Menikmati Mi Udang Dek Muksin di Lhokseumawe - Kompas.com

Menikmati Mi Udang Dek Muksin di Lhokseumawe

Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Kompas.com - 09/08/2017, 10:28 WIB
Muksin, sedang membuat mi udang di Taufik Kupi 2, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (8/8/2017).KOMPAS.COM/MASRIADI Muksin, sedang membuat mi udang di Taufik Kupi 2, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (8/8/2017).

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Tangan Muksin (18) lincah bergoyang-goyang memegang sendok, mengaduk-ngaduk bumbu mi di atas kuali. Bahkan, badan laki-laki bertubuh mungil ini pun turut berguncang.

Sesekali dia memasukkan sayuran seperti seledri dan lainnya. Lalu memasukkan irisan bawang, cabai rawit dan tomat ke dalam belanga yang telah mendidih. Itulah kegiatan Muksin, di sudut warung Taufik Kupi 2, Kota Lhokseumawe, Aceh Selasa (8/8/2017).

(BACA: Asamnya Rusip, Kuliner Khas Bangka dari Fermentasi Ikan Bilis)

Muksin saban hari berjualan mi di warung itu. Raknya berada di pojokan, persis berhadapan dengan Jalan Putro Makhdum Tukia Dara.

Meski berbadan langsing, namun kelincahan Muksin mengaduk mi tak diragukan. Racikannya spesial mi udang.

(BACA: Gado-gado Ayam Hj Tarkanci, Kuliner Cirebon yang Bikin Ketagihan)

Meski menjual mi lainnya, seperti mi aceh dan mi tirom (tiram) namun Muksin lebih dikenal dengan rasa mi udangnya yang tersohor itu.

“Kalau udang saya milih udang yang tak terlalu besar. Agar lebih nikmat. Bumbunya merasuk ke tubuh udangnya dalam waktu singkat,” kata Muksin.

Pengunjung sedang menikmati mi udang di Taufik Kupi 2, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (8/8/2017).KOMPAS.COM/MASRIADI Pengunjung sedang menikmati mi udang di Taufik Kupi 2, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (8/8/2017).
Dia menyebutkan, dalam sehari biasa membuat enam kilogram mi Aceh. Masyarakat lokal sering juga menyebutnya mi kilo. “Minya saya pesan di pasar. Bumbu juga begitu, saya punya langganan di pasar,” katanya.

Soal cara memasak, Muksin memilih membalur minyak goreng dengan bumbu, layaknya seperti ditumis. Setelah itu, dia memasukkan cabai, bawang dan tomat plus udang sekaligus. Sehingga bumbu itu meresap ke udang saat matang. Barulah ditambah air putih secukupnya.

Ketika air mendidih, dia memasukkan sayuran seperti seledri, dan aneka sayuran lainnya. “Biar jangan terlalu lembek sayurannya. Jadi dimasukkan belakangan," kata Muksin.

Setelah itu, barulah Muksin "mencabik-cabik" gelungan mi dan mengaduknya bersama bumbu di kuali. Untuk satu porsi, cukup segenggam mi. “Kalau kira-kira sudah matang, barulah diangkat,” katanya.

Saat ditanya kenapa tak menyiapkan acar cabai plus bawang pendamping mi udang? Muksin menjawab dirinya sengaja memilih tanpa acar. “Kalau bumbunya sudah pas, buat apa acar lagi. Acar itu kan alternatif kalau bumbu tidak pas,” katanya.

Muksin menyiapkan mi udang di Taufik Kupi 2, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (8/8/2017).KOMPAS.COM/MASRIADI Muksin menyiapkan mi udang di Taufik Kupi 2, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (8/8/2017).
Nah, Muksin juga mampu menyesuaikan selera pelanggan. Kadar pedasnya disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

“Saya taksir saja, kalau dibilang agak pedas, berarti cukup tiga cabai rawit,” katanya tertawa.

Nah, jika ingin menikmati gurihnya mi udang buatan Dek Muksin, silakan memesannya di Taufik Kupi 2. Di sana, Muksin setia menunggu pelanggan dari pukul 12.00 – 24.00 WIB.

PenulisKontributor Lhokseumawe, Masriadi
EditorI Made Asdhiana
Komentar