Beberapa Tradisi Imlek yang Hanya Ada di Indonesia - Kompas.com

Beberapa Tradisi Imlek yang Hanya Ada di Indonesia

Kompas.com - 14/02/2018, 10:08 WIB
Full set dari lontong cap go meh yang terlihat dalam foto ini terdiri dari lontong, ayam opor, ayam abing, sambel goreng ati ampela, lodeh terong/labu, telur pindang, bawang merah goreng dan bubuk dokcangAji Bromokusumo Full set dari lontong cap go meh yang terlihat dalam foto ini terdiri dari lontong, ayam opor, ayam abing, sambel goreng ati ampela, lodeh terong/labu, telur pindang, bawang merah goreng dan bubuk dokcang

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun Baru China atau Imlek memiliki tradisi yang dilakukan turun temurun. Uniknya, tidak semua daerah di dunia atau bahkan di Indonesia memiliki tradisi Imlek yang sama. Masyarakat Tionghoa yang lama bermukim di suatu tempat, menyerap budaya setempat dengan tradisi di China, sehingga melahirkan tradisi baru.

"Tradisi Imlek yang dilakukan di Indonesia saja diabadikan oleh kaum Peranakan yang menganut Konghucu berupa sajian makanan mengandung santan seperti opor ayam dan lemper," kata Ketua Program Studi hCina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hermina Sutami di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

(Baca juga : 2 Makanan Ini Tak Dimakan Etnis Tionghoa saat Imlek, Apa Saja?)

Salah satu kuliner penutup Imlek khas di Tionghoa Indonesia adalah lontong cap go meh. Kuliner lontong dipadukan sambal goreng hati juga aneka masakan lain seperti sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal dan kerupuk.

Pemerhati budaya China, Agni Malagina menjelaskan bahwa lontong cap go meh merupakan bentuk makanan adaptasi tanda hormat masyarakat Tionghoa di pesisir Laut Jawa terhadap masyarakat setempat. Masyarakat setempat menyantap ketupat dan opor ayam saat perayaan Lebaran.

(Baca juga : Filosofi Angpao, Amplop Merah Berisi Uang saat Imlek)

Selain itu ada pula hidangan ikan jenis bandeng yang merupakan adaptasi Tionghoa di Jawa, yang diserap dari tradisi Betawi.

Alwi Shahab dalam buku "Saudagar Baghdad dari Betawi" menjelaskan jika dalam tradisi Betawi, ikan bandeng yang menjadi antaran bukanlah ikan yang sudah dimasak, melainkan satu ekor utuh yang masih segar.

(Baca juga : Libur Imlek, Ini 3 Tempat Wisata Tanah Leluhur Tionghoa di Palembang)

Di buku Alwi, dia bahkan bertutur bahwa ukuran bandeng yang dibawa calon menantu ke calon mertuanya bisa menentukan kelanjutan perjodohan.

Kue lapis legit yang banyak beredar saat Imlek ternyata juga bukan tradisi Tionghoa asli. Kue ini merupakan resep khusus warisan nenek moyang saat bangsa Indonesia dijajah Belanda selama ratusan tahun. Resep lapis legit menggabungkan rempah khas Indonesia. 

"Lapis legit, bolu 'bergengsi' dan mahal yang tidak dapat dimakan setiap hari, maka pada kesempatan istimewa seperti Imlek, lapis legit menjadi kue lambang kemewahan," sebut Hermina. 

Koleksi kebaya dari salah satu toko yang menjual beragam khas peranakan Katong, Rumah Bebe, Singapura, Rabu (9/11/2016).Anggita Muslimah Koleksi kebaya dari salah satu toko yang menjual beragam khas peranakan Katong, Rumah Bebe, Singapura, Rabu (9/11/2016).

Tak hanya makanan, sebenarnya ada tradisi berpakaian ala Tionghoa peranakan yang dilakukan sebelum Orde Baru.

"Sebelum Orde Baru, pada hari Imlek para ibu-ibu dari keluarga Peranakan memakai kebaya encim dengan kain Pekalongan yang berwarna cerah untuk dipakai saat mengunjungi
kerabat," jelas Hermina.

Memakai baju Cheongsam merah bukan kebiasaan Tionghoa di Indonesia. Sedangkan anak-anak dan para gadis, menurut Hermina, memakai rok biasa. Namun budaya tersebut tidak ada lagi semenjak Orde Baru.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X