Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tradisi Ghan Woja Suku Saghe di Flores Barat

Bahkan, di era teknologi canggih saat ini dengan maraknya tradisi-tradisi dari luar tidak melunturkan tua-tua adat dan warga Suku Saghe untuk melestarikan dan melaksanakan ritual adat tersebut.

Setiap tahun ritual tua ini terus dilaksanakan oleh tua-tua adat dan warga Suku Saghe. Bahkan saat ritual adat ini dilangsungkan, warga Suku Saghe yang berada di Kota Borong atau kota-kota lain di Pulau Flores harus hadir.

Ghan Woja dalam bahasa Kolor di bagian selatan dari Kabupaten Manggarai Timur merupakan bahasa kiasan yang diwariskan leluhur dari suku tersebut.

Di samping itu bahasa kiasan ini menandakan bahwa seluruh warga dalam suku mengakhiri tahun lama dalam musim tanam di ladang-ladang dan lahan kering sekali memulai masa tanam padi, jagung, kacang-kacangan di tahun baru dalam kalender pertanian orang Manggarai Timur, khususnya di kawasan selatan.

Dalam dialek tua-tua adat Suku Saghe “Sakil kiwan manga, tu’a kiwan weru" yang berarti tinggalkan tahun lama dan menjemput tahun baru dalam kalender pertanian.

Selain itu, apabila ada warga suku yang meninggal dunia dalam tahun lama maka dilangsungkan ritual yang sama sebagai tanda perpisahan dengan warga suku dan Mbaru Meze, (mbaru gendang). Bahasa Kolor menyebutnya “Morit wikor bakok atau Sakil ata mata” atau selesai urusan bagi orang mati dalam suku dan oleh keluarganya.

Demikian dijelaskan Kepala Suku Saghe, Alexander Djala kepada KompasTravel di Ranakolong, Jumat (2/11/2018).

“Warga Suku wajib melaksanakan ritual ini setiap tahun untuk mensyukuri hasil panen di tahun lama, baik panen bagus maupun gagal. Sekaligus dalam ritual itu meminta restu Sang Pemilik Alam Semesta, leluhur Suku Saghe dan alam itu sendiri agar apa yang ditanam di tahun baru berlimpah hasilnya. Jika warga Suku Saghe tidak melaksanakan ritual ini di Mbaru Gendang maka di tahun baru itu dalam kalender tanam dilarang menanam padi, jagung dan lain sebagainya di lahan kering dan ladang wilayah ulayat Suku Saghe,” jelasnya.

Djala menjelaskan, ritual-ritual adat yang diwariskan leluhur Suku Saghe sangat bersentuhan dengan alam semesta. Alasannya, yang diwariskan secara lisan bahwa alam memberikan kemurahan dan rezeki bagi kelangsungan hidup manusia termasuk warga Suku Saghe.

“Saat ritual itu dilangsungkan nama leluhur Suku Saghe diinformasikan secara terus menerus agar generasi penerus Suku Saghe tidak melupakan nenek moyangnya. Nama-nama leluhur dituturkan dalam ritual dengan seekor ayam,” katanya.

Fransiskus Ndolu, tua adat Suku Saghe kepada KompasTravel di kediamannya di Kampung Waekolong, Jumat (2/11/2018) menjelaskan tradisi ghan woja bisa diterjemahkan sebagai tahun baru adat. Hal ini juga menandakan batas tahun lama dan menerima tahun baru dalam kalender adat pertanian orang di kawasan Selatan dari Manggarai Timur.

Yang unik dan langka, lanjut Ndolu, saat ritual adat ghan woja juga dilangsungkan ritual kedha rugha manuk (injak telur ayam kampung) bagi istri dari anak-anak laki-laki Suku Saghe yang belum melaksanakannya.

Saat ritual ghan woja, istri dari anak laki-laki sudah menyatu dan sah sebagai warga mbaru gendang (rumah adat) Suku Saghe, walaupun secara pribadi sudah melaksanakan kedha rugha manuk di rumah masing-masing orangtua mereka. Artinya juga bahwa para istri bisa injak dan masuk dalam rumah adat.

“Ritual adat ghan woja 2018 ini ada 11 istri yang sudah menikah dengan anak laki-laki Suku Saghe melaksanakan ritual kedha rugha manuk di pintu masuk rumah adat (mbaru gendang) Suku Saghe. Jadi ritual ini menandakan bahwa segala keperluan adat di Suku Saghe wajib diikuti di tahun mendatang,” katanya.

Ndolu menjelaskan, makna lain dari tradisi ghan woja apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah tradisi pergantian tahun tanam dari yang lama ke yang baru. Tradisi ini wajib dilaksanakan oleh anggota keluarga Suku Saghe.

Kalender Adat Pertanian

Ndolu melanjutkan, warisan leluhur Suku Saghe yang terus dilaksanakan adalah ritual ghan woja sebagai awal dari masa kalender adat pertanian yang dimulai dari Agustus di tahun berjalan sampai Maret di tahun berikutnya.

Saat ritual ghan woja itu dibahas ritual selanjutnya, seperti tradisi kolo kabe, ndetok atau basang nii (berkat benih) dan kebun untuk pau nii (menanam benih).

Tradisi kolo kabe tidak bisa dilaksanakan apabila ada anggota keluarga Suku Saghe yang melaksanakan tradisi paki raga (ritual adat dengan menyembelih seekor kerbau) bagi orang yang sudah meninggal dunia saat upacara kenduri.

Merawat Tradisi di Mbaru Gendang

Jumat (2/11/2018), seluruh keluarga berdatangan dari Kampung Mesi, Waekolong dan kampung tetangga menuju ke mbaru gendang atau rumah adat Suku Saghe di bukit Saghe. Konon dikisahkan kampung ini merupakan pertama leluhur orang Saghe yang datang dari wilayah Congkar-Pembe di wilayah utara dari Manggarai Timur ribuan tahun silam.

Kampung itu berada diatas bukit dengan benteng pertahanan di sekelilingnya untuk menjaga keberlangsungan anggota keluarga dari gangguan pihak luar.

Hari jumat itu seluruh keluarga berkumpul dengan membawa bahan-bahan untuk ritual adat ghan woja, seperti ayam, babi, beras, kayu api dan telur ayam kampung. Hari ini penuh persaudaraan dalam ikatan Suku Saghe.

Tua-tua adat Suku Saghe berkumpul untuk melaksanakan ritual adat di dalam rumah adat untuk mensyukuri atas tahuan yang sudah lewat kepada Sang Pencipta Kehidupan, alam semesta dan leluhur sekaligus meminta restu bagi tahun yang berjalan dalam musim tanam di lahan kering dan ladang.

Tokoh Muda Suku Saghe yang berkiprah di Jakarta, Yanuarius Y Sarnis kepada KompasTravel, Jumat (16/11/2018) menjelaskan, idealnya, tradisi ghan woja di seluruh Manggarai Timur ini bisa dilestarikan.

Caranya, menurut Yanuarius, dengan mengangkat nilai syukur atas hasil panen yang dimasukkan dalam program pastoral Keuskupan Ruteng dan pemerintah setempat melalui dinas yang mengurus budaya bisa mengakomodir hal ini sebagai kegiatan resmi daerah.

Kalau bisa dibuatkan hari khusus yang dimasukkan dalam kalender pendidikan tentang kearifan lokal.

Yanuarius menjelaskan, nilai-nilai budaya yang melambangkan identitas orang Manggarai Timur terus diangkat dan dipublikasi secara luas karena budaya khas orang Manggarai Timur tidak kalah dengan budaya luar. Memang referensi tertulis dari tradisi ini sulit diperoleh atau mungkin belum ada.

Namun yang unik dalam tradisi orang Manggarai Timur adalah saat tradisi ghan woja, batas-batas tanah adat biasanya disebutkan saat pau manuk (tutur adat dengan ayam) dan juga dituturkan sejarah leluhur dan keturunan dalam satu suku tersebut.

https://travel.kompas.com/read/2018/11/19/090400427/tradisi-ghan-woja-suku-saghe-di-flores-barat

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+