Salin Artikel

Menjelajahi Lembah Sawu di Bawah Kaki Gunung Api Ebulobo di Flores (2)

Selama ini hanya mendengar Mauponggo serta penasaran untuk menelusuri ada apa di balik nama Maupongo. Lima tahun lalu, menjelajahi Kampung pusat tradisi Sepa Api di Kampung Pautola, Keo Tengah, lanjut ke pusat musik Ndoto di Kampung Wajo.

Selanjutnya menjelajahi pantai pasir putih di tengah laut di Rii Taa, Kampung Adat Tutubadha, kampung adat Boawae dan batu berbentuk katak, frog stone. Selain itu, Pantai Kota Jogho, gua jepang yang berada di bagian utara dari Kabupaten Nagekeo.

Tawaran kali ini tak di sia-siakan lagi. Senin (25/2/2019), saya mulai melakukan perjalanan wisata dengan bus umum Harapan Tontang, Rute Ruteng-Mauponggo.

Tak asing bagi saya bahwa perjalanan lewat jalan Transflores ke arah Timur dari Waelengga, ibu kota Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur melewati jalan raya yang berliku-liku seperti seekor ular dari arah Aimere, ibu kota Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada menuju ke pertigaan Watujaji.

Setiba di pertigaan Watujaji, kendaraan umum biasa berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang yang menuju ke Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada dan dan ke kampung-kampung lain di wilayah kabupaten tersebut. Juga menunggu penumpang lain yang melakukan perjalanan menuju ke arah Timur Pulau Flores.

Sekitar pukul 14.30 Wita, bus Harapan Tontang yang dikemudikan oleh Om Ton menghidupkan mesin kendaraan dan mulai menelusuri jalan Transflores ke arah Timur.

Sebaiknya apabila kita melakukan perjalanan darat dari arah barat ke timur maupun sebaliknya jangan tidur.

Apabila kita tertidur lelap di kendaraan pribadi dan kendaraan umum yang kita tumpangi maka kita tidak bisa menyaksikan keindahan alam, bukit-bukit yang sangat eksotis di wilayah Pulau Flores.

Saat kita memasuki kawasan Gako, Kecamatan Boawae kita melihat kemegahan puncak gunung api Ebulobo. Bekas puncak gunung api yang pernah meletus ratusan tahun lalu.

Selain itu kita bisa melihat gedung Gereja Katolik Santo Fransiskus Gako yang sesuai dengan arsitektur rumah adat masyarakat setempat. Bekas lahar gunung api Ebulobo terlihat indah saat tidak berkabut. Namun, apabila di tutupi kabut maka kita tak bisa melihat puncak Gunung api Ebulobo.

Pertigaan Gako, Boawae, Pintu Masuk ke Lembah Sawu Mauponggo

Setiba di pertigaan Gako, Kecamatan Boawae sebagai pintu masuk ke kawasan lembah Sawu di Kecamatan Mauponggo. Laju bus yang membawa sejumlah penumpang menuju ke kampung-kampung di Kecamatan Mauponggo berjalan mulus karena jalan raya sudah berhotmix.

Kita merasakan suasana yang berbeda saat memasuki kawasan Mauponggo. Kiri kanan jalan dipadati dengan berbagai tanaman yang menghasilkan uang seperti ribuan pohon pisang, pohon rambutan, kayu-kayu untuk bangun rumah, pohon durian, pohon jambu air dan lain sebagainya.

Bagi peminat dan penyuka buah durian pasti menghentikan kendaraan untuk membeli buah durian. Merasakan buah durian Mauponggo.

Saya menginap di Pastoran Joann Baptista Wolosambi yang disediakan Panitia Festival Pantai Enagera pertama di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.

Menginap di Pastoran Joann Baptista-Bukit Wolosambi

Tempat penginapan sangat strategis untuk melihat ke berbagai arah di Kecamatan Mauponggo adalah Pastoran Joann Baptista Wolosambi.

Wolo dalam bahasa Keo berarti "bukit", sedangkan sambi berarti nama pohon sambi. Jadi dikisahkan bahwa bukit itu penuh dengan pohon sambi. Selanjutnya imam misionaris dari Belanda memilih bukit itu menjadi pusat Paroki di Kecamatan Mauponggo beberapa tahun silam.

Sebuah Gereja Katolik sangat megah di Bukit Sambi itu, Wolosambi yang dibangun misionaris Belanda.

Senin sore itu, saya sudah ditunggu Ketua Umum Pemuda Mauponggo Event Organizer, Lodofikus Raga Muja serta staf Pemuda dan Olahraga di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nagekeo, Yohanes Lado bersama Pastor Paroki Joann Baptista Wolosambi, Romo Rudolf Alfonsus Eka serta pastor rekaannya yang bertugas di paroki tersebut.

Pastoran Joann Baptista Wolosambi berada di salah bukit di Kecamatan Mauponggo. Bagi seorang fotographer amatir dan profesional, bukit ini sangat cocok untuk berburu senja dan sunrise di berbagai arah. Bahkan, tempat yang sangat bagus untuk mengabadikan puncak api Ebulobo.

Selain itu, dari Wolosambi bisa melihat kampung-kampung adat di Lembah Sawu. Hamparan persawahan serta pohon-pohon durian yang penuh dengan buahnya menjadi incaran dari photographer dan jurnalis atau pencinta alam.

Selesai minuman kopi khas Mauponggo, saya diajak Yohanes Lado untuk memotret lembah Sawu, hamparan dan puncak Gunung api Ebulobo serta kawasan Pantai Enagera. Selanjutnya saya mengambil kamera di dalam tas dan mulai memotret. Benar-benar menakjubkan sejauh mata memandang.

Yohanes Lado menanyakan apakah sudah pernah datang di Kecamatan Mauponggo sebelumnya. Saya langsung jawab bahwa saya pertama kali menjelajahi kawasan Lembah Sawu serta menikmati alam di kaki Gunung api Ebulobo.

Pastor Paroki Joann Baptista Wolosambi, Romo Rudolf Alfonsus Eka kepada Kompas.com, Senin (25/2/2019) menjelaskan, Pastoran Joaan Baptista Wolosambi sebagai tempat strategis untuk melihat pemandangan di Lembah Sawu. Setiap tahunnya musim panen buah durian pada Februari sampai Maret.

“Beberapa tahun lalu staf Kementerian Agama berkunjung di SMAK Wolosambi terkejut dengan buah durian yang sangat banyak di kawasan Kecamatan Mauponggo. Bahkan, Wolosambi sangat bagus untuk melihat pemandangan di berbagai arah di Lembah Sawu,” jelasnya.

Ketua Umum Pemuda Mauponggo Event Organizer, Lodofikus Raga Muja bersama dengan Ketua Pelaksana Festival Pantai Enagera pertama di sela-sela persiapan puncak pembukaan festival mengucapkan selamat datang di Pantai Enagera. Silakan mengeksplor Pantai Enagera. Kemudian, saya menuju ke Pantai Enagera untuk mengabadikan keunikan pasir dan bebatuan di pantai itu.

Tak lama kemudian, sejumlah anak-anak di kampung itu bermain-main di pasir di Pantai dan saya mengambil kesempatan itu untuk diabadikan. Bahkan, perlahan-lahan matahari mulai terbenam di ujung barat.

Sore itu lautnya teduh. Deburan ombak dari Laut Sawu memanjakan mata untuk terus memandangnya. Betapa indah dan uniknya karya Sang Pencipta semesta hingga sampai di Pantai Selatan dari Kabupaten Nagekeo

Festival Pantai Enagera Pertama di Kabupaten Nagekeo

Inisiatif Pemuda Mauponggo Event Organizer dengan menggelar Festival Pantai Enagera pertama bagi Kabupaten Nagekeo sejak kabupaten itu menjadi kabupaten otonom tersendiri.

Kabupaten Nagekeo sudah memasuki usia 13 tahun, namun, baru pertama menggelar Festival Pantai Enagera untuk mempromosikan obyek wisata yang berada di Pantai Selatan dari Kabupaten Nagekeo.

“Kami mengawali promosi pariwisata di wilayah Pantai Selatan dari Kabupaten Nagekeo dengan menggelar Festival Pantai Enagera dan selanjutnya akan menggelar event-event pariwisata berikutnya seperti mempromosikan trekking ke Puncak api Ebulobo melalui Lembah Sawu,” katanya. (Bersambung...)

https://travel.kompas.com/read/2019/03/16/213600227/menjelajahi-lembah-sawu-di-bawah-kaki-gunung-api-ebulobo-di-flores-2-

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.