Bubur Lemu yang Eksis Sebelum Indonesia Merdeka - Kompas.com

Bubur Lemu yang Eksis Sebelum Indonesia Merdeka

Silvita Agmasari
Kompas.com - 11/08/2017, 19:03 WIB
Festival Jenang Solo 2016 digelar 14-17 Februari di koridor Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah.KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA Festival Jenang Solo 2016 digelar 14-17 Februari di koridor Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bubur atau disebut juga jenang oleh masyarakat Jawa nyatanya sudah ada sebelum Indonesia berdiri. Bubur adalah hidangan asli Nusantara yang tercatat pada Serat Lubdaka karangan Mpu Tanakung di zaman Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12, dan pada buku Serat Centhini (1814-1823).

"Tersurat bukti bahwa jenang telah ada dan berjejalan dengan tradisi ritual setempat
selama ratusan tahun. Kalau ditarik mundur lagi, jenang ( bubur) lemu misalnya, sebagai bentuk cara memasak (dijenang atau dibubur) bahan makanan, kemungkinan besar sudah hadir sejak manusia klasik mengenal piranti memasak," tulis Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko saat dihubungi KompasTravel, Jumat (11/8/2017).

Dalam Serat Lubdaka misalnya, ada beberapa jenis bubur yang disebut. Antara lain bubur susu (santan), bubur gula, dan nasi liwet dicampur kemudian diberi lauk katak hijau.

Asumsi bubur sudah ada sejak zaman lampau menguat karena bubur kental berbahan tepung atau pati sudah menjadi konsumsi manusia dari bayi, dan baik bagi orang yang mengalami gangguan pencernaan.

BACA: Filosofi Bubur Lemu yang Dihidangkan Gibran kepada Agus Yudhoyono

Sedangkan pada Serat Centhini, bubur atau jenang disebut ditemukan di bumi Mataram. Bubur ditemui pada sesaji, pesta atau hajatan, penjaja makanan di acara pentas wayang, hingga saat sarapan.

Serat Centhini juga memuat lebih banyak jenis bubur atau jenang. Mulai dari jenang blowok bang biru ijem pethak cemeng myang kuning, jenang lemu sanga, jenang katul, jenang abang, jenang baro-baro, jenang putih, jenang cocoh bang pethak, hingga aneka jenang yang diolah dengan buah.

"Pembuatan jenang dimakan guna menambah kekuatan, kesehatan, dan mengembalikan tubuh prima. Tak berlebihan jika jenang sumsum ditempatkan sebagai hidangan purna kerja untuk mengembalikan kekuatan bagi orang yang bekerja. Sementara jenang untuk sesaji merupakan sarana permohonan keselamatan bagi manusia dan pernyataan syukur kepada Tuhan," jelas Heri.

Heri sendiri menyatakan jika jenang atau bubur se-Nusantara patut dilestarikan. Sebab jenang yang sejatinya makanan asli Nusantara mencakup seluruh aspek, mulai dari historis, antropologi, fisiologis, biologis, dan sosiologi.

Salah satu daerah yang kini berusaha melestarikan jenang adalah Solo, yang setiap tahun rutin menyelenggarakan Festival Jenang.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisSilvita Agmasari
EditorSri Anindiati Nursastri

Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM