Enam Hari Membelah Flores dengan Sepeda - Kompas.com

Enam Hari Membelah Flores dengan Sepeda

Sandro Gatra
Kompas.com - 11/08/2017, 06:12 WIB
Peserta Jelajah Sepeda Flores -Timor yang diadakan harian Kompas melintasi kawasan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (13/8/2016). Etape pertama Labuan Bajo-Ruteng menempuh jarak sejauh 135 kilometer.KOMPAS / TOTOK WIJAYANTO Peserta Jelajah Sepeda Flores -Timor yang diadakan harian Kompas melintasi kawasan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (13/8/2016). Etape pertama Labuan Bajo-Ruteng menempuh jarak sejauh 135 kilometer.

LABUAN BAJO, KOMPAS.com - Berwisata, promosi wisata sekaligus mengkritik. Begitu kira-kira gambaran Jelajah Sepeda Flores yang akan digelar Harian Kompas.

Selama enam hari mulai Sabtu (12/8/2017) hingga Kamis (17/8/2017), para pesepeda akan menjelajah dari Maumere hingga Labuan Bajo.

Total ada 50 pesepeda. Namun, tidak semuanya ikut seluruh rute dengan enam etape. Sebagian peserta akan memulai gowes di tengah jelajah.

Penulis menjadi salah satu peserta sekaligus peliput jelajah. Berbagai kisah selama jelajah akan ditulis dalam rangkaian berita.

(BACA: Menari Ndundu Ndake Bersama Perempuan Flores)

Ketua Kompas Jelajah Sepeda Jannes Eudes Wawa mengatakan, sebenarnya Kompas sudah menggelar jelajah sepeda di Flores pada 2016.  

Saat itu, rute yang diambil dari Labuan Bajo menuju Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tahun ini, Kompas memilih jalur sebaliknya sejauh sekitar 700 KM. Rute yang dipilih adalah:

- Etape I: Maumere-Kelimutu (107 KM)
- Etape II: Kelimutu-Riung (177 KM)
- Etape III: Riung-Bajawa (72 KM)
- Etape IV: Bajawa-Ruteng (148 KM)
- Etape V: Ruteng-Wae Rebo (85 KM)
- Etape VI: Wae Rebo-Labuan Bajo (111 KM).

Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Selasa (2/6/2015).KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Selasa (2/6/2015).
Jannes mengatakan, pihaknya konsisten menggelar wisata bersepeda sejak 2008. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan nusantara melalui bersepeda.

(BACA: Menari Ndundu Ndake Bersama Perempuan Flores)

Para peserta bukan atlet sepeda. Mereka adalah pekerja profesional dari beragam profesi.

"Kami mencoba memperkenalkan kepada mereka nusantara yang memiliki tradisi dan panorama indah," kata Jannes.

Jannes menambahkan, Flores dalam beberapa tahun terakhir menjadi tujuan wisata nasional, bahkan turis asing.

Pihaknya berharap jelajah sepeda ini bisa membantu promosi wisata di Flores.

"Peserta akan kamping di punggung Kelimutu. Paginya melihat matahari terbit. Lalu kamping lagi di Pulau Rutong, sekitar 20 menit dengan perahu motor dari Riung. Dan menginap semalam di Kampung Adat Wae Rebo," kata Jannes.

"Pada 17 Agustus pagi, peserta akan merayakan HUT ke-72 kemerdekaan RI di Wae Rebo," tambah dia.

Penduduk Desa Wae Rebo berada di barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. BARRY KUSUMA Penduduk Desa Wae Rebo berada di barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Kritik

Jannes menambahkan, selain berwisata, maksud jelajah sepeda kali ini juga untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Jalanan di sebagian rute masih banyak yang rusak. Jalanan mulus hanya pada jalur utama. Padahal, kata Jannes, potensi wisata di daerah sekitar jalan utama sangat besar.

"Dari Kelimutu ke Riung jalan tidak mulus, banyak yang rusak. Padahal potensi di Riung luar biasa. Kami angkat lalu lintas utara Flores yang terabaikan," kata Jannes.

"Wae Rebo sudah mendunia, tapi jalannya jeleknya minta ampun. Ini ironi. Pemerintah begitu getolnya bicara promosi, tapi jalan tidak dibetulkan," tambah dia.

Jannes mengatakan, pihaknya mengingatkan pemerintah pusat dan daerah agar lebih peduli terhadap infrastruktur jika menganggap Flores memiliki potensi pariwisata yang besar.

"Pariwisata tidak akan berkembang kalau tidak didukung infrastruktur," kata Jannes.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisSandro Gatra
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Terkini Lainnya

3 Oleh-oleh Kue Unik dari Tokyo

3 Oleh-oleh Kue Unik dari Tokyo

Jepang Terkini
Ini Dia 10 Kota Hijau Terbaik di Dunia

Ini Dia 10 Kota Hijau Terbaik di Dunia

Travel Story
Mengapa Jarang Hotel yang Punya Lantai 13?

Mengapa Jarang Hotel yang Punya Lantai 13?

Hotel Story
Berfoto Bersama Raja Salman dan Jokowi di Kebumen, Mau?

Berfoto Bersama Raja Salman dan Jokowi di Kebumen, Mau?

Travel Story
Daftar Negara Penyumbang Wisman Incaran Indonesia Tahun 2018

Daftar Negara Penyumbang Wisman Incaran Indonesia Tahun 2018

News
Upaya Pemerintah Tangkal Hoaks Gunung Agung

Upaya Pemerintah Tangkal Hoaks Gunung Agung

News
Target Datangkan 15 Juta Wisman Tahun Ini, Berapa yang Sudah Dicapai?

Target Datangkan 15 Juta Wisman Tahun Ini, Berapa yang Sudah Dicapai?

News
Apa Itu Pokdarwis?

Apa Itu Pokdarwis?

News
Meski Dibilang Aman, Terjadi Pembatalan 60.000 Kamar Hotel di Bali

Meski Dibilang Aman, Terjadi Pembatalan 60.000 Kamar Hotel di Bali

News
20 Kota Terbaik di Dunia untuk Wisata Belanja

20 Kota Terbaik di Dunia untuk Wisata Belanja

News
Sriwijaya dan NAM Air Permudah Wisatawan ke Raja Ampat

Sriwijaya dan NAM Air Permudah Wisatawan ke Raja Ampat

News
Nasi Penggel, Kuliner Khas Kebumen yang Hanya Ada di Pagi Hari

Nasi Penggel, Kuliner Khas Kebumen yang Hanya Ada di Pagi Hari

Food Story
Pantai Nglolang, Mirip Pantai Pribadi...

Pantai Nglolang, Mirip Pantai Pribadi...

Travel Story
Yuk Cicipi Burger Mesrah Pendopo di Aceh

Yuk Cicipi Burger Mesrah Pendopo di Aceh

Food Story
Ini Petunjuk Wisata Halal Ramah Muslim di Taiwan

Ini Petunjuk Wisata Halal Ramah Muslim di Taiwan

Travel Tips

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM