Mengintip Dampak Ekonomi yang Dirasakan Banyuwangi dari Pariwisata - Kompas.com

Mengintip Dampak Ekonomi yang Dirasakan Banyuwangi dari Pariwisata

Kompas.com - 02/02/2018, 10:17 WIB
Wisatawan AS menari Gandrung di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (31/8/2016).KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Wisatawan AS menari Gandrung di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (31/8/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - ”Pariwisata memang terbukti menjadi sektor paling cepat dalam menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, saat meluncurkan 77 Acara Unggulan Banyuwangi, di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Anas mengakui efektivitas sektor pariwisata dalam menggerakkan ekonomi lokal. Menurutnya beragam program pengembangan pariwisata mampu mendorong peningkatan kunjungan wisatawan.

(Baca juga : Begini Selera Turis yang Datang ke Banyuwangi)

Ia memaparkan, turis domestik yang ke Banyuwangi meningkat dari 497.000 di 2010 menjadi 4,01 juta di 2017.

Adapun kunjungan wisatawan mancanegara dari 5.205 orang pada 2010 menjadi 91.00 orang pada di 2017, dengan pendapatan devisa Rp 546 miliar, berdasar perhitungan Kementerian Pariwisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama istri dan didampingi Bupati Banyuwangi Azwar Anas dalam parade Barong Ider Bumi di desa wisata Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (26/6/2017).ARSIP KEMENPAR Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama istri dan didampingi Bupati Banyuwangi Azwar Anas dalam parade Barong Ider Bumi di desa wisata Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (26/6/2017).
"Peningkatan pendapatan per kapitanya melonjak dua kali lipat dari Rp 20,8 juta (2010) menjadi Rp 41,6 juta per orang per tahun (2017). Walaupun bukan hanya dari pariwisata ya, tapi peningkatan pariwisata dan income perkapita begitu terukur (selaras)," katanya kepada wartawan.

(Baca juga : Nostalgia di Pasar Jajanan Tradisional Banyuwangi)

"Saya tambahkan, sekarang pendapatan perkapita Banyuwangi hanya kalah dari Surabaya di Jawa Timur. Sedangkan dulu (2010) masih dibawah Surabaya, Jember, dan Malang," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam kesempatan yang sama.

Azwar Anas melanjutkan dengan paparan penurunan indeks kemiskinan di Banyuwangi. Menurutnya, seiring tumbuhnya sentra ekonomi baru berbasis pariwisata, penurunan kemiskinan cukup pesat.

Pengojek atau supir supir taksi mengantarkan wisatawan menuruni jalur pendakian Gunung Ijen, Jawa Timur (9/9/2017). Pengojek atau supir taksi itu akan mengantarkan wisatawan menggunakan gerobak.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Pengojek atau supir supir taksi mengantarkan wisatawan menuruni jalur pendakian Gunung Ijen, Jawa Timur (9/9/2017). Pengojek atau supir taksi itu akan mengantarkan wisatawan menggunakan gerobak.
"Menjadi 8,79 persen pada 2016 jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang masih tembus dua digit," katanya.

Kenapa bisa terasa signifikan? Ia memaparkan hal tersebut tak luput dari kerja sama langsung masyarakat dengan pemerintah, juga swasta, termasuk industri penunjang pariwisata seperti perhotelan, dan PT Angkasa Pura.

Menurut Anas, pada 2010 pertambahan homestay masyarakat sangat signifikan. Menurutnya di 2017 pertambahannya hingga 300 homestay.

"Masyarakat yang membangun desa sendiri, dari homestay pertamanya. Lalu di dalam homestay-nya dikasih atraksi wisata seperti membuat kerajinan, membuat kue, jadilah lama nginapnya," tutur Azwar Anas.

Pantai Pulau Merah di Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.ARSIP HUMAS PEMKAB BANYUWANGI Pantai Pulau Merah di Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Untuk akomodasi, lanjut Anas, Banyuwangi sudah semakin siap dengan ratusan homestay yang tumbuh. Juga di Maret-April nanti akan ada tiga hotel dari Alila Group dan Aston Group yang siap beroperasi dengan jumlah kamar 100 lebih.

Untuk target wisatawan mancanegara pada 2018, Bupati Banyuwangi hanya menyebutkan angka lebih dari 100.000 wisatawan dalam setahun.


EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X