Mewujudkan Sepuluh Bali Baru - Kompas.com

Mewujudkan Sepuluh Bali Baru

Dony Oskaria
Kompas.com - 04/01/2018, 11:16 WIB
Seorang wisatawan menikmati pemandangan di Pantai Desa Amed, Karangasem, Bali, Jumat (29/9/2017). Kementerian Pariwisata menyatakan, secara umum pariwisata Bali masih normal meskipun terjadi peningkatan aktivitas Gunung Agung yang saat ini pada level awas.ANTARA FOTO/NYOMAN BUDHIANA Seorang wisatawan menikmati pemandangan di Pantai Desa Amed, Karangasem, Bali, Jumat (29/9/2017). Kementerian Pariwisata menyatakan, secara umum pariwisata Bali masih normal meskipun terjadi peningkatan aktivitas Gunung Agung yang saat ini pada level awas.

DALAM kancah pariwisata internasional, Bali memang terbilang sebagai destinasi nasional yang paling tenar dibanding destinasi-destinasi lainnya.

Bahkan tak jarang, nama Bali lebih mentereng ketimbang negara Indonesia di mata para pelancong global. Sehingga Pulau Dewata menjadi traffic puller yang sangat dominan dalam sektor pariwisata nasional.

Pulau Bali seolah telah ditakdirkan untuk jadi suatu destinasi yang lengkap, yang seiring berjalannya waktu, masyarakatnya pun terarahkan menjadi masyarakat pariwisata yang sangat supportif bagi bertumbuhkembangnya sektor pariwisata.

Tentu bisa dibayangkan, bagaimana kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional jika Indonesia memiliki beberapa daerah seperti Bali, semisal lima atau sepuluh atau bahkan lebih.

Secara nasional, sektor pariwisata sudah membuktikan diri mampu menjadi penopang tangguh PDB Nasional. Tahun lalu saja, pada 2016, devisa pariwisata sudah mencapai 13,5 juta dolar AS per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) yang sebesar 15,9 juta dollar AS per tahun.

Baca juga : Jokowi Perintahkan Sejumlah Menteri Bantu Pariwisata Bali

Padahal pada 2015, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar. Saat itu pariwisata ada di bawah sektor migas sebesar 18,5 juta dollar AS, CPO 16,4 juta dollar AS, dan batubara 14,7 juta dollar AS.

Namun akibat jatuhnya harga migas dan batubara, konstelasi sektor penyumbang devisa berubah. CPO menjadi raja, dan pariwisata menyodok ke atas sektor migas dan batubara.

Walhasil, tahun ini sektor pariwisata menjadi salah satu andalan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla untuk meraup devisa.

Meskipun target menjadi sektor penyumbang devisa terbesar sempat dipatok pada 2019, namun tanda-tanda itu sudah mulai terlihat pada tahun ini. Bahkan, diperkirakan devisa pariwisata akan melonjak 25 persen pada 2017, sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia.

Sekalipun demikian, devisa dari sektor pariwisata Indonesia masih kalah jauh dibandingkan devisa pariwisata Thailand. Saat Indonesia meraup devisa dari sektor pariwisata pada 2016 sebesar 11,3 miliar dollar AS dengan tingkat kunjungan wisman sekira 12 jutaan, Thailand membukukan jumlah turis 3 kali lipat, yakni sekira 27-30 juta wisman.

Devisa pariwisata Thailand mendekati 50 miliar dollar AS. Jadi secara komparatif, pencapaian pertumbuhan kunjungan wisman yang 25 persen masih butuh dorongan lebih, agar bisa mencapai level yang seusia dengan kapasitas Indonesia.

Turis asing snorkeling di Pink Beach, Labuan Bajo, dalam kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Keunikan dan keindahan bawah laut di sekitar pantai menjadi daya tarik wisatawan untuk berwisata ke pantai itu, Rabu (10/5/2017). KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Turis asing snorkeling di Pink Beach, Labuan Bajo, dalam kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Keunikan dan keindahan bawah laut di sekitar pantai menjadi daya tarik wisatawan untuk berwisata ke pantai itu, Rabu (10/5/2017).
Lantas bagaimana dengan Bali? Menurut data BPS Bali, sampai September lalu, dalam rentang waktu sembilan bulan, ada sekitar 4,55 juta orang wisatawan mancanegara berkunjung ke Bali.

Artinya, kunjungan yang berlangsung pada periode Januari-September 2017 itu meningkat sebanyak 916.047 orang atau 25,17 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 3,63 juta orang.

Pintu kedatangan melalui Bandara Ngurah Rai yang terbang langsung dari negaranya tercatat sebanyak 4,52 juta orang dan hanya 26.519 orang datang melalui pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar. Adapun selama tahun 2017, Bali menargetkan angka kunjungan sebanyak 5,5 juta wisman, meningkat dibandingkan realisasi tahun 2016 sebanyak 4,2 juta.

Sementara itu, kunjungan wisatawan asing khusus untuk bulan September 2017 tercatat 550.520 orang yang dengan rincian melalui Bandara Ngurah Rai 550.238 orang dan lewat pelabuhan laut 282 orang.

Dari sepuluh negara terbanyak memasok wisatawan ke Bali, sembilan di antaranya mengalami kenaikan yang signifikan dan hanya satu negara yakni Australia yang menurun 0,28 persen dari 850.326 orang selama sembilan bulan periode Januari-September 2916 menjadi 847.966 orang pada periode yang sama tahun 2017.

Baca juga : 7 Penghargaan Bergengsi untuk Pariwisata Indonesia

Salah satu negara yang paling bergairah mengunjungi Pulau Bali adalah China, dengan peringkat teratas yang jumlah lonjakannya mencapai 58,94 persen dari 741.741 orang pada periode Januari-September 2016 menjadi 1.178.888 orang pada periode yang sama 2017.

Kemudian wisatawan Jepang yang menempati peringkat ketiga naik 13,81 persen dari 179.651 orang menjadi 204.456 orang, India menempati posisi keempat melonjak 53,88 persen dari 130.012 orang menjadi 200.067 orang dan Inggris naik 16,91 persen dari 164.538 orang menjadi 192.355 orang.

Selain itu wisatawan Amerika Serikat yang menikmati keindahan panorama alam Pulau Dewata meningkat 21,14 persen dari 125.066 orang menjadi 151.503 orang, wisman Perancis naik 10,94 persen dari 129.683 orang menjadi 143.865 orang.

Korea Selatan naik 29,98 persen dari 110.670 orang menjadi 143.846 orang, Jerman naik 19,97 persen dari 117.073 orang menjadi 140.447 orang dan Malaysia naik 1,22 persen dari 129.028 orang menjadi 130.604 orang.

Dengan penampakan data tersebut, tidak bisa tidak, Bali menyumbang hampir setengah dari total wisman yang masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah harus segera menangkap peluang ini.

Raja Ampat di Sorong termasuk salah satu dari sepuluh tujuan wisata yang akan dikembangkan Presiden Joko Widodo.
KARIM RASLAN Raja Ampat di Sorong termasuk salah satu dari sepuluh tujuan wisata yang akan dikembangkan Presiden Joko Widodo.
Pemerataan popularitas harus segera dilakukan. Pasalnya, ada sangat banyak destinasi yang memiliki keunikan dan keunggulan secara alami di Indonesia.

Tugas pemerintah sekarang adalah untuk melahirkan Bali-Bali baru, mengelola dengan apik, memfasilitasinya untuk tumbuh dan berkembang, dan kemudian menikmati kontribusi devisanya untk menopang fiskal nasional.

Pemerintah harus merevisi UU Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK) dengan menyertakan kekhususan untuk KEK Pariwisata. Atau, jika dirasa perlu, pemerintah harus mendorong lahirnya UU KEK Pariwisata. Karena pariwisata memiliki kekhususan yang cukup jauh berbeda dengan sektor industri, mau tak mau, UU KEK harus disesuaikan.

Tujuannya agar daerah-daerah yang memiliki destinasi unggulan bisa segera mengusulkan daerahnya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. KEK akan mengakselerasi industri pariwisata di wilayah-wilayah baru dengan kemudahan berinvestasi yang ditawarkan.

Karena mau tak mau, peningkatan kunjungan harus dibarengi dengan pembangunan berbagai infrastruktur dan institusi-institusi yang terkait langsung dengan sektor pariwisata untuk mendukung bertumbuhkembangnya pariwisata nasional.

Baca juga : Menyempurnakan KEK Pariwisata

Berita baiknya, berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM), kontribusi sektor pariwisata terus menunjukkan pertumbuhan. Pada 2013 tercatat mencapai 602 juta dollar AS atau berkontribusi sebesar 1,45 persen dari total investasi nasional. Kemudian pada Semester I/2017 mencapai 929 juta dollar AS atau 3,67 persen dari total investasi nasional.

Jika pemerintah memang serius ingin mengembangkan sektor pariwisata dan menjadikannya backbone ekonomi nasional, maka Kawasan Bali Baru harus segera dilahirkan. Sepuluh destinasi prirotas yang telah ditetapkan harus diikuti dengan lahirnya banyak KEK Pariwisata baru.

Dampaknya nantinnya, visi Jokowi untuk membangun Indonesia dari pinggiran salah satunya akan bermakna strategis sebagai membangun sektor pariwisata dengan lahirnya Bali-Bali baru di setiap daerah yang akan menjadi traffic puller dan akan menyumbang kontribusi investasi yang tak besarnya. Semoga.

EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM