Salin Artikel

Ingin Wisata ke Magelang? Yuk Kunjungi Desa Wisata Candirejo

KOMPAS.com - Desa Wisata Candirejo merupakan salah satu desa wisata Magelang yang terletak di jalan Candi Rejo Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Tempat wisata Magelang ini terkenal akan pesona alam pedesaannya yang masih alami dan asri. Tambahan pula panorama perpaduan lanskap Gunung Menoreh yang mampu memukau wisatawan.

Jaraknya kurang lebih tiga kilometer dari arah tenggara Candi Borobudur. Apabila sedang berlibur ke Borobudur, tidak ada salahnya untuk mampir dan menjelajahi tempat ini.

Berbagai daya tarik dan kegiatan wisata dapat ditemukan di Desa Wisata Candirejo. Mulai dari jelajah wisata alam, wisata budaya dan kesenian, kerajinan tangan, hingga wisata kuliner.

Wisatawan bisa melihat aneka atraksi dan tradisi lokal seperti, upacara adat Nyadran dan Sedekah Bumi.

Adapun kesenian lokal yang ada di desa wisata tersebut di antaranya Jathilan dan Kubrosiswo. Ada pula industri rumah tangga berupa kerajinan bambu dan pandan.

Ada beberapa situs budaya di Desa Wisata Candirejo, antara lain Watu Kendil, Toyo Asin, Watu Tumbak, Tempuran Kali Progo, dan Pabelan.

Konon, kata Candirejo berasal dari candighra. Namun, seiring waktu penyebutan berubah menjadi Candirga, lalu Candirja, dan akhirnya menjadi Candirejo hingga saat ini.

Kata candi sendiri berarti batu dan rejo artinya subur. Candirejo diartikan sebagai wilayah yang banyak batu tetapi subur.

Salah satu pengurus Koperasi Desa Wisata Candirejo yang bernama Rifa menceritakan, dulunya desa wisata ini merupakan kawasan pedesaan biasa.

Bahkan, sekitar tahun 1996, Desa Candirejo masuk kategori desa miskin di kawasan Kecamatan Borobudur.

"Dari 20 desa ini, Candirejo masuk urutan 17 desa termiskin, masuk kawasan peta miskin," ucap Rifa saat dihubungi Kompas.com, Selasa (8/6/2021).

Akhirnya, lanjut Rifa, Kepala Desa Candirejo menginisiasi pengembangan desa menjadi desa wisata untuk meningkatkan ekonomi warga sekitar dengan memanfaatkan Candi Borobudur sebagai salah satu daya tariknya.

Kepala desa bersama dengan tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan tokoh ulama mulai membahas konsep pembentukan Desa Wisata Candirejo.

"Setelah itu kami membentuk tim kerja, jadi ada pokja (kelompok kerja) dusun, ada pokja desa. Jadi pokja di dusun ini yang tugasnya menyampaikan atau menyosialisasikan terkait dengan konsep desa wisata ke masyarakat," tutur Rifa.

Sebelum peresmian Desa Wisata Candirejo, pihak desa pun telah menyiapkan warga desa yang akan menjadi pelaku pariwisata di sana. Setelah itu mereka dilatih untuk menjadi pemandu wisata.

Adapun, Desa Wisata Candirejo terdiri dari 15 dusun. Pihak desa pun melakukan pemetaan lokasi berdasarkan potensi wisata dari masing-masing dusun untuk dijadikan paket wisata.

Setelah melakukan pemetaan lokasi dusun, kepala desa akhirnya melakukan pembentukan kepengurusan pengelolaan pariwisata di Desa Wisata Candirejo.

Berdasarkan diskusi dari para tokoh masyarakat dan Kelompok Kerja Pemilihan, akhirnya Desa Wisata Candirejo menggunakan sistem koperasi.

"Kita putuskan untuk menggunakan koperasi karena memang prinsip dasar koperasi dari, oleh, dan untuk anggota. Jadi awal mula untuk pendirian badan hukumnya harus ada minimal syarat anggtoa 20, jadi kita cari dan data 20 orang yang brsedia menjadi anggota koperasi," kata Rifa.

Lalu akhirnya Desa Candirejo resmi menjadi Desa Wisata Candirejo pada tahun 2003. Sementara peresmian secara badan hukum di tahun 2004.

Desa Wisata Candirejo dilengkapi dengan sarana akomodasi yang cukup baik.

Untuk mempertahankan suasana alam dan pedesaan yang masih asli, maka sarana akomodasi yang disediakan di Desa Wisata Candirejo masih berupa pondok-pondok penginapan (homestay) yang merupakan milik warga Desa Candirejo sendiri.

Homestay ini terbagi menjadi tiga jenis, yakni:

1. Homestay sejak awal

Homestay yang pertama ini merupakan rumah para warga Desa Wisata Candirejo sendiri. Pemilik rumah akan menyiapkan satu sampai tiga kamar dalam satu rumah.

Fasilitas yang didapat berupa kamar tidur dan kamar mandi yang digunakan bersamaan dengan pemilik rumah. Harga homestay ini berkisar antara Rp 200.000 - Rp 250.000.

"Pengunjung jadi satu dengan pemilik rumah. Di situ juga ada interaksi dengan pemilik rumah. Jadi nanti mereka juga ada makan malam sarapan bareng dengan pemilik rumah," jelas Rifa.

2. Homestay kedua

Sama dengan homestay pertama, tempat penginapan ini masih merupakan milik warga desa setempat. Bedanya, setiap kamar sudah memiliki fasilitas kamar mandi masing-masing. 

Harganya masih berkisar Rp 200.000 - Rp 250.000.

"Pemiliknya ada di situ, cuma itu bukan sebagai rumah utama, kadang yang punya bisa tidur di situ juga tapi juga punya rumah sendiri," ucap Rifa.

3. Sarana hunian sementara

Sarana hunian sementara (sarhuntar) merupakan program dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR). Letaknya ada di sepanjang jalan utama Candi Borobudur.

Sarhuntar ini dibangun kurang lebih 30 rumah, tetapi satu rumah hanya ada satu kamar. Sarhuntar sendiri dibangun dalam dua kloter.

Sarhuntar pertama memiliki fasilitas seperti kamar, teras, dan pagar.

Sementara, sarhuntar kloter ke dua, dana pembangunannya lebih besar sehingga memiliki fasilitas yang lebih lengkap, seperti kasur dan interior lainnya.

Sarhuntar ini ditarif dengan harga Rp 350.000.

4. Balkondes

Balkondes merupakan program dari Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu BUMN. Lokasinya ada di Dusun Sangen, di Desa Wisata Candirejo.

Fasilitasnya sudah meliputi pendingin ruangan, kamar mandi dalam, toilet, televisi, dan teras untuk tempat bersantai. Harganya Rp 500.000.

Rifa menjelaskan rute menuju Desa Wisata Candirejo dari Kota Yogyakarta. 

Dari Kota Yogyakarta, wisatawan bisa mengambil jalur utama melalui jalan Magelang-Yogyakarta menuju ke arah Candi Borobudur. Namun, sebelum sampai ke Candi Borobdur tepatnya di Dusun Brojonalan, Desa Wanurjo, ada pertigaan jalan, dan kamu bisa ambil arah kiri.

Dari sana, kurang lebih sejauh tiga kilometer mengikuti jalan utama desa, kamu akan sampai di Desa Wisata Candirejo.

Adapun jalur alternatif dari Bandara Yogyakarta bisa mengambil Jalan Nanggulan. Setelah itu arahkan kendaraan ke arah kota mengambil Jalan Cebongan.

Setelah itu, akan sampai di Kecamatan Kalibawang atau patokannya Jembatan Ancol. Kamu akan menemukan Jalan Nanggulan yang akan membawamu sampai ke Candi Mendut.

Namun, sebelum sampai ke Candi Mendut, kamu akan menemukan Pasar Jagalan. Di lokasi tersebut terdapat pertigaan jalan dan wisatawan harus belok ke kiri dan mengambil jalur turunan.

Kemudian akan ada pasar, lalu setelahnya cukup ikuti jalan utama menuju Borobudur.

Kurang lebih satu sampai dua kilometer kamu akan sampai di Desa Wisata Candirejo.

"Patokannya sendiri ketika lewat Desa Candirejo, nanti di sebelah selatan jalan ada lapangan atau tempat parkir besar. Di situ nanti di sebelah timurnya lapangan ada kantor koperasi Desa Wisata Candirejo," tutur Rifa.

https://travel.kompas.com/read/2021/06/09/203600727/ingin-wisata-ke-magelang-yuk-kunjungi-desa-wisata-candirejo

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.