Filosofi Angpao, Amplop Merah Berisi Uang saat Imlek - Kompas.com

Filosofi Angpao, Amplop Merah Berisi Uang saat Imlek

Kompas.com - 14/02/2018, 08:21 WIB
Pedagang menunjukkan amplop angpao bermotif anjing yang dijual di toko pernak-pernik Imlek di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (7/2/2018). Menjelang Tahun Baru Imlek pada 16 Februari, sejumlah pedagang mulai menjajakan pernak-pernik imlek bertemakan Anjing karena menurut perhitungan astrologi China bahwa 2018 merupakan Tahun Anjing Tanah.ANTARA FOTO/ZABUR KARURU Pedagang menunjukkan amplop angpao bermotif anjing yang dijual di toko pernak-pernik Imlek di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (7/2/2018). Menjelang Tahun Baru Imlek pada 16 Februari, sejumlah pedagang mulai menjajakan pernak-pernik imlek bertemakan Anjing karena menurut perhitungan astrologi China bahwa 2018 merupakan Tahun Anjing Tanah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Angpao bisa jadi hal yang paling ditunggu oleh anak-anak saat perayaan Imlek. Tradisi memberi uang di Tahun Baru China memang telah lama dilakukan dan bahkan menyebar ke tradisi perayaan lain.

"Cerita mengenai angpao banyak yang paling umum adalah bungkusan merah guna mengusir setan," kata Ketua Program Studi China Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hermina Sutami saat dihubungi oleh KompasTravel, Kamis (8/2/2018).

(Baca juga : Hari Raya Imlek, Ancol Bakal Bagi-bagi 2.569 Angpau di Dunia Fantasi)

Angpao sendiri memiliki arti bungkusan merah. Pada buku 5000 Tahun Ensiklopedia Tionghoa 1 karya Christine dan kawan-kawan, terbitan St Dominic Publishing tahun 2015 disebutkan bahwa warna merah di China juga identik dengan api. Melambangkan kemeriahan dan kehangatan. Maka tak heran warna merah mendominasi ornamen Imlek.

Selain arti dari warna merah, angpao juga memiliki makna filosofi transfer kesejahteraan atau energi. "Transfer kesejahteraan dari orang mampu ke tidak mampu, dari orangtua ke anak-anak, dari anak-anak yang sudah menikah ke orangtua," ujar Budayawan Budi Santosa Tanuwibawa. 

(Baca juga : 2 Makanan Ini Tak Dimakan Etnis Tionghoa saat Imlek, Apa Saja?)

Tradisi Tionghoa juga mengenal pemberian ang pao yang diberikan tujuh hari menjelang Imlek. Budi menyebut hal ini sebagai Hari Persaudaraan.

"Ini mewajibkan orang yang merayakan Tahun Baru Imlek untuk membantu sesama yang tak mampu merayakannya," kata Budi.

Menariknya dalam tradisi memberi angpao ada peraturan tidak tertulis. Sebelum menerima angpao, anak-anak mengucapkan selamat tahun baru dengan membungkus kepalan tangan kanan dengan tangan kiri. Sebab tangan kanan berkesan agresif.

Petugas memasang lampion di Vihara Amurva Bhumi (Hok Tek Tjeng Sin), Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (12/2/2018). Persiapan di sejumlah vihara untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2569 yang jatuh pada 16 Februari 2018.KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Petugas memasang lampion di Vihara Amurva Bhumi (Hok Tek Tjeng Sin), Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (12/2/2018). Persiapan di sejumlah vihara untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2569 yang jatuh pada 16 Februari 2018.
Pemberi angpao biasanya adalah orang yang telah menikah. Jadi selain anak-anak, orang yang belum menikah masih berhak mendapatkan angpao. Bukan hanya berbagi rezeki tetapi juga doa agar cepat mendapat jodoh.

Jika orang yang belum menikah ingin memberikan uang, dapat memberi uang tanpa dibungkus amplop merah tersebut. Tidak ada aturan untuk besaran jumlah uang di angpao. Semua disesuaikan dengan kemampuan yang memberi.

Tradisi memberi angpao ini juga ada di momen perayaan lain, seperti Lebaran.

"Budaya Betawi mengadopsi kebiasaan keturunan Tionghoa ini untuk memberikan angpao kepada anak-anak kecil. Amplopnya sudah tidak berwarna merah lagi, tetapi hijau," kata Hermina.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X