Salin Artikel

Lempah Kuning dan Martabak Tampil di Lomba Kuliner Khas Bangka

Selain menghibur, festival menghadirkan berbagai kreasi, mulai dari menu lempah kuning, meracik kopi hingga mengolah martabak (hoklopan).

Nah, khusus lempah kuning, menjadi menu unggulan yang dilombakan panitia. Sebanyak 60 peserta ambil bagian dalam lomba yang dibagi dalam dua sesi tersebut. Para peserta merupakan juru masak rumah makan dan kafe yang ada di Kota Pangkal Pinang.

Menariknya, panitia lomba tidak memperkenankan peserta untuk membawa bahan-bahan masakan dari rumah.

Sebagai gantinya, beberapa saat sebelum lomba dimulai, para peserta diberi sejumlah uang dan diminta berbelanja ke pasar terdekat. Komunitas ojek online setempat pun dimobilisasi guna mengangkut para peserta. Seru.

Setelah bahan-bahan masakan berhasil didapat, lomba pun dimulai. Dipandu dua master chef nasional, Eddrian Tjhia dan Desi Trisnawati, para peserta pun saling berkreasi dengan durasi waktu selama 30 menit.

Peserta dengan telaten mengolah bumbu masakan tradisional seperti kunyit, lengkuas dan bawang menggunakan peralatan sederhana. Secara bersamaan kuah lempah disiapkan menggunakan kuali.

Lempah kuning merupakan jenis makanan berkuah yang berwarna kuning dengan olahan sedikit kental. Makanan ini tidak menggunakan santan dan pemanis buatan.

Guna memperkaya cita rasa, beberapa peserta menambahkan nanas, timun, tomat dan ubi kayu. Sementara untuk lauk, ada yang menggunakan ikan karang, cumi atau udang.

Waktu terasa begitu singkat, saat aneka lempah kuning akhirnya siap disajikan. Tim juri pun langsung melakukan penilaian. Panitia menyiapkan hadiah uang tunai serta tropi penghargaan bagi para pemenang lomba.

“Saya menyajikannya dalam buah nanas. Sebelumnya daging buah diambil dan diolah dengan bumbu lainnya untuk membuat kuah,” kata seorang peserta, Ica Septariyadi, seusai lomba.


Ica mengaku mulai memasak Lempah Kuning sejak masa remaja. Saat ini di usianya yang ke-28 tahun, memasak lempah kuning menjadi keahlian sekaligus tanggung jawab untuk menyajikan masakan khas itu di kafe tempatnya bekerja. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Bangka Belitung, Rivai, mengapresiasi lomba kuliner khas daerah. Kegiatan BBFF dinilai inspiratif dan inovatif.

“Kalau mengembangkan pariwisata, tak bisa lepas dari daya tarik kulinernya,” ujar Rivai yang kemudian menabuh gendang pertanda acara dimulai.

Pemerintah daerah berencana menjadikan lomba masakan khas lempah kuning sebagai agenda tahunan dalam kalender pariwisata.

Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Kepulauan Bangka Belitung, Djohan Riduan Hasan menilai, lomba memasak sebagai wujud kreativitas generasi muda yang patut didukung bersama. Djohan optimistis, pariwisata daerah berkembang jika kulinernya disukai para tamu yang berkunjung.


Usaha Keluarga

Bagi Yudi Sutiono (38), lempah kuning tidak hanya menjadi menu wajib keluarga, tapi juga menjadi lapangan usaha. Sebuah warung makan yang dibukanya di Jalan Muntok, Kelurahan Keramat Pangkal Pinang, menjadikan lempah kuning sebagai menu andalan.

“Kami menyajikan lempah kuning daun kedondong. Isinya bisa ikan atau daging sesuai pesanan pengunjung,” kata Yudi saat berbincang dengan Kompas.com, Sabtu (9/12/2017).

Warung milik Yudi dibuka sejak lima tahun lalu. Pengunjung pun datang dari berbagai kalangan. Mulai dari wali kota, bupati hingga gubernur pernah singgah untuk mencicipi hidangan yang diberi tagline, “Lempah Kuning Sebenarnya”.

Resep masakan Lempah Kuning, kata Yudi berasal dari keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Istrinya, Maria, juga ikut membantu memperkaya cita rasa, berbekal pengalamannya yang pernah bekerja sebagai juru masak restoran.

Warisan Budaya

Sejarawan Pangkal Pinang, Akhmad Elvian mengungkapkan, lempah kuning dipengaruhi kehidupan masyarakatnya. Secara umum di Kepulauan Bangka Belitung, dikenal dua tradisi, yakni tradisi darat (land based culture) dan tradisi laut (sea based culture).

“Ada penamaan lempah darat dan sayur darat. Tapi ketika diolah menjadi menu masakan, semuanya digabung termasuk bahan-bahan dari laut. Biasanya digunakan ikan-ikan karang,” papar Akhmad.

Masyarakat Kepulauan Bangka Belitung, menurut Akhmad, boleh berbangga karena pemerintah sejak 2014 telah mendaftarkan lempah kuning sebagai warisan budaya tak benda.

Sementara untuk martabak bangka, sambung Akhmad, memiliki kaitan erat dengan sejarah pertimahan. Ketika masa kekuasaan Sultan Palembang Mahmud Badaruddin 1 (1724-1757) dilakukan proses penambangan dengan mendatangkan orang-orang China dari Johor dan Vietnam.

Mereka yang didatangkan kala itu terbagi dalam dua suku, Hakka (kek) dan Hokkian (Hoklo). Dari suku Hokkian inilah kemudian berkembang aneka jenis makanan, salah satunya martabak yang dikenal dengan Hoklopan.

 

https://travel.kompas.com/read/2017/12/11/131600427/lempah-kuning-dan-martabak-tampil-di-lomba-kuliner-khas-bangka

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wacana Biaya Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Wacana Biaya Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Travel Update
Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Travel Update
6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

Jalan Jalan
Pasca-Kecelakaan Kapal Wisata di Labuan Bajo, Nakhoda Diminta Lebih Profesional

Pasca-Kecelakaan Kapal Wisata di Labuan Bajo, Nakhoda Diminta Lebih Profesional

Travel Update
Info Shalat Idul Adha 2022 di Masjid Istiqlal, Jam Mulai sampai Tips

Info Shalat Idul Adha 2022 di Masjid Istiqlal, Jam Mulai sampai Tips

Travel Update
Tari Ja'i Meriahkan Turnamen Sepak Bola HUT ke-76 Bhayangkara di Manggarai Timur

Tari Ja'i Meriahkan Turnamen Sepak Bola HUT ke-76 Bhayangkara di Manggarai Timur

Travel Update
Harga Tiket dan Jam Buka Pantai Pasir Putih PIK 2

Harga Tiket dan Jam Buka Pantai Pasir Putih PIK 2

Travel Tips
Sandiaga Bertemu Ketum PP Muhammadiyah, Bahas Wisata Halal

Sandiaga Bertemu Ketum PP Muhammadiyah, Bahas Wisata Halal

Travel Update
Ho Chi Minh City Jadi Kota Terbaik bagi Solo Traveler di Dunia 2022

Ho Chi Minh City Jadi Kota Terbaik bagi Solo Traveler di Dunia 2022

Travel Update
Machu Picchu Nyaris Terbakar karena Kebakaran Hutan Dekat Reruntuhan Inca

Machu Picchu Nyaris Terbakar karena Kebakaran Hutan Dekat Reruntuhan Inca

Travel Update
Tank Rusak Militer Rusia Jadi Sasaran 'Selfie' Warga Ukraina

Tank Rusak Militer Rusia Jadi Sasaran "Selfie" Warga Ukraina

Travel Update
Pesona Wisata Sungai dan Seni Budaya di Desa Pandean Trenggalek

Pesona Wisata Sungai dan Seni Budaya di Desa Pandean Trenggalek

Jalan Jalan
Ubud Masuk 10 Destinasi Terbaik bagi Solo Traveler di Dunia 2022

Ubud Masuk 10 Destinasi Terbaik bagi Solo Traveler di Dunia 2022

Travel Update
Jalur Pendakian Cemara Kandang di Gunung Lawu Bakal Ditata

Jalur Pendakian Cemara Kandang di Gunung Lawu Bakal Ditata

Travel Update
Libur Sekolah, Kunjungan ke Gunungkidul Diprediksi Naik 30 Persen

Libur Sekolah, Kunjungan ke Gunungkidul Diprediksi Naik 30 Persen

Jalan Jalan
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.