Sambut HUT RI, 1.516 Bendera Berkibar di Goa Ngingrong Yogyakarta - Kompas.com

Sambut HUT RI, 1.516 Bendera Berkibar di Goa Ngingrong Yogyakarta

Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 10/08/2017, 18:03 WIB
Sebanyak1516 Bendera Merah Putih Dikibarkan di Goa Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul Kamis (10/8/2017)KOMPAS.com/Markus Yuwono Sebanyak1516 Bendera Merah Putih Dikibarkan di Goa Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul Kamis (10/8/2017)

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia, dilakukan pengibaran sebanyak 1.516 buah di Geosite Goa Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta.

Goa Ngingrong adalah salah satu geosite dari 33 lokasi geosite yang ada di Gunungsewu Global Geopark Network (GGN). Kawasan ini terletak memanjang di Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan dengan luas lebih kurang 1.802 km2. Adapun geosite untuk Gunungkidul sebanyak 13 lokasi, Pacitan sebanyak 13 lokasi, dan Wonogiri sebanyak 7 lokasi.

Lembah Ngingrong sejak Kamis (10/8/2017) pagi sudah dipasangi ribuan bendera. Pelaksanaan simbolis dilakukan dengan menarik bendera sebesar 9 x 6 meter menggunakan flying fox.

Meski sempat gagal karena tertiup angin, bendera tersebut berhasil terpasang di salah satu titik tebing dengan tema 1.000 bendera di Goa Ngingrong, yang mewakili nama Gunungsewu atau gunung seribu. Bendera dipasang mulai dari pintu masuk, lereng, hingga lembah.

"Total ada 1.516 bendera. Sebenarnya kita menyiapkan sekitar 1.000, tetapi sumbangan dari komunitas sangat luar biasa," kata Sekretaris Geopark Gunungsewu, Hary Sukmono, Kamis (10/8/2017).

Dia menilai acara ini bisa digunakan untuk menumbuhkan semangat cinta Tanah Air terutama bagi kalangan muda. Ini juga merupakan gerakan awal untuk menumbuhkan semangat membangun Gunungsewu untuk kesejahteraan masyarakat tanpa merusak alam. Sesuai dengan tujuan geopark yakni konservasi, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

General Manager Geopark Gunungsewu, Budi Martono menyampaikan kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme kalangan muda. Dipilihnya Goa Ngingrong karena dari survei geosite, goa ini merupakan wilayah yang memiliki cakupan luas untuk diadakan pengibaran bendera yang berjumlah lebih dari 1.000 ini.

"Ngingrong akan kita angkat seperti pengelolaan di Nglanggeran (Gunung Api Purba) yang melibatkan seluruh warga. Nantinya tidak hanya di sini tetapi semua geosite," tuturnya.

Pengelolaan Gunungsewu sebagai Contoh bagi Indonesia

Kepala Pusat Survei Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, menyampaikan pengelolaan geopark Gunungsewu bisa dijadikan contoh pengelolaan geologi di Indonesia. Kesuksesan ini bisa dilihat dari meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) sehingga menumbuhkan kesejahteraan masyarakat.

"Gunungsewu UNESCO Global Geopark menjadi salah satu contoh sukses pengembangan wisata berbasis geologi di Indonesia," katanya.

Badan geologi saat ini tengah membangun sistem manajemen geoheritage yang memberikan pedoman di seluruh indonesia dalam mengelola warisan geologi.

"Harus dijaga peran pemerintah dan masyarakat menjadi kunci," ucapnya.

Penasehat geopark Hanang Samodra mengatakan awalnya Gunungsewu terutama di Gunungkidul sering disebut wilayah kering karena bentang karst. Padahal banyak air di bawah tanah, mengalir sungai bawah tanah melalui sistem goa.

"Saat ini sudah berbalik 180 derajat," katanya.

Keindahan bentang alam karst dikenal didunia sejak tahun 1980-an. Bahkan Franz Wilhelm Junghuhn, seorang naturalis, pada awal tahun 1864 pernah menggambar bentang alam karst dengan perbukitan dan monyet ekor panjang.

Pihak geopark sebenarnya sudah sejak tahun 1986 mengusulkan Geopark Gunungsewu ke UNESCO sebagai warisan dunia, namun baru tahun 2015 bisa terealisasi.

Geopark Gunungsewu kini sudah masuk dalam Global Geopark Network (GGN) di konferensi Asia Pasific Global Network di Sanin, Kaigan, Jepang pada Sabtu (19/9/2015) oleh UNESCO. Gunungsewu masuk daftar bersama 120 geopark lainnya dari 33 negara.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar