Salin Artikel

Ekspedisi 28 Gunung, Hilang Sinyal hingga Populerkan Jalur Alternatif

Kegiatan bertajuk “Espedisi 28 Gunung” tersebut meninggalkan cerita yang mendalam bagi pelaku.

“Hutan tropis terkenal dengan hujan, basah, becek, gerah, serangga, dan lainnya. Belum lagi hilang sinyal, medan sulit, dan lainnya,” ujar Staf Eiger Adventure Service Team (EAST), Galih Donikara di Bandung, Minggu (29/10/2018).

Gunung Patah

Ia mencontohkan, pendakian ke Gunung Patah, Bengkulu. Sebelum ekspedisi 28 gunung, hanya satu tim yang pernah mendaki gunung ini hingga ke puncak, tim penelusur jejak harimau.

Untuk itu, tim di Bengkulu dan tim koordinasi di Bandung, menyiapkan tiga skenario, sesuai dengan tiga puncak yang akan dituju.

Pertama, tim yang penting sampai di puncak pertama, yakni Puncak Danau pada ketinggian 2.550 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Jika masih memungkinkan, melanjutkan ke Puncak Kawah 2.650 mdpl dan puncak tak bernama. Puncak tersebut masih perawan karena belum ada jalur resmi untuk melakukan pendakian.

“Ekpedisi ke Gunung Patah paling lama, butuh waktu 14 hari. Ditambah hilang sinyal, hingga membuat waswas. Pendakian luar biasa,” ungkapnya.

Gunung Gandang Dewata

Begitupun dengan pendakian Gunung Gandang Dewata (3.074 mdpl) di Sulawesi Barat. Salah satu pendaki, Mamay S Salim menceritakan, timnya menggunakan jalur tidak biasa untuk mencapai puncak.

Untuk mempersingkat waktu, ia menggunakan jalur alternatif dari Mamuju untuk mencapai puncak. Waktu pun bisa disingkat menjadi 4 hari.

Seusai ekspedisi, jalur Mamuju ini pun menjadi favorit baru para pendaki gunung. Ia bersyukur bisa mendaki Gunung Gandang Dewata. Karena di sana, ia menemukan buah kalpataru.

“Menurut warga itu buah kalpataru, tapi warga pun tidak tahu yang mana pohonnya. Baru kali ini saya melihat buah kalpataru,” tuturnya.

Bagi yang ingin mendaki ke Gandang Dewata, Mamay mengatakan, tidak perlu khawatir, karena air banyak. Yang perlu diwaspadai adalah Anoa, kaki mereka yang pendek membuat mereka turun dengan cepat.

Kebanggaan

Galih menjelaskan, pendakian sebenarnya tidak dilakukan di 28 gunung, tapi 29 gunung. Gunung terakhir ada di basecamp Eiger di Bandung, sebagai tempat koordinasi komunikasi semua tim.

“Cemas, haru, bangga, semua dirasakan di sini. Indonesia itu kaya, dan tidak semua orang tahu gunung yang ada di Indonesia. Siapa di sini yang tahu Gunung Halau Halau atau Koya Koya? Dan kami kesana,” ungkapnya.

Setiap gunung, sambung Galih, memiliki cerita. Tujuan ekspedisi saat itu adalah mengibarkan bendera Merah Putih di 28 puncak gunung di Indonesia pada 28 Oktober 2017 pukul 10.00 WIB dan membacakan Sumpah Pemuda.

Ke-28 gunung yang didaki berada di lima kepulauan. Pulau Sumatera terdiri dari Gunung Kemiri, Sibuatan, Talang, Masurai, Kerinci, Dempo, Patah, dan Pesagi.

Kemudian Pulau Jawa terdiri dari Pulosari, Ciremai, Slamet, Merapi, dan Semeru. Pulau Kalimantan terdiri dari Gunung Palung, Rorekatimbu, Halau Halau, Beriun, dan Kelimutu.

Lalu di Pulau Sulawesi terdiri dari Gunung Klabat, Tambusisi, Gandang Dewata, Mekongga, Latimojong.

Adapun di Pulau Ambon, NTT, NTB, dan Papua, terdiri dari Gunung Binaya, Tambora, Koya Koya, Rinjani, Cartensz.

https://travel.kompas.com/read/2018/10/29/191700427/ekspedisi-28-gunung-hilang-sinyal-hingga-populerkan-jalur-alternatif

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.