Salin Artikel

Modus Jastip Luar Negeri Ilegal yang Hindari Pajak, Jangan Dicontoh


JAKARTA, KOMPAS.com - Jastip atau jasa titip bisa jadi peluang bisnis saat berlibur. Namun terkadang para pelaku bisnis jastip ini menyalahi ketentuan yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Indonesia.

Selama ini pemerintah telah menetapkan batas pembebasan bea masuk dan pajak impor (de minimalis value).

Dikutip dari Instagram resmi Ditjen Bea dan Cukai RI @beacukairi menyatakan, khusus barang bawaan penumpang untuk keperluan diberikan pembebasan pajak sebesar 500 dollar AS atau setara Rp 7 juta per penumpang.

Pembebasan ini diberikan untuk barang keperluan pribadi, jadi untuk contoh Jastip tidak mendapatkan pembebasan sehingga wajib melunasi pungutan bea masuk dan pajak impor atas keseluruhan nilai barang.

Para pelaku bisnis jastip umumnya pasti melakukan transaksi di atas 500 dollar AS atau setara dengan Rp 7 juta untuk membeli barang.

Entah itu pakaian, tas dan sepatu bermerak, dan perawatan wajah. Modus yang biasa dilakukan oleh pelaku bisnis jatip adalah dengan melakukan modus splitting.

Modus splitting dilakukan dengan cara memecah barang belanjaan kepada orang-orang agar tidak melebihi dari pembatasan biaya bea dan tentunya terhindar dari pajak, atau jika tidak meninggalkan tas belanjaan agar tidak dicurigai petugas bea cukai.

Hal tersebut pernah dilakukan oleh L, seorang pelaku jastip asal Surabaya yang biasa terbang ke Thailand untuk membeli barang-barang titipan. Jika kembali ke Indonesia ia bisa membawa sampai 75 kilogram barang bawaan baju, aksesoris, tas dan sepatu.

"Kalau pergi ke Thailand pasti beli barang titipan kostemer olshop-ku, pulang-pulang bisa bawa empat sampai lima koper full," jelasnya saat dihubungi oleh Kompas.com, Minggu (9/12/2019).

L mengaku agar tidak terdeteksi atau dicurigai saat masuk di pemerikaan X-Ray baju-baju dan akesoris disebar ke beberapa koper dan ditutupi dengan handuk, peralatan mandi, obat-obatan. Hal tersebut akan meninggalkan kesan bahwa baju dan barang titipan tersebut merupakan barang pribadi.

Pengalaman yang sama dilakukan oleh M, wanita pebisnis jastip ini sempat dihampiri petugas dan diminta membuka kopernya.

Ia saat itu membeli barang titipan berupa baju dan tas dengan estimasi biaya diatas Rp 7 juta. M juga mengaku selalu memutar otak agar tidak kepergok dan harus membayar pajak.

"Sempet dibuka koperku dan aku ngotot sama bapaknya kalo itu punyaku semua. Dia percaya akhirnya aku lolos, terus juga hal ini itu (jastip) cuma hoki-hokian aja," jelasnya.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, peribahasa tersebut cocok mengambarkan alasan mereka mengapa membuka layanan jastip.

Keduanya mengaku mereka bisa jalan-jalan sekaligus berbisnis dan mendatangkan untung yang lumayan besar.

Modus curang ini memang kerap dilakukan dan berpotensi merugikan negara. Sebagai sanksinya barang-barang tersebut akan disita lalu diproses. Lalu bisa diambil jika para pelaku dapat membayar pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebenarnya tidaklah sulit untuk menaati peraturan dari Bea Cukai. Berdasarkan peraturan, pemerintah Indonesia menetapkan batas bea masuk barang bawaan penumpang sebesar 500 dollar AS per orang dari sebelumnya 250 dollar AS per orang.

Salah satu pelaku bisnis jastip legal dilakukan oleh P, asal Jakarta. Wanita yang sering keluar negeri untuk urusan bisnis itu sering membuka jastip ketika hendak kembali ke tanah air.

Ia mengaku membatasi biaya transaksi agar tidak melebihi batas bea masuk barang bawaan yang sudah ditetapkan.

“Kalau aku usahain membatasi trasnsaksi saat di sana aja sih. Kalaupun berlebih aku akan bayar pajaknya, tidak masalah” paparnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (10/12/2019).

Ia mengaku tidak keberatan jika Bea Cukai Indonesia menarik pajak dari barang-barang jastip miliknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh B, yang dulunya sering menerima jastip saat keluar negeri.

“Dulu belanjaannya ya di bawah 250 dollar AS. Sesuai ketentuan dulukan personal expense 250 dollar AS maksimal,” jelasnya.

Ada juga Y, pebisnis jastip berupa makanan, pernak-pernik dan baju saat pergi ke luar negeri. Pria asal Surabaya itu mengaku enggan untuk melanggar ketentuan atau peraturan yang ada.

Ketika berada di luar negeri ia akan membatasi transaksi untuk membeli barang titipan. Y juga mengatakan jika ia akan menutup layanan jastip ketika batas bea masuk barang sudah hampir melampaui batas.

“Akukan sering buka jastip bukan karena kejar untungnya saja, tapi juga tidak mau melanggar aturan. Kalau sudah ketauan ribet dan merugikan diri sendiri juga. Jadi mending aku batasin aja beli-belinya biar enggak lebih dari aturan,” papar Y.

https://travel.kompas.com/read/2019/12/10/200700727/modus-jastip-luar-negeri-ilegal-yang-hindari-pajak-jangan-dicontoh

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Komunikasi Efektif Penting untuk Kenyamanan Wisatawan di Labuan Bajo

Komunikasi Efektif Penting untuk Kenyamanan Wisatawan di Labuan Bajo

Travel Update
Multiple Entry Visa, Tak Hanya Bisa Digunakan untuk Wisata

Multiple Entry Visa, Tak Hanya Bisa Digunakan untuk Wisata

Travel Update
20 Destinasi Wisata Teraman Dunia, Singapura Nomor 1 dan Tak Ada Indonesia

20 Destinasi Wisata Teraman Dunia, Singapura Nomor 1 dan Tak Ada Indonesia

Travel Update
13 Tips Traveling Aman ke Tempat Baru, Riset dan Bawa Perlengkapan

13 Tips Traveling Aman ke Tempat Baru, Riset dan Bawa Perlengkapan

Travel Tips
Jelang Nataru, Okupansi Hotel di Kota Malang Diprediksi Terus Naik

Jelang Nataru, Okupansi Hotel di Kota Malang Diprediksi Terus Naik

Travel Update
30 Tempat Wisata Akhir Tahun di Lembang yang Ramah Anak

30 Tempat Wisata Akhir Tahun di Lembang yang Ramah Anak

Jalan Jalan
Dusun Semilir Akhirnya Akan Grand Opening 8 Januari 2023

Dusun Semilir Akhirnya Akan Grand Opening 8 Januari 2023

Travel Update
Ganjar Sebut Potensi Wisata Religi di Jateng Tinggi, Ini Rekomendasinya

Ganjar Sebut Potensi Wisata Religi di Jateng Tinggi, Ini Rekomendasinya

Travel Update
5 Hotel Dekat Alun-alun Bandungan Semarang, Bisa Jalan Kaki 7 Menit

5 Hotel Dekat Alun-alun Bandungan Semarang, Bisa Jalan Kaki 7 Menit

Jalan Jalan
3 Keunikan Desa Sasak Ende, Rumah Adat hingga Kopi Dicampur Beras

3 Keunikan Desa Sasak Ende, Rumah Adat hingga Kopi Dicampur Beras

Jalan Jalan
20 Destinasi Wisata yang Tidak Aman di Dunia, Indonesia Nomor 10

20 Destinasi Wisata yang Tidak Aman di Dunia, Indonesia Nomor 10

Travel Update
Batik Air Tambah Rute Bali-Melbourne PP Mulai 5 Januari 2023

Batik Air Tambah Rute Bali-Melbourne PP Mulai 5 Januari 2023

Travel Update
5 Makna Filosofis Batik Parang yang Tidak Boleh Dipakai Sembarangan

5 Makna Filosofis Batik Parang yang Tidak Boleh Dipakai Sembarangan

Jalan Jalan
7 Spot Foto Instagramable di Lotte Alley, Serasa di Korea dan Jepang

7 Spot Foto Instagramable di Lotte Alley, Serasa di Korea dan Jepang

Jalan Jalan
Kebun Raya Bogor Buka Lagi Taman Tumbuhan Pemakan Serangga

Kebun Raya Bogor Buka Lagi Taman Tumbuhan Pemakan Serangga

Travel Update
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.