Ritual Haroana Andala di Baubau, Tradisi Memberikan Sesajen di Laut - Kompas.com

Ritual Haroana Andala di Baubau, Tradisi Memberikan Sesajen di Laut

Kontributor Baubau, Defriatno Neke
Kompas.com - 05/12/2017, 09:31 WIB
Tradisi Ritual Haroana Andala yang dilaksanakan masyarakat nelayan Kelurahan Bone-bone, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Senin (4/12/2017).KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE Tradisi Ritual Haroana Andala yang dilaksanakan masyarakat nelayan Kelurahan Bone-bone, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Senin (4/12/2017).

BAUBAU, KOMPAS.com – Kumpulan asap putih tiba-tiba keluar dari bara api kecil yang terdapat di dalam dupa. Seorang tokoh adat terlihat membaca doa dan sekali-kali tangannya memasukkan suatu benda di atas bara api hingga mengeluarkan asap.

Usai membaca doa, beberapa pemuda mengangkat bahtera atau rakit kecil yang terbuat dari beberapa batang bambu dengan ukuran sekitar tiga meter.

Rakit tersebut kemudian diangkat ke atas dua buah perahu kecil dan langsung dibawa ke tengah lautan.

(Baca juga : Tuturangiana Andala, Tradisi Sedekah Laut Masyarakat Pulau Makasar)

Beberapa kapal ikan milik masyarakat nelayan Kelurahan Bone-bone, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, mengikuti dari belakang dua buah perahu kecil yang membawa rakit bahtera tersebut. Itulah ritual Haroana Andala.

Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun, sejak generasi pertama di masyarakat sini,” kata seorang Tokoh Adat, Muslim Mumin, Senin (4/12/2017).

(Baca juga : Buang Jung, Tradisi Melestarikan Laut Masyarakat Bangka Selatan)

Di dalam rakit bahtera tersebut terdapat berbagai macam makanan mulai dari nasi pulut, beberapa batang rokok, ikan bakar, beberapa macam kue tradisional, dan dua ekor ayam yakni ayam jantan dan ayam betina.

Rakit tersebut kemudian dibawa ke tengah lautan diikuti masyarakat nelayan dengan menggunakan kapal ikan. Setelah tiba di tengah lautan, rakit bahtera berisi sesajen tersebut kemudian diangkat dan disimpan di atas lautan.

“Bahtera ini diberikan ke laut dan meminta rezeki sehingga penghasilan nelayan bisa dapat lebih. Selain itu juga ritual ini untuk tolak bala supaya kami dijauhkan dari segala bentuk bencana alam,” ujarnya.

Usai menyimpan rakit bahtera, masyarakat nelayan Kelurahan Bone-bone kemudian mengunjungi makam tua yang terdapat di Desa Wara, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah.

Makam tua tersebut merupakan makam seorang nelayan yang berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

“Kuburan ini tokoh nelayan dari Bugis yang bernama Andi Mamuju. Beliau yang mengajarkan para kakaek kami generasi pertama untuk cara memancing ikan,” ucap seorang Tokoh adat lainnya, Hasanudin.

Menurut Hasanudin, nama Kelurahan Bone-bone di Kota Baubau ini berasal dari nama Kabupaten Bone, di Sulawesi Selatan, daerah asal dari Andi Mamuju.

Usai memanjatkan doa di kuburan tersebut, masyarakat nelayan Kelurahan Bone-bone kemudian pulang ke rumah.

********************

Mau paket wisata gratis ke Thailand bersama 1 (satu) orang teman? Ikuti kuis kerja sama Omega Hotel Management dan Kompas.com dalam CORDELA VACATION pada link INI. Hadiah sudah termasuk tiket pesawat (PP), penginapan, dan paket tur di Bangkok.

PenulisKontributor Baubau, Defriatno Neke
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM