Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Menikmati Jus Kale dan Daging Analog di Kebun Sayur Banyuwangi

Dari kebun seluas 1.200 meter persegi, mereka menanam berbagai jenis sayur seperti selada, pakcoy, kailan, kangkung lomok, gingseng jawa, kale yang ditanam dengan sistem hydroponik.

Tidak tanggung-tanggung, sayur-sayuran yang mereka tanam dikirim hingga Bali dan Surabaya.

"Sayur kami premium dan setiap 2 minggu sekali kirim ke Surabaya dan juga Bali. Permintaan sangat banyak sampai kami kewalahan," kata Rina sambil tersenyum.

Selain perawatannya yang khusus, sayur yang ditanam oleh mereka ukurannya lebih kecil namun rasanya lebih segar dan rasa alaminya lebih kuat.

Bukan hanya sekadar menjual sayuran segar, di kebun Cahaya Hydrofarm juga menyediakan makanan sehat seperti jus sayur kale dan daging analog yang dibuat dari pati kacang kedelai.

"Daging analog dibuat dari pati kacang kedelai ini makanan vegetarian untuk pengganti daging. Kita sajikan dengan sayuran segar yang semuanya berasal dari kebun sendiri," kata Rina.

Agar rasanya lebih nikmat, saat dijus sayur kale dicampur dengan potongan nanas dan sedikit gula batu.

"Jus ini sengaja kami jual, sekaligus untuk mengenalkan jenis sayuran kale kepada masyarakat dan ingin mengampanyekan hidup sehat. Jus sayur itu enak kok rasanya apalagi kale memiliki kandungan serat yang tinggal serta kaya manfaat. Karena selama ini banyak orang yang beranggapan jus sayur ini nggak enak," ungkapnya.

Sementara itu, untuk menyantap daging analog caranya cukup unik yaitu dengan cara Korea.

Cara makan Korea tersebut dipilih agar pengunjung menikmati sayur segar dengan cara yang berbeda.

"Kalau nggak kita ajarkan makan seperti itu, pasti seladanya dipinggirkan dan tidak dimakan. Kalau gini kan dimakan semua," kata sambil memperlihatkan cara makan daging analog ala Korea.

Kebun Cahaya Hydrofarm tersebut juga menjadi tujuan bagi masyarakat, siswa dan mahasiswa yang ingin memulai berkebun dengan cara hydroponik.

"Sistem berkebun itu ada tiga, yaitu ekologi, edukasi dan ekonomi. Dengan berkebun kita bisa menghijaukan lingkungan. Imbasnya pasti juga ke ekonomi dan ini solusi untuk yang tidak memiliki lahan tanah yang cukup. Jadi nggak ada alasan nggak mau berkebun hanya karena nggak punya lahan tanah," kata Rina.

Sementara itu Tusfendi (20), salah satu mahasiswa Poliwangi Banyuwangi yang berkunjung ke kebun Cahaya Hydrofarm kepada Kompas.com mengatakan banyak mendapatkan informasi tentang berkebun termasuk bagaimana menyiasati cara berkebun di lahan yang sempit.

"Cara penjelasannya detail dan mudah dipahami. Katakanlah nanti saya jadi petani modern. Namun yang membedakan di sini kita juga dapat menikmati makanan sehat yang diolah dari kebun sendiri. Dan ternyata enak," katanya.

https://travel.kompas.com/read/2019/01/10/122700627/menikmati-jus-kale-dan-daging-analog-di-kebun-sayur-banyuwangi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke