton dari pantai terbuka, maka latar belakang pemandangannya adalah deretan gunung terjal yang cantik. Sementara itu, pilihan lainnya yang tak kalah menarik yaitu, penonton bisa menikmati atraksi kuda pacu dari kejauhan, yakni berada di atas Gunung Bastian.

Tidak sulit menjangkau puncak gunung itu, karena telah tersedia anak tangga yang telah dibangun secara permanen oleh pemerintah setempat.

Pantai Tanjung Bastian sendiri berjarak sekitar 67 kilometer dari kota Kefamenanu (ibu Kota Kabupaten TTU) dan dapat ditempuh kurang lebih satu jam setengah jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum, pedesaan, rental maupun ojek.

Arena pacuan kuda itu pun sangat strategis, karena berada persis di jalur perlintasan kendaraan asal Timor Leste, baik dari Distrik Oekusi menuju Dili (ibu kota negara Timor Leste) maupun sebaliknya.

Karena itu, para penonton yang hadir untuk menyaksikan pacuan kuda, bukan hanya warga setempat, tetapi juga berasal dari negara Timor Leste. Para peserta lomba pun berasal dari Kabupaten Belu, TTU, TTS, Kupang, Ngada serta Timor Leste.

Klas yang diperlombakan yakni Klas A jarak lari 1.400 meter, Klas A Sprint 1.600 meter, Klas C 600 meter, Klas lokal B 800 meter dan klas D 800 meter.

Bupati TTU Raymundus Sau Fernandez yang juga merupakan penggemar berat olahraga berkuda itu mengatakan, pacuan kuda di pinggir pantai Tanjung Bastian ini merupakan kegiatan tetap yang digelar setiap tahun dan sudah memasuki tahun yang ke-14.

“Ini adalah olahraga rakyat tradisional dan sudah berlangsung turun-temurun sehingga pemerintah daerah telah jadikan ini sebagai agenda tetap sekaligus untuk mempromosikan Wini sebagai salah satu destinasi wisata dan juga dalam menyambut Sail Indonesia,” kata Raymundus di Kefamenanu, Minggu (6/8/2017).

Raymundus menjelaskan pacuan kuda di Tanjung Bastian ini sangat unik karena selain joki yang menunggangi kuda tidak menggunakan pelana, lokasi arena pacuan kuda berada di pinggir pantai dan di bawah gunung batu.

Lomba pacuan kuda di Pantai Tanjung Bastian, Kelurahan Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung sejak Rabu (2/8/2017) dan ditutup Minggu (6/8/2017).KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BERE Lomba pacuan kuda di Pantai Tanjung Bastian, Kelurahan Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung sejak Rabu (2/8/2017) dan ditutup Minggu (6/8/2017).
Menurut Raymundus, arena pacuan kuda di pantai hanya ada di Tanjung Bastian. Sedangkan di tempat lain seperti Australia, Selandia Baru, Makau dan Singapura, arenanya tidak berada di pinggir pantai.

Ke depan, lanjut Bupati TTU dua periode itu, arena pacuan kuda akan ditata lebih baik lagi, terutama soal infrastruktur pendukung dan panjang arena, sehingga akan lebih bagus lagi dari yang sekarang.

Dia berharap, melalui pacuan kuda, semua pihak baik itu petani, peternak dan pegiat ekonomi bisa mengambil peran dan memaksimalkan momentum untuk kepentingan kesejahteraan semua masyarakat.

PenulisKontributor Kupang, Sigiranus Marutho Bere
EditorI Made Asdhiana
Komentar