Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Indonesian Insight Kompas
Kelindan arsip, data, analisis, dan peristiwa

Arsip Kompas berkelindan dengan olah data, analisis, dan atau peristiwa kenyataan hari ini membangun sebuah cerita. Masa lalu dan masa kini tak pernah benar-benar terputus. Ikhtiar Kompas.com menyongsong masa depan berbekal catatan hingga hari ini, termasuk dari kekayaan Arsip Kompas.

29 Bayi Komodo di Kebun Binatang Surabaya: Secercah Harapan

Kompas.com - 29/06/2022, 06:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KEBUN Binatang Surabaya (KBS) menyambut 29 bayi komodo, beberapa bulan terakhir. Mereka baru menetas dalam proses penangkaran sebagai bagian dari program pemuliaan yang dimulai sejak 1990-an.

"Ini menawarkan harapan untuk melestarikan spesies yang terancam punah," kata Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS), Chairul Anwar, Selasa (28/6/2022), sebagaimana dikutip AFP. 

Kehadiran bayi-bayi komodo ini juga menjadi harapan di tengah keprihatinan global atas nasib keberadaan satwa dari keluarga reptil ini.

Baca juga: Kunjungan Wisata Pengaruhi Perilaku dan Berat Badan Komodo

Tak kurang dari UNESCO, badan di bawah PBB, telah menyatakan keprihatinan, peringatan, dan bahkan permintaan penghentian pengembangan kawasan yang dinilai rentan memberi dampak pada satwa ini.

Reptil terbesar di dunia yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini merupakan salah satu warisan dunia.

Saat ini diperkirakan cuma ada 3.458 komodo dewasa dan bayi di alam liar. Riset lain menyebutkan angkanya bahkan tinggal kisaran 2.500.

Baca juga: Komodo Terancam Punah karena Perubahan Iklim, Ini Penjelasan Peneliti LIPI

Bisa tumbuh hingga sepanjang tiga meter dan berbobot 90 kilogram, komodo terancam oleh aktivitas manusia dan perubahan iklim yang merusak habitat mereka. Program penangkaran di Surabaya, Jawa Timur, mencoba menjadi solusi.

Upaya KBS berbuah 29 komodo yang menetas di dalam inkubator selama Februari dan Maret 2022. 

"Kami memiliki habitat yang mencerminkan habitat alami Komodo, termasuk kelembaban dan suhunya," kata Chairul.

Baca juga: Polemik Tarif Naik Candi Borobudur dan Paradoks Pariwisata Indonesia

Petugas Kebun Binatang Surabaya (KBS) Surabaya, Jawa Timur, memegang salah satu bayi komodo berumur 4 bulan yang ditetaskan dalam penangkaran di kebun binatang itu. Gambar diambil pada 27 Juni 2022.AFP/JUNI KRISWANTO Petugas Kebun Binatang Surabaya (KBS) Surabaya, Jawa Timur, memegang salah satu bayi komodo berumur 4 bulan yang ditetaskan dalam penangkaran di kebun binatang itu. Gambar diambil pada 27 Juni 2022.

Bayi-bayi yang baru lahir itu ditetaskan dari telur dua komodo betina. Telur-telur mereka kemudian ditempatkan di inkubator agar tidak dimakan induknya atau komodo lain. Komodo betina dapat membuahi telur tanpa membutuhkan komodo jantan.

KBS memulai program pemuliaan komodo pada 1990-an sebagai bagian dari upaya melestarikan spesies di kota berlokasi lebih dari 700 kilometer dari habitat alami komodo di kawasan Taman Nasional Komodo.

Baca juga: Harga Tiket Masuk Taman Nasional Komodo Rp 3,75 Juta per 1 Agustus

Seturut kehadiran bayi-bayi komodo ini, KBS kini menampung 134 komodo, menjadi kelompok populasi terbesar kedua komodo. Populasi terbesarnya tentu saja di kawasan Pulau Komodo, NTT.

Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for the Conservation of Nature/IUCN) pada tahun lalu memperingatkan habitat spesies komodo diperkirakan akan menyusut 30 persen dalam 45 tahun ke depan karena kenaikan permukaan air laut.

Pada 4 September 2021, status komodo pun telah ditetapkan naik dari rentan (vulnerable) menjadi terancam punah oleh IUCN.

Baca juga: IUCN: Komodo Terancam Punah, Masuk Daftar Merah

Terkait bayi-bayi hasil penangkaran, Chairul mengatakan mereka tidak akan dilepas kembali ke alam liar sampai kondisi habitat asli mereka membaik.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com