Gunung Agung di Mata Pendaki Indonesia - Kompas.com

Gunung Agung di Mata Pendaki Indonesia

Wahyu Adityo Prodjo, Sri Anindiati Nursastri
Kompas.com - 28/09/2017, 22:04 WIB
Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas menuruni puncak Gunung Agung (3.142 mdpl), Bali, Kamis (6/10/2011). Gunung stratovolcano ini terakhir meletus dahsyat 1963 menelan korban jiwa 1.148 orang.  KOMPAS.COM/FIKRIA HIDAYAT Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas menuruni puncak Gunung Agung (3.142 mdpl), Bali, Kamis (6/10/2011). Gunung stratovolcano ini terakhir meletus dahsyat 1963 menelan korban jiwa 1.148 orang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gunung Agung di Bali memang tidak temasuk tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Meski begitu, jalur pendakiannya tak bisa dipandang sebelah mata.

Di mata para pendaki Indonesia, Gunung Agung punya keunikan dan kisah tersendiri.

"Saya naik lewat Pura Pasar Agung. Jalurnya setelah melewati jalur hutan cukup 'edan'. Bebatuan terjal, unreal, dan bikin kaki pegal. Apalagi kalau dari Pura Pasar Agung, jalur ke puncak harus melipir punggungan (gunung)," tutur Meizal Rossi, salah seorang yang baru-baru ini mendaki Gunung Agung, kepada KompasTravel.

Untuk pendakian "tektok" alias tanpa kemping, Gunung Agung rupanya cukup menguras tenaga. Meizal menyebutkan bahwa di gunung tersebut tidak ada sumber air. 

"Secara karakter kalderanya mirip dengan Gunung Ciremai (Kuningan, Jawa Barat)," tambahnya.

BACA: Bila Gunung Agung Erupsi, Kota Denpasar Jadi Tempat Evakuasi Wisatawan

Pendaki lain, Iwan Setiawan mengatakan bahwa hutan di Gunung Agung masih cukup rapat dan selalu diselimuti kabut pada siang hingga sore hari.

"Kalau lewat jalur Pura Agung Besakih, jalurnya nanjak terus. Kelihatan kan dari foto udara. Kawasan puncaknya tidak ada vegetasi, dominan pasir dan batu. Jalan setapak menanjak dengan beberapa puncak tipuan sebelum sampai puncak tertinggi di bibir kawah," papar Iwan yang melakukan pendakian saat Ekspedisi Cincin Api Kompas kepada KompasTravel.

Gunung Agung merupakan gunung yang paling disakralkan oleh umat Hindu di Bali. Tak heran, gunung ini dipenuhi aura mistis serta punya banyak aturan adat yang wajib dipatuhi.

Polisi dan warga memantau aktifitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Jumat (15/9). Sejak Kamis (14/9), status Gunung Agung dinaikkan menjadi level waspada menyusul peningkatan aktifitas gunung tersebut sejak bulan Agustus namun hingga kini masih dinyatakan aman. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana Polisi dan warga memantau aktifitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Jumat (15/9). Sejak Kamis (14/9), status Gunung Agung dinaikkan menjadi level waspada menyusul peningkatan aktifitas gunung tersebut sejak bulan Agustus namun hingga kini masih dinyatakan aman.

Pada 2009, tim Kartini Petualang pernah mendaki Gunung Agung dari Pura Pasar Agung. Sehari sebelumnya, dilakukan upacara kecil untuk memohon izin dan keselamatan pendakian oleh pedanda (pemuka agama Hindu) di sana.

"Kami duduk tertib di lantai pelataran pura, dan pedanda berada di depan menghadap kami. Lalu doa-doa dia ucapkan, dan sesudahnya diangsurkan asap dari lidi dupa yang menyala selama ritual tersebut," tutur YTA Gultom, anggota Kartini Petualang kepada KompasTravel.

Kemudian, lanjutnya, air dari bokor dengan bunga-bunga dipercikkan ke kami. Ritual ini tidak boleh diikuti oleh perempuan yang sedang haid.

"Setelah itu kami membasuh wajah dengan air yang ada di bokor kami masing-masing," lanjut YTA Gultom.

BACA: Tahun 2016, Sekitar 800 Wisatawan Daki Gunung Agung

Meski dikenal cukup menantang dan kental oleh kesan mistis, Gunung Agung tetap menyisakan pengalaman menyenangkan bagi para pendaki.

"Seru, selalu punya perasaan haru dan senang setelah mendaki titik tertinggi sebuah pulau," tutur Meizal.

Pendaki lainnya, Ni Putu Velda Saraswati, mengungkapkan rasa bahagianya saat melihat kawah Gunung Agung. 

"Bersyukur banget bisa lihat kawahnya waktu itu. Lihat keliling Bali, Gunung Abang, Gunung Batur. Bisa lihat sunrise, lihat awan-awan. Bersyukur juga bisa bisa sembahyang di puncak gunungnya, walau anginnya sangat kencang," tutur pendaki beragama Hindu itu.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisWahyu Adityo Prodjo, Sri Anindiati Nursastri
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM