Salin Artikel

Staycation, Tren Wisata Pascapandemi Terkendali

Oleh: Frangky Selamat

TAHUN 2020 akan dikenang sebagai era gelap di dalam sejarah hidup umat manusia. Sejak wabah Covid-19 ditetapkan pada 11 Maret 2020 oleh WHO sebagai bencana kesehatan global, dampak negatif yang diberikannya ke berbagai sektor sungguh luar biasa.

Jauh sebelum status tersebut ditetapkan, sektor pariwisata adalah sektor pertama yang merasakan dampak negatif itu.

Pembatalan perjalanan wisata, penutupan hotel dan tempat wisata, pemutusan hubungan kerja dan sebagainya, menjadi efek berantai yang panjang.

Pandemi Covid-19 bukan yang pertama menghantam sektor pariwisata. Pada 2002-2003 virus SARS meluluhlantakkan sektor wisata di 26 negara dan menginfeksi 8.000 orang dengan 800 jiwa melayang.

Jika dibanding dengan kondisi sekarang, tentu tidak sepadan. Per 1 Mei 2020, virus Covid-19 telah menginfeksi 3.175.207 jiwa dengan korban meninggal sebesar 224.172 jiwa di seluruh dunia (www.who.int). Pariwisata Indonesia turut menderita di dalamnya.

Secara umum, terdapat tiga sektor yang terdampak luar biasa yaitu pariwisata, penerbangan dan maritim serta otomotif.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) memang tidak sebesar otomotif yaitu 2,8 persen.

Adapun sektor otomotif berkontribusi 4,3 persen dan penerbangan sebesar 1,9 persen.

Sekalipun demikian, Pike (2008) mengemukakan bahwa pada basis global, industri pariwisata dalam sejarahnya terbukti memiliki ketahanan (resiliensi) dengan pemulihan yang cepat di berbagai krisis besar yang pernah terjadi.

Itu pun dengan catatan bahwa para pemangku kepentingan melakukan sejumlah aksi agar bencana (disaster) ini tidak menjadi krisis berkepanjangan.

Pike juga mengemukakan bahwa sebagian besar pengelola destinasi tidak memiliki contingency plan untuk menghadapi situasi krisis yang dipicu bencana. Kondisi saat ini mencerminkan itu.

Sambil terus menunggu pandemi terkendali dan penemuan vaksin virus, sejumlah pengelola destinasi wisata mencoba berbenah dan bersiap diri ketika kondisi berangsur normal, walaupun diyakini tidak sepenuhnya normal namun menjadi "new normal".

Kebiasaan yang berubah ketika pandemi dan terus berlaku menjadi sebuah kebiasaan baru.

Konsep staycation

Staycation merupakan gabungan dari dua kata: "stay" and "vacation". Tinggal dan liburan, yang adalah liburan yang dilakukan di rumah.

Awalnya konsep staycation populer di negara-negara seperti Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat ketika krisis finansial global melanda pada 2007-2010.

Dalam konsep ini, setiap individu atau keluarga berpartisipasi dalam kegiatan liburan di daerah setempat, sambil tetap tinggal di rumah masing-masing.

Mereka dapat mengambil bagian dalam beberapa kegiatan seperti perjalanan sehari ke destinasi wisata lokal yang relatif dekat dengan kediamannya, berenang atau melakukan kegiatan menyenangkan lainnya.

Singkat kata, staycation adalah istirahat dari rutinitas sehari-hari tanpa bergerak terlalu jauh dari tempat kediaman.

Ada dua alasan utama mengapa konsep staycation akan menjadi tren wisata jika pandemi telah terkendali.

Pertama, kekhawatiran muncul kembalinya pandemi karena belum ditemukannya obat dan vaksin anti virus, membuat status "lockdown" sejumlah negara atau destinasi tertentu belum dibuka sepenuhnya.

Sekalipun demikian, orang tetap ingin berwisata, mengobati kejenuhan berbulan-bulan "stay at home", mendekam di dalam rumah.

Mereka dapat tetap berwisata tanpa harus beranjak pergi jauh dari tempat kediamannya masing-masing. Opsi "staycation" bisa menjadi tren pascapandemi terkendali.

Dalam perkembangannya, staycation dilakukan dengan menginap di hotel-hotel di dalam atau pinggiran kota, kemudian melakukan berbagai aktivitas rekreasi di dalam hotel atau daerah sekitarnya.

Faktor keamanan dan keselamatan wisatawan menjadi pertimbangan penting. Staycation dapat menawarkan hal itu.

Kedua, faktor utama yang mendorong konsep staycation adalah keterjangkauan dibandingkan dengan liburan konvensional. Staycation lebih murah dengan jangka waktu liburan yang lebih singkat.

Krisis ekonomi yang dipicu oleh pandemi telah memukul daya beli sebagian besar masyarakat. Berwisata yang telah menjadi kebutuhan hidup tidak terhindarkan lagi, namun melakukan penghematan biaya menjadi tidak kalah penting.

Pada kondisi "old normal" sebelum pandemi, konsep staycation digunakan oleh banyak keluarga yang sehari-harinya sibuk dengan rutinitas lalu mencoba mencari "quality time" bersama anggota keluarga lain di sela-sela waktu yang padat.

Pada saat itu juga, liburan konvensional masih dianggap lebih menarik karena banyak tiket pesawat dan diskon hotel yang membuat liburan konvensional tersebut lebih terjangkau dan atraktif.

Secara psikologis juga masih ada "perasaan liburan" yang hilang karena destinasi yang dekat dengan tempat tinggal atau di lingkungan yang relatif sama.

Pada kondisi "new normal" pascapandemi, konsep staycation akan menemukan momentum yang tepat.

Sembari berharap situasi cepat pulih dan kondusif, tidak ada salahnya para pemangku kepentingan destinasi wisata mulai bersiap diri dan mengambil ancang-ancang.

Konsep staycation akan menjadi langkah awal pemulihan sektor wisata Indonesia.

Frangky Selamat
Dosen Tetap Program Studi S1 Manajemen Bisnis, FEB Universitas Tarumanagara

https://travel.kompas.com/read/2020/05/24/190300327/staycation-tren-wisata-pascapandemi-terkendali

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.