Cerita di Balik Sate Kere, Hidangan Pernikahan Kahiyang-Bobby - Kompas.com

Cerita di Balik Sate Kere, Hidangan Pernikahan Kahiyang-Bobby

Muhammad Irzal Adiakurnia
Kompas.com - 06/11/2017, 21:30 WIB
Hidangan Sate Kere, di Jalan Goden km 7, Dusun Gesikan, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Goden, Kabupaten Sleman. Tribun Jogja/Hamim Thohari Hidangan Sate Kere, di Jalan Goden km 7, Dusun Gesikan, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Goden, Kabupaten Sleman.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dari jejeran kuliner khas Solo, salah satu yang jadi pusat perhatian ialah sate kere. Kuliner yang telah ada sejak zaman penjajahan ini digadang-gadang jadi salah satu hidangan dalam perayaan resepsi Kahiyang, 8 November nanti.

Saat kemunculannya sejak zaman kolonial, sate kere jadi pilihan sate untuk masyarakat Indonesia. Di saat para bangsa kolonial memakan sate dengan bahan dasar daging, masyarakat Indonesia makan sate kere yang terbuat dari tempe gembus.

Bahan yang digunakan adalah tempe, tempe gembus (terbuat dari ampas pembuatan tahu), tetapi disatukan dengan beberapa jeroan. Meski dibuat dari bahan yang sederhana, tetapi jangan remehkan rasanya.

(Baca juga : Cerita Penjual Sate Kere Langganan Jokowi di Solo )

Salah satu sate kere yang mahsyur di Solo ialah Sate Kere Mbak Tug. Sate kere di sini terkenal empuk dan bumbunya menyerap sempurna. Tak heran Sate Kere Mbak Tug ini jadi salah satu langganan Presiden Jokowi.

Untuk menghidangkan sate ini, tempe gembus dan jeroan yang sudah disatukan direndam dengan campuran bumbu rempah khas. Sehingga seluruh bumbu terasap sempurna sebelum dibakar.

Sate kere Mbak Tug, langganan Presiden Joko Widodo di kampung halamannya. KOMPAS.com/ Lulu Cinantya Mahendra Sate kere Mbak Tug, langganan Presiden Joko Widodo di kampung halamannya.
Setelah itu, barulah dibakar diatas arang, seperti sate pada umumnya. Kemudian disiram dengan bumbu kacang, menyerupai bumbu pecel, tetapi lebih kental.

Alhasil, citarasa yang dihasilkan ialah gurih, manis, asam, dan wangi dari daun jeruk yang ada di bumbu kacang buatan Tugiyem.

"Sate kere ini konon sudah ada sejak zaman Pasar Klewer berdiri. Kata orang dulu, sate kere ini jualnya pakai gendongan. Di atas kepala ditaruh arang bakaran. Kalau angin sedang kencang apinya nyala, jadi kadang orang kira itu kebakaran," jelas suami Tugiyem, Marimin (58) yang ditemui KompasTravel di tempatnya berjualan, Minggu (3/9/2017).

(Baca juga : Sate Kere di Rumah Presiden... )

Pemilik restoran Dapur Solo, Swandani bercerita pada zaman penjajahan tersebut, akhirnya masyarakat Solo pintar mengolah limbah makanan. Kondisi serba sulit di zaman penjajahan sebelum merdeka tak membuat masyarakat Indonesia kehabisan akal.

"Contohnya sate kere, sate kere itu pakai usus, jeroan, dan tempe gambus, tempe yang dari ampas kedelai," kata Swandani.

Diolah dengan bumbu yang tepat, ternyata sate kere ini memiliki rasa dan tekstur yang menyerupai daging. "Dulu sate ini disebut sate kere karena yang makan kere-kere (miskin). Tetapi sekarang semua, mau kaya atau miskin suka makan sate kere," kata Swandani.

PenulisMuhammad Irzal Adiakurnia
EditorWahyu Adityo Prodjo
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM