Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Polemik Tarik Menarik Kuasa "Surga Wisata" di Kuningan Belum Selesai

Gunung Ciremai yang merupakan primadona alam di Kuningan, Jawa Barat kian mengeluarkan potensi-potensi wisata cantiknya. Puluhan air terjun, dan bumi perkemahan bersanding apik.

Belum lagi perbukitan, tebing-tebing batuan cantik, desa wisata yang ramah, hingga adanya hewan endemik jadi aset yang diperebutkan di sana. Tak heran Pemerintah Kabupaten, melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata berebut simpati dengan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Semenjak turunnya Ketetapan Menteri Kehutanan nomor 424 tahun 2004, tentang zonasi Kawasan Konservasi Gunung Ciremai, kendali "surga wisata" itu, jatuh ke tangan TNGC. Pemkab Kuningan pun harus rela melepas perlahan lebih dari sembilan destinasi wisata di sana, yang sudah mereka bangun bertahun-tahun.

"Masalahnya karena kewenangan saja, saya rasa itu berlebihan semua lahan Perhutani diserahkan pengelolaannya. Karena di sana kan ada titik-titik wisata yang potensial," ujar Bupati Kuningan, Acep Purnama saat dikunjungi KompasTravel bersama Kementerian Pariwisata di rumah dinasnya, Sabtu (23/12/2017).

Ia menilai semenjak beralihnya hak pengelolaan tersebut, banyak penurunan yang dialami pariwisata Kabupaten Kuningan. Mulai pendapatan sektor pariwisata turun drastis, harga tiket naik, hingga infrastruktur kurang berkembang.

"Jauh sekali pendapatan kita dari sektor pariwisata turunnya, hak kita untuk mengembangkan juga sangat dipersulit. Kita juga bisa kok melakukan konservasi sambil mengelola wisatanya," ungkap Jaka, Kepala Disporapar Kabupaten Kuningan, dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya, untuk memperoleh hak kelola obyek wisata, Pemkab Kuningan kerap merasa dipersulit, baik di tingkat pusat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Koperasi dan Penanaman Modal (BKPM).

Sementara itu, pihak TNGC membenarkan jika ia mengelola lebih dari sembilan kawasan wisata. Bahkan total ada 54 kawasan wisata di 45 desa di Kuningan dan Majalengka, yang masuk ke zonasi TNGC.

"Semua wisata itu di dalam kawasan zona pemanfaatan. Di luar kawasan itu kewenangan pemerintah daerah," kata Mufrizal, PLT Kepala TNGC saat dihubungi KompasTravel, Rabu (27/12/2017).

Mufrizal mengatakan, fokus dari destinasi yang dikelola TNGC ialah ke arah konservasi dan ecotourism, bukan mass tourism. Eco tourism yang dimaksud juga melibatkan banyak warga untuk operasionalnya.

"Kita gak perlu banyak pengunjung, tapi eko wisata lah. Pengunjung bisa menikmati ini itu, masyarakat bisa menjual juga," kata Mufrizal kepada KompasTravel.

Ia mengatakan, walaupun eco tourism pihak TNGC mengklaim telah mendatangkan banyak manfaat. Melihat dari data (Penerimaan Negara Bukan Pajak) PNBP yang melebih target tahun 2017.

"Total PNBP tahun 2017 hingga November 2017 ada Rp 2,549.732 milyar dari ke 54 (obyek wisata) itu, targetnya cuma Rp 1,1 miliar melebihi banyak. Artinya masyarakat pun mengelola wisata itu bisa berkontribusi untuk Negara, tak perlu minta pemerintah atau swasta," ujarnya.

"PNBP uangnya langsung ke Kemenkeu. Tapi warga juga ada persenan jatah untuk mereka, lalu kegiatan sosialnya, juga pembangunan," ujar Mufrizal.

Ia mengklaim, dari pembagian pendapatan tersebut, masyarakat bisa dapat Rp 3-5 juta per bulan, tiap kepala keluarga. Tujuannya agar masyarakat sejahtera, hutan pun lestari.

Namun hal yang berbeda pernah terjadi di Obyek Wisata Cibulan, Kuningan. Obyek wisata tertua di Kuningan sejak 1850 itu malah di demo warga setelah akan diambil alih kepengurusannya oleh TNGC.

"Tadinya (Obyek Wisata Cibulan) di kuasai (TNGC) cuma digugat oleh masyarakatnya. Ahirnya tetap dikelola oleh desa," ungkap Jaka, saat kembali dihubungi KompasTravel, Rabu (27/12/2017).

Menilik data Kementerian Pariwisata, wisatawan yang datang ke Kuningan tahun 2016 hanya sebesar 100-200 orang.

Semua Bergantung ke Pemerintah Pusat

Sampai saat ini, meski masih terjadi lobi dan gugatan, sementara jalan tengah diambil oleh keduanya. Dari sembilan aset wisata potensial, setengahnya tetap dikelola TNGC, dan sisanya oleh Pemkab dan Desa setempat.

"Jadi peraturannya, kan hak kelola wisata di kawasan konservasi harus dari BUMN, maka Pemda buat lah itu PDAU (Perusahaan Daerah Aneka Usaha). Baru bisa mengelola wisata di Ciremai," ungkap Mufrizal.

Menyoal pembagian destinasi tersebut, ia mengatakan sesuai usulan proposal masing-masing. Proposal yang diajukan Dinporapar akan melalui peninjauan teknis oleh TNGC, sebelum ke BKPM pusat. Penentuan menurutnya ada di BKPM.

PDAU sendiri, kini mengelola obyek wisata Balong Cigugur, ada Balong Dalem, dan Cipaniis-Singkup.

Bupati Kuningan, Acep Purnama mengatakan akan terus melobi DPRD, untuk mengembalikan lagi hak-hak wisatanya, ke pemerintah daerah Kabupaten Kuningan.

"Harapannya departemen tidak memungut penghasilan dari sektor wisata. Apalagi jumlah PNBP untuk kabupaten kecil seperti Kuningan, tidak perlu sebesar itu. Mending untuk pengembangan wisata daerahnya," ujar Jaka.

Terakhir, ia meminta KLHK untuk memberikan kemudahan. Menurutnya, TNGC amat mempersulit, dengan membatasi kewenangan.

https://travel.kompas.com/read/2017/12/30/072900227/polemik-tarik-menarik-kuasa-surga-wisata-di-kuningan-belum-selesai

Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Dana Kepariwisataan Ditargetkan Beroperasi pada Pertengahan 2024

Dana Kepariwisataan Ditargetkan Beroperasi pada Pertengahan 2024

Travel Update
Malaysia Masih Urutan 1 Negara Penyumbang Wisman Terbanyak ke Indonesia

Malaysia Masih Urutan 1 Negara Penyumbang Wisman Terbanyak ke Indonesia

Travel Update
Legenda Bukit Batu Garudo di Pesisir Selatan, Konon dari Burung Garuda yang Mati

Legenda Bukit Batu Garudo di Pesisir Selatan, Konon dari Burung Garuda yang Mati

Travel Update
Harga Tiket DTW Ulun Danu Beratan Naik mulai 1 Januari 2024

Harga Tiket DTW Ulun Danu Beratan Naik mulai 1 Januari 2024

Travel Update
Indahnya Panorama bagai Surga di Puncak Bukit Batu Garudo, Pesisir Selatan

Indahnya Panorama bagai Surga di Puncak Bukit Batu Garudo, Pesisir Selatan

Jalan Jalan
Harga Tiket Pesawat Jakarta-Solo PP Desember 2023, mulai Rp 746.000

Harga Tiket Pesawat Jakarta-Solo PP Desember 2023, mulai Rp 746.000

Travel Update
Rute ke Jembatan Akar di Sayegan, Sekitar 30 Menit dari Tugu Jogja

Rute ke Jembatan Akar di Sayegan, Sekitar 30 Menit dari Tugu Jogja

Travel Tips
Sunrise Hill Bandungan: Harga Tiket, Jam Buka, dan Daya Tarik 

Sunrise Hill Bandungan: Harga Tiket, Jam Buka, dan Daya Tarik 

Jalan Jalan
Keindahan Jalan Raya Penelokan Kintamani, Lokasi Minimarket dengan Panorama Indah di Bali

Keindahan Jalan Raya Penelokan Kintamani, Lokasi Minimarket dengan Panorama Indah di Bali

Jalan Jalan
Jembatan Akar di Sayegan Yogyakarta, Spot Estetis untuk Foto

Jembatan Akar di Sayegan Yogyakarta, Spot Estetis untuk Foto

Jalan Jalan
Sandiaga Targetkan 200-250 Juta Pergerakan Wisnus Saat Nataru 2024

Sandiaga Targetkan 200-250 Juta Pergerakan Wisnus Saat Nataru 2024

Travel Update
Penumpang KRL di Stasiun Tugu Yogyakarta Kini Punya Pintu Keluar-Masuk Khusus

Penumpang KRL di Stasiun Tugu Yogyakarta Kini Punya Pintu Keluar-Masuk Khusus

Travel Update
Gunung Marapi Meletus, Sandiaga Optimistis Wisata Minat Khusus Tidak Terdampak

Gunung Marapi Meletus, Sandiaga Optimistis Wisata Minat Khusus Tidak Terdampak

Travel Update
6 Tempat Glamping di Semarang buat Liburan Akhir Tahun 

6 Tempat Glamping di Semarang buat Liburan Akhir Tahun 

Jalan Jalan
Mengapa Masih Ada Pendakian Saat Gunung Marapi Meletus?

Mengapa Masih Ada Pendakian Saat Gunung Marapi Meletus?

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke