Jelajah Yunnan (1): Menemukan “Indonesia” di Kunming Halaman 3 - Kompas.com

Jelajah Yunnan (1): Menemukan “Indonesia” di Kunming

Aji Chen Bromokusumo
Kompas.com - 09/01/2018, 09:58 WIB
Dua pemuda memukul adonan kacang dan gula di atas gelondongan kayu di sebuah toko penganan di Yunnan Ethnic Village.AJI CHEN Dua pemuda memukul adonan kacang dan gula di atas gelondongan kayu di sebuah toko penganan di Yunnan Ethnic Village.

 

Mereka yang tinggal di Semarang dan sekitarnya, terutama Salatiga, tentu tak asing dengan enting-enting gepuk. Di salatiga ada beberapa merek yang terkenal seperti Cap Kelenteng dan 2 holoo, Gedung Batu, Dua Pohon, dan Rumah.

Makanan ini bukan hanya ada di Salatiga. Kita bisa menemukannya juga di Yogyakarta, Medan, Siantar, Surabaya, dan sejumlah kota lain di Indonesia.

Aroma dan rasanya penganan di warung  ini mirip sekali dengan enting-enting gepuk yang kita kenal yaitu manis-gurih dari kacang dan gula. Kata gepuk sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti tumbuk.

Ternyata oh ternyata, nama enting-enting gepuk ada sebabnya. Tak berapa lama dua anak muda mengambil dua palu kayu yang tergeletak di gelondongan kayu besar yang saya lihat tadi.

Mereka mulai beraksi sambil bernyanyi dengan alunan nada etnik dan bahasa daerah. Mereka berdua bergantian menggepuk adonan kacang dan gula yang ada di balok kayu itu.

Bunyi bak-bukbak-buk bergantian seakan mengiringi alunan lagu etnik daerah yang merdu di telinga. Nama ‘enting’ atau ‘ting’ atau ‘teng’ (tergantung tempat mana menyebutnya), berasal dari kata ‘tang’ (baca: dang) yang artinya gula.

Adonan gula dan kacang dipukul di atas gelondong kayu di sebuah toko di Yunnan Ethnic Village.AJI CHEN Adonan gula dan kacang dipukul di atas gelondong kayu di sebuah toko di Yunnan Ethnic Village.

Penganan di salah satu toko di Yunnan Ethnic Village yang rasanya persis sama dengan enting-enting gepuk di Indonesia.AJI CHEN Penganan di salah satu toko di Yunnan Ethnic Village yang rasanya persis sama dengan enting-enting gepuk di Indonesia.

Dalam dialek Hokkian jadi berbunyi ‘theng’, bacanya dengan ‘d’ berat dan ‘e’ seperti dalam kata ‘emas’.

Dalam perkembangannya, biasanya lidah Indonesia akan berubah menjadi ‘e’ seperti dalam kata ‘dendeng’ ditambah dengan medok lidah daerah masing-masing, jadilah ‘enting’ dan menjadi berulang ‘enting-enting’, ‘ting-ting’, ‘teng-teng’.

Baru saya sadar, Yunnan memang sangat erat kaitannya dengan Indonesia. Ada penjual yang berkerudung.  Wajah-wajah di situ adalah wajah-wajah melayu. Bau dan aroma makanan yang dijual terasa akrab di hidung dan mulut. Aroma sate yang dibakar mirip sekali dengan aroma Indonesia, bedanya hanya masalah ukuran.

Aneka suvenir tetabuhan sama persis dengan tetabuhan yang dijual di toko-toko suvenir di seluruh pelosok Bali. Sungguh sayang, karena terbatasnya waktu dan pertimbangan usia dua mertua saya yang turut serta, kami tidak menjelajah seluruh tempat ini.

Danau Dianchi dan Burung Camar

Setelah lumayan puas menjelajah Yunnan Ethnic Village, kami bertujuh berjalan keluar menuju perhentian bus untuk menuju tempat berikutnya.

Sebelum sampai perhentian bus, kami disambut banyak orang yang menawarkan jasa transportasi sekaligus semacam tour guide ala kadarnya. Karena kami bertujuh, hanya satu mobil yang bisa mengakomodasinya.

Sejenis MPV merk lokal dengan pengemudi seorang wanita mengantar kami ke Dianchi Lake, juga disebut dengan Lake Dian and Kunming Lake. Julukan lainnya adalah Sparkling Pearl Embedded in a Highland atau A Pearl on the Plateau.


Dianchi dibacanya tyen je (huruf "e" dalam "tyen" dibaca "e" dalam "dendeng"; sementara dalam "je" dibaca seperti dalam "emas"); bukan dibaca "dyan ji".

Page:
EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM