Salin Artikel

Kisah Asam Urat dan Penangkalnya di Desa Sentra Emping Belinjo Magetan

Sepersekian detik kemudian sebuah batu memanjang yang dipegang tangan kirinya menggencet butiran putih bersih belinjo tersebut menyatu dengan belinjo lainnya yang sudah duluan digepengkan.

Untuk membuat satu keping belinjo sebesar telapak tangan dibutuhkan setidaknya 5 hingga 6 biji buah belinjo. Di Desa Purwosari yang berpenduduk hampir 5.000 jiwa tersebut, hampir separuh penduduknya berprofesi sebagai perajin emping belinjo.

Kepala Desa Purwosari, Rojab mengatakan, keahlian membuat emping belinjo sudah turun temurun dari orang tua mereka.

"Desa sini memang menjadi sentra pembuatan emping belinjo sejak dulu. Rasa emping buatan warga sini beda dengan emping buatan daerah lain," ujarnya ditemui di Balai Desa Purwosari, Kamis (18/4/2019).

Untuk membuat sekeping emping belinjo, menurut Robinatun, dibutuhkan proses yang cukup rumit. Dari buah belinjo yang masih memiliki kulit luar harus dibersihkan dan dikupas kulitnya, proses berikutnya adalah membersihkan kulit keras yang melindungi daging belinjo dengan cara disangrai (digoreng tanpa minyak) atau dengan mesin pemisah kulit.

Setelah daging buah belinjo terlepas dari cangkang buah, buah belinjo yang masih memiliki kulit ari kemudian direndam hingga kulit ari buah terkelupas. “Prosesnya masih ditiriskan lagi selama seminggu agar kadar air belinjo berkurang. Baru setelah itu digoreng pakai pasir dan diproses jadi emping belinjo,” katanya.

Jelang Ramadan, Harga Belinjo Melonjak Naik

Sayangnya 2 bulan terakhir Robinatun hanya mampu menghasilkan 3 hingga 5 kilogran emping belinjo dalam sehari. Harga buah belinjo yang meroket membuat perajin emping belinjo Desa Purwosari kesulitan mendapatkan bahan baku. “Biasanya 12 ribu, sekarang sudah 20 ribu, itu pun barangnya sulit didapat,” katanya.

Selain buah belinjo, kulit buah belinjo yang biasanya hanya seharga Rp 5.000 saat ini juga ikut melonjak naik menjadi Rp 12.000.


Perajin keripik kulit belinjo Wiwik mengatakan, kenaikan harga belinjo menjelang bulan puasa menurutnya sudah hal rutin setiap tahun. Apalagi tahun ini bersamaan dengan habisnya masa pohon belinjo berbuah.

Menjelang bulan Ramadhan, para juragan juga mulai menimbun bahan baku pembuatan emping belinjo karena dipastikan permintaan jelang lebaran akan produk emping belinjo naik tajam.

“Biasanya pedagang besar ini belinjonya yang klatak, yang sudah dikupas itu rata-rata ditandu. (Ditimbun) Nanti kalau puasa dikeluarin. Kan mahal, kalau dibuat waktu bulan puasa hari raya nilai jualnya tinggi,” ujarnya.

Pembuat emping musiman menjelang bulan puasa menurut Wiwik juga menjadi salah satu penyebab mengapa belinjo mejadi mahal. Sulit dan mahalnya mencari buah belinjo membuat sejumlah perajin emping belinjo di Desa Purwosari pasrah lebih memilih menjadi buruh dengan bekerja pada para juragan yang memiliki belinjo.

"Di Yogyakarta itu ada emping manis yang keluar menjelang lebaran. Karena butuh banyak, pedagang belinjo yang biasa memasok disini itu pada menjual belinjonya kesana," kata Wiwik.


Di Desa Purwosari terdapat lebih dari 5 pengepul yang biasa membeli hasil emping belinjo buatan warga. Kepala Desa Purwosari Rojab mengaku setiap 3 hari sekali satu pengepul minimal menjual hampir satu ton emping belinjo ke sejumlah daerah seperti Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya.

"Itu baru dari emping belinjo mentah, karena sejumlah warga mulai melakukan inovasi dengan membuat emping goreng manis, ting ting emping belinjo dan keripik kulit belinjo yang kuantitasnya juga lumayan banyak,” katanya.

Biang sampai Penangkal Asam Urat dari Belinjo

Sejumlah warga Desa Purwosari juga mulai melirik produk turunan dari emping belinjo. Salah satunya adalah Wiwik bersama Robinatun yang berkolaborasi membuat ting ting emping belinjo dan keripik kulit belinjo.

Menurut Wiwik, pada awalnya warga hanya membuang begitu saja remah-remah emping belinjo hasil produksi mereka. "Remah-remah itu cuma dibuang karena tidak laku. Kami goreng, kami campur gula merah atau cokelat kemudian kami kemas menjadi ting ting emping belinjo. Alhamdillah laku," katanya.

Meski masih sederhana, keduanya kemudian sepakat membuat kemasan dengan nama "Wiro", gabungan dari nama keduanya, Wiwik dan Robiatun.


Kulit buah belinjo yang biasanya tidak berharga dan dibuang oleh warga juga dimanfaatkan oleh mereka berdua. Sebagian warga biasanya memanfaatkan kulit belinjo sebagai sayur atau menggorengnya menjadi keripik.

Namun karena enggan mengemas dan memberikan rasa pada keripik kulit belinjo buatan mereka, warga hanya menjual murah keripik kulit belinjo yang mereka buat.

Di tangan mereka berdua, keripik kulit belinjo diberi rasa manis dan dikemas dalam plastik transparan menarik dengan label Wiro. Produk keripik kulit belinjo yang mereka jual Rp 10.000 per satu ons tersebut ternyata laris manis diterima pasar.

Untuk penjualan mereka masih banyak mengandalkan menitip pada toko dan jualan online.  "Pemilik toko menilai dari penampilan dan rasa keripik kulit belinjo kami berbeda dari buatan warga, menarik dan gurih,” kata Robiatun.

Dibalik larisnya keripik kulit belinjo buatan mereka, ternyata ada kisah yang tidak mereka duga. Para pembeli keripik kulit belinjo buatan mereka percaya bahwa keripik kulit belinjo tersebut mampu menetralisir asam urat yang biasanya naik usai menyantap emping belinjo. 

Pangsa pasar untuk produk keripik kulit belinjo buatannya, menurut Wiwik, masih sangat terbuka lebar. Sayangnya minimnya pasokan bahan baku kulit belinjo membuat produksi keripik terbatas pada ketersediaan bahan.


Di saat belinjo sulit dan mahal, mereka hanya mampu membuat 3 hingga 5 kilogram keripik kulit belinjo setiap hari. "Ada permintaan dari toko di Madiun kami tolak karena kami tidak mampu memenuhi karena bahan baku yang sulit. Berapa pun kemampuan produksi kami mereka terima," kata Wiwik.

Target Masuk Supermarket

Untuk meningkatkan nilai jual produk keripik kulit belinjo bikinannya, mereka berdua saat ini menargetkan penjualan masuk ke supermarket di Kota Madiun. Meski dari sisi pengemasan dan kualitas produk mereka telah lolos uji, sayangnya perizinan belum mereka kantongi.

Jika dipasarkan di supermarket mereka mengaku mendapat tambahan nilai harga. "Kita masih ngurus perizinan untuk produk UMKM. Supermarketnya sudah siap terima, cuma terkendala perizinan," pungkas Wiwik.

https://travel.kompas.com/read/2019/04/19/201000627/kisah-asam-urat-dan-penangkalnya-di-desa-sentra-emping-belinjo-magetan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.