Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Anton Apriyantono, Mantan Menteri Pertanian yang Gemar Mendaki Gunung

Kegemaran bertualang mendaki gunung-gunung di Indonesia ia mulai ketika di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Gunung pertama yang didaki adalah gunung Karang di Pandeglang, Banten sewaktu SMA. Hobi saya memang kegiatan petualangan khususnya mendaki gunung,” kata mantan menteri pertanian di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009 tersebut kepada KompasTravel.

(BACA: Mantan Mentan Anton Apriyantono Akan Daki 7 Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia Dalam 100 Hari)

Ia sempat absen mendaki gunung karena tuntutan yang semakin banyak. Selama menjadi menteri pertanian, ia banyak berkeliling daerah untuk meninjau lokasi tapi tak sempat untuk mendaki gunung.

(BACA: Ini Dia 2 Hal yang Wajib Dicoba di Gunung Fuji)

Petualangan Anton juga sudah menjejak ke gunung-gunung di luar negeri. Ia sempat mendaki solo ke Gunung Scuffel Pike di Inggris. Anton pernah mendaki Mount Blanc di Perancis dan juga Gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia.

“Di dalam negeri saya pernah ke Gunung Kerinci, Semeru, Rinjani. Rinjaninya sudah dua kali,” kata laki-laki yang lahir pada 5 Oktober 1959 itu.

(BACA:  Ketika Manajer hingga Office Boy ke Cartensz Pyramid, Puncak Tertinggi di Indonesia)

Gunung-gunung lainnya yang pernah ia daki seperti Merbabu dan Merapi (Jawa Tengah), Gunung Guntur (Jawa Barat), dan gunung-gunung lainnya.

Menurut Anton, mendaki gunung adalah sebuah hal yang penting dalam perkembangan hidup manusia. Anton merasa pendakian gunung membentuk mental dan karakternya.

Pendakian gunung pun juga ia anggap sebagai cara untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Menurutnya, dengan mendaki gunung, manusia bia lebih meningkatkan iman dan taqwanya.

Kini, ia akan mendaki gunung-gunung yang tertinggi di Indonesia dalam kurun waktu 100 hari. Anton bersama dua rekannya yang umurnya hampir mendekati umur Anton bila dijumlahkan. Mereka adalah Tri Hardiyanto (27) dan Mila Ayu Hariyanti (28).

Pendakian Anton bersama rekannya ke tujuh gunung tertinggi di Indonesia akan diawali dari Gunung Bukit Raya (tertinggi di Kalimantan), Gunung Binaya (tertinggi di Kepulauan Maluku), Gunung Cartensz Pyramid (tertinggi di Papua), dan Gunung Latimojong (tertinggi di Sulawesi).

Di usianya yang menuju senja, Anton masih ingin menyebarkan pesan konservasi dan pariwisata alam Indonesia. Ia juga ingin mempromosikan pariwisata gunung Indonesia.

"Kami akan melakukan promosi lewat media. Kami ingin kerja sama dengan media bagaimana promosi gunung-gunung terutama turis mancanegara. Banyak sebetulnya kelebihan gunung-gunung di Indonesia," ujar Anton dalam jumpa pers.

Kegiatan petualangan mendaki gunung akan terus ia lakukan hingga umur 65 tahun. Ia akan terus mendaki gunung mesti tak intensif.

“Bukan saya tidak mau intensif tapi keluarga tidak terlalu mengizinkan,” tambah Anton.

Keluarga khawatir

Saat ini, jantung Anton telah dipasang lima ring. Pemasangan ring bertujuan untuk memperlancar aliran darah ke jantung akibat adanya penyempitan di pembuluh darah koroner.

“Sejak come back tahun 2013 sudah dipasang tiga ring, dokter bilang gak masalah, diizinkan naik gunung. Tahun 2016 nambah jadi lima ring, dokter tetap mengizinkan dan selalu periksa rutin, dokter bilang jantung saya bagus,” jelasnya.

Namun, dalam 100 hari ke depan, ia sudah mendapat restu dari keluarga untuk menginjakkan kaki di gunung-gunung tertinggi di Indonesia. Sejauh ini, kondisi tubuhnya masih aman saat mendaki gunung di tengah keadaan jantungnya yang telah dipasang ring.

"Alhamdulillah aman-aman saja," tambahnya.

Meski begitu, Anton sudah sadar dengan kondisi dirinya. Ia saat ini tak sekuat bila dibandingkan dengan dua anak muda tersebut.

"Saya naik gunung berdasarkan rekomendasi dokter di Rumah Sakit Abdi Waluyo. Saya selalu rutin melakukan cek kesehatan," tutupnya.

https://travel.kompas.com/read/2017/10/10/063700427/anton-apriyantono-mantan-menteri-pertanian-yang-gemar-mendaki-gunung

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke