Salin Artikel

Jangan Nekat Lewat Jalan Pintas saat Mendaki Gunung Lawu

KOMPAS.com – Gunung Lawu memiliki lima jalur resmi yang dapat dilintasi oleh para pendaki. Masing-masing jalur juga menawarkan pemandangan dan jarak tempuh menuju puncak yang berbeda-beda.

Adapun, jalur-jalur pendakian Gunung Lawu adalah Cemara Kandang, Candi Cetho, dan Tambak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah serta Cemara Sewu dan Singolangu di Jawa Timur.

Apabila ingin mencapai puncak Lawu lebih cepat saat mendaki via Cemara Kandang, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar, Titis Sri Jawoto menyarankan agar para pendaki tidak melewati jalan pintas.

“Dalam batas kewajaran dan tidak aneh-aneh, ke puncak Lawu bukan sesuatu yang berat. Risiko tidak begitu tinggi sebenarnya. Yang banyak risiko yang aneh-aneh itu, dalam arti lewat jalan pintas,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Titis menceritakan bahwa dulu sering terjadi kejadian pendaki yang tersesat bahkan meninggal saat mendaki Gunung Lawu akibat memaksakan diri melewati jalan pintas tersebut.

Jika pada musim biasa, jalan pintas tersebut akan terlihat seperti jalur berbatu minim tanah. Bagi pendaki yang belum begitu familiar dengan medan Gunung Lawu, ada kemungkinan mereka akan mengira bahwa jalur tersebut adalah jalur berbatu biasa.

Ada jurang dan hutan belantara tak terjamah

Pada saat menaiki gunung lewat jalan pintas, kata dia, para pendaki akan terus menanjak hingga akhirnya menemui jalan menuju puncak.

Meski saat mendaki tidak ada halangan, namun jalur yang merupakan sungai kering tersebut berisiko untuk dilewati saat menuruni puncak.

Pada saat turun, pendaki yang mengikuti jalur ini akan menemui jalur zig-zag yang agak landai. Jaraknya yang mempercepat waktu turun dari puncak mungkin akan membuat pendaki tertarik untuk melewatinya.

“Persoalannya pada saat di zig-zag terakhir, itu masih di perut Gunung Lawu belum di kaki, jalannya sudah berakhir di situ. Tidak ada jalan lagi, tapi sungai kering masih lanjut,” jelas Titis.

Jika pendaki tetap nekat untuk mengikuti jalur sungai kering, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka akan tersesat karena tidak ada jalan lagi.

“Dia sudah pasti akan tersesat. (Kalau) matanya memandang ke bawah, sudah kelihatan kampung-kampung. Tapi tidak ada jalan ke sana. Adanya jurang dan hutan lebat yang tidak terjamah. Dulu banyak yang kehilangan akses lalu terjebak,” sambung dia.

Untuk itu, kata Titis, para pendaki disarankan untuk tetap berada pada jalur pendakian yang telah disediakan.

Sebab, selain ada kemungkinan akan bertemu dengan pendaki lain dan mengurangi potensi tersesat, jalur pendakian yang sudah ada juga memiliki banyak papan penanda jalur dan papan peringatan.

“Sekarang sudah aman, banyak penanda jalur dan papan peringatan. Jalur pendakian semakin jelas,” ucap Titis.

https://travel.kompas.com/read/2021/04/23/081000327/jangan-nekat-lewat-jalan-pintas-saat-mendaki-gunung-lawu-

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Travel Update
Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Travel Update
Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Travel Update
Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Travel Update
Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Travel Update
Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Travel Update
Kamboja Batasi Kedatangan dari 10 Negara untuk Antisipasi Varian Omicron

Kamboja Batasi Kedatangan dari 10 Negara untuk Antisipasi Varian Omicron

Travel Update
9 Negara Masuk Daftar Merah Inggris akibat Varian Omicron

9 Negara Masuk Daftar Merah Inggris akibat Varian Omicron

Travel Update
Lion Air Buka Rute Surabaya-Labuan Bajo PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Lion Air Buka Rute Surabaya-Labuan Bajo PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Travel Update
Lama Karantina WNI dan WNA di Indonesia Bakal Diperpanjang hingga 10 Hari

Lama Karantina WNI dan WNA di Indonesia Bakal Diperpanjang hingga 10 Hari

Travel Update
MotoGP 2022 Bakal Bikin Untung Pariwisata NTB, tapi...

MotoGP 2022 Bakal Bikin Untung Pariwisata NTB, tapi...

Travel Update
Turis Asing Lebih Tahu Gunung Rinjani Ketimbang Gunung Bromo?

Turis Asing Lebih Tahu Gunung Rinjani Ketimbang Gunung Bromo?

Travel Update
Australia Tunda Buka Perbatasan akibat Varian Omicron

Australia Tunda Buka Perbatasan akibat Varian Omicron

Travel Update
Indonesia Larang Kedatangan WNA dari 11 Negara akibat Varian Omicron

Indonesia Larang Kedatangan WNA dari 11 Negara akibat Varian Omicron

Travel Update
Sudah Digencarkan Sejak 2010, Pariwisata Halal di NTB Masih Digodok

Sudah Digencarkan Sejak 2010, Pariwisata Halal di NTB Masih Digodok

Travel Update
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.