Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

DeSeloKaton Boyolali, Kafe dengan Panorama Gunung Merapi dan Merbabu

KOMPAS.com – Ada sebuah kafe baru yang terletak di Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Namanya unik, DeSeloKaton. Nama DeSeloKaton sendiri terinspirasi dari lokasi kafe ini yang seakan berada di antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.

“Ada dua arti sih sebenarnya, selo itu ‘batu’ atau selo itu ‘di antara’ kayak celah gitu. Kita kan di antara, sela-sela. Sela-sela Merapi sama Merbabu,” kata pemilik DeSeloKaton bernama Taufiq saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (13/3/2021).

Selo juga merupakan nama kecamatan tempat kafe ini berada. Sementara kata ‘katon’ pada DeSeloKaton memiliki arti ‘terlihat’ dalam bahasa Jawa.

Pemandangan Gunung Merbabu dan Merapi

Kafe yang baru saja melakukan soft opening awal Maret 2021 ini mengusung konsep industrialis dengan bangunan dua lantai sederhana dan dindingnya dipenuhi kaca dari lantai hingga langit-langit.

Taufiq sengaja memilih lokasi di Jalan Raya Blabak-Boyolali ini selain ramai, pemandangan alamnya juga indah. Termasuk Gunung Merbabu dan Gunung Merapi yang jadi latar belakang, ditambah persawahan milik warga yang mengapit kafe ini di sekelilingnya.

“Bisa melihat Merpapi dan Merbabu secara langsung. Agak ke barat sedikit, waktu sunset itu bisa kelihatan (Gunung) Sindoro Sumbing,” terang Taufiq.

Momen matahari terbenam memang jadi salah satu waktu terbaik untuk datang ke kafe ini. Sementara momen matahari terbit, sayangnya tak bisa terlihat indah dari sini.

Momen yang juga sama bagusnya adalah di pagi hari, dengan cahaya matahari yang datang menembus dinding kaca hingga ke bagian dalam kafe.

Konsep DeSeloKaton

Biasanya, para pengunjung memanfaatkan indahnya pemandangan serta keunikan interior dan bangunan dari kafe ini untuk berfoto ria.

“Dari konstruksi bangunannya juga kita kan ambil yang kayak modern minimalis gitu. Interiornya juga kita manfaatkan barang-barang bekas yang sudah enggak kepakai itu kita daur ulang, gunakan lagi,” ujar Taufiq.

Spot favorit para pengunjung untuk berfoto adalah di bagian dalam bangunan kafe dengan dinding kaca yang menghadap ke Gunung Merapi sebagai latarnya. Banyak pula yang berfoto di depan kafe.

“Kita full kaca. Jadi bangunan itu tembus depan belakang kaca semua. Jadi kalau foto itu seakan-akan gunungnya tembus dari dalam,” imbuh Taufiq.

Bagian interior kafe seperti meja dan kursi, semuanya terbuat dari bahan daur ulang. Ia berusaha untuk memanfaatkan limbah yang ada.

Interiornya juga banyak yang merupakan buatan warga sekitar Selo. Taufiq berusaha menyalurkan keterampilan para warga dengan cara menggunakan barang-barang buatan tangan mereka sebagai ornamen di kafenya.

Barang-barang hasil daur ulang tersebut juga ternyata ikut dijual. Bagi pengunjung yang tertarik untuk membeli barang-barang tersebut, maka bisa langsung membelinya.

Rencana ke depannya

Walaupun baru buka selama lebih kurang dua minggu, Taufiq mengaku antusias masyarakat sangatlah bagus.

“Kita sampai keteteran. Antusiasmenya tidak seperti yang kita bayangkan,” ujar Taufiq.

Ke depan, pihaknya berencana memperluas bangunan kafe dengan memanfaatkan lahan di samping yang masih cukup luas. Bangunan baru ini nantinya akan berlantai dua yang salah satunya dibuat menjadi ruangan seperti ballroom dan area rooftop di atasnya.

Ia juga berencana untuk membangun kolam-kolam di sebelah timur bangunan kafe. Kolam tersebut nantinya akan digunakan sebagai tambahan tempat nongkrong dan berfoto untuk para pengunjung.

“Kita bikin ke bawah gitu, terus kita kasih sofa dan sekelilingnya kita kasih air. Seakan-akan makan di tengah kolam,” sambung Taufiq.

Dirinya juga mengaku ingin membangun aktivitas berkonsep wisata terpadu dengan memanfaatkan lahan pertanian milik warga sekitar. Ia berharap bisa membantu memberikan nilai tambah ekonomi pada mereka.

“Contohnya ada pertanian kalau sini kan sayur ya. Sayur itu untuk saat ini sudah saya arahkan untuk penanamannya biar terlihat rapi, bagus dilihat mata. Kalau ada pengunjung gitu bisa petik langsung. Untuk hasil biar langsung ke petaninya,” papar Taufiq.

Jika sudah mulai berkembang, bukan tidak mungkin Taufiq bisa memperluas paket wisata tersebut jadi mencakup wisata ke peternakan milik warga. Serta membuat homestay dengan mereka.

Namun untuk saat ini, ia mengaku memang baru fokus pada pengembangan kafenya dulu dengan harapan pada 2021 ini konsep paket wisata terpadu tersebut bisa segera tercapai.

DeSeloKaton buka Senin–Jumat pukul 09.00–20.00 WIB dan Sabtu–Minggu pukul 09.00–21.00 WIB. Kafe ini terletak di Jalan Blabak-Boyolali, Dusun IV Samiran, Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

https://travel.kompas.com/read/2021/03/15/170500627/deselokaton-boyolali-kafe-dengan-panorama-gunung-merapi-dan-merbabu

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke