Salin Artikel

Kenalan dengan 5 Olahraga Asli Indonesia, Ada yang Dilombakan di PON XX Papua 2021, Lho!

KOMPAS.com – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa. Penduduk di Indonesia memiliki adat, budaya, agama, dan tradisi yang berbeda, termasuk dalam hal olahraga.

Olahraga tradisional berasal dari tradisi dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dari daerah-daerah yang ada #DiIndonesiaAja.

Bahkan, beberapa di antaranya secara resmi dijadikan cabang olahraga (cabor) dalam perlombaan skala nasional dan internasional, termasuk dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 yang akan berlangsung pada 2-15 Oktober 2021. Berikut ulasannya.

Lompat batu, Kepulauan Nias, Sumatera Utara

Lompat batu berasal dari Kepulauan Nias, Sumatera Utara (Sumut). Masyarakat Nias menyebut olahraga ini dengan nama zawo-zawo.

Dilihat dari riwayatnya, lompat batu bukanlah jenis olahraga. Pada zaman dahulu, peperangan antardesa kerap terjadi di Kepulauan Nias. Penduduk di desa masing-masing pun memasang pagar batu yang tinggi sebagai benteng pertahanan.

Oleh sebab itu, para prajurit tiap desa di Nias diharuskan berlatih untuk melompati batu yang umumnya memiliki tinggi lebih dari 2 meter (m). Hal ini dilakukan agar mereka mudah menyerang desa musuh.

Meski sudah tidak lagi berperang, desa-desa adat di Nias masih memiliki menara batu yang dulu dijadikan sarana latihan melompat tersebut.

Kini, tradisi lompat batu dilakukan oleh para pemuda Nias untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dewasa dan matang secara fisik. Dengan melakukan tradisi ini, mereka akan diakui sebagai lelaki pemberani dan memenuhi syarat untuk menikah.

Adapun jika berkunjung ke Provinsi Sumut untuk menyaksikan tradisi lompat batu, kamu juga bisa mampir ke Danau Toba yang merupakan danau vulkanik terbesar di dunia.

Di destinasi super prioritas tersebut, tepatnya di Desa Wisata Tuktuk Siadong, kamu bisa mencicipi kuliner khas suku Batak, seperti mi gomak, saksang, babi panggang, arsik ikan mas, dan ayam padar. Selain itu, kamu juga bisa berburu kain khas suku Batak, yakni ulos, sebagai suvenir.

Meski belum bisa berkunjung secara langsung, kamu bisa membeli kain ulos dan kerajinan khas Batak lain melalui platform milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) #BeliKreatifLokal di tautan berikut.

Pacu jalur, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau

Pacu jalur merupakan olahraga dayung tradisional dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau. Perahu yang disebut “jalur” oleh masyarakat setempat terbuat dari kayu gelondongan.

Pacu jalur semula hanya diselenggarakan oleh kampung-kampung yang berada di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar agama Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Idulfitri, dan Tahun Baru Muharam.

Adapun perahu yang digunakan dalam pacu jalur memiliki panjang sekitar 25 sampai 40 m dan lebar 1,3 sampai 1,5 m. Setiap perahu bisa memuat 40 sampai 60 orang. Menariknya, perahu tersebut dihias dengan dekorasi unik dan berwarna-warni.

Kini, pacu jalur telah masuk ke dalam kalender pariwisata nasional dan diselenggarakan setiap 23-26 Agustus. Bahkan, olahraga ini menjadi salah satu cabor yang dilombakan pada PON XX Papua 2021. Dengan nama cabor Traditional Boat Race, pacu jalur akan diselenggarakan di venue klaster Kota Jayapura.

Saat menonton pacu jalur ketika nanti situasi pandemi membaik, kamu bisa melengkapi perjalanan wisata dengan menjelajah deretan pulau indah di provinsi ini, seperti Pulau Ranoh, Mubut, dan Bawah.

Kemudian, kamu juga bisa mampir ke Pulau Bintan yang terkenal akan hamparan pantai berpasir putih dengan fasilitas resor mewah dan lapangan golf kelas dunia.

Beragam kuliner yang tersaji di Pulau Bintan juga siap memanjakan lidah kamu, misalnya otak-otak, gonggong, roti prata, kerna, dan mi tarempa.

Pencak silat, Minangkabau, Sumatera Barat, dan Cimande, Jawa Barat

Selain pacu jalur, pencak silat juga menjadi salah satu cabor yang dilombakan pada PON XX Papua 2021 dan digelar di venue klaster Kota Jayapura.

Tak hanya eksis di PON, pencak silat juga sudah masuk ke dalam daftar cabor yang dilombakan pada pesta olahraga internasional, seperti SEA Games dan Asian Games.

Bahkan, pencak silat telah ditetapkan sebagai warisan budaya nonbenda oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 12 Desember 2019.

Meskipun disebut mengandung unsur-unsur bela diri dari China dan India, pencak silat merupakan olahraga asli Indonesia.

Menurut Bapak Pencak Silat Dunia Eddie Marzuki Nalaparya, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (21/4/2020), pencak silat berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, dan Cimande, Jawa Barat. Olahraga ini kemudian menyebar ke seantero Nusantara dengan ragam aliran yang berbeda-beda.

Adapun pencak silat sudah mulai dikenal di Nusantara sejak abad ke-7. Hal ini dibuktikan melalui pahatan relief yang menggambarkan sikap kuda-kuda pencak silat dapat ditemukan pada Candi Borobudur yang terletak di Jawa Tengah.

Sebagai informasi, Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun mulai 770 hingga 842 Masehi. Selain relief, Borobudur dilengkapi dengan 502 arca dan 72 stupa.

Seperti halnya pencak silat, Borobudur juga mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 1991.

Selain kemegahan bangunan, Candi Borobudur juga menawarkan destinasi wisata seru karena letaknya yang berdekatan dengan Bukit Menoreh, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, dan Gunung Merapi.

Beberapa destinasi di kawasan Candi Borobudur yang dapat dikunjungi antara lain Punthuk Setumbu, Candi Mendut, Candi Pawon, Bukit Rema, dan Svargabumi.

Jika hendak berkunjung ke sini usai kondisi pandemi membaik, jangan lupa juga untuk mencicipi kuliner khas setempat, seperti ndas beong, es pleret, dan sego godog.

Selain itu, ragam ekonomi kreatif (ekraf) dari Borobudur dan wilayah Jawa Tengah lain bisa kamu temukan pula di platform #BeliKreatifLokal Kemenparekraf.

Peresean, Lombok, Nusa Tenggara Barat

Peresean merupakan tradisi bertarung yang dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dulu, peresean merupakan syarat untuk bergabung menjadi prajurit Kerajaan Mataram. Peresean akan melatih ketangkasan, ketangguhan, dan keberanian calon prajurit.

Dalam tradisi itu, dua pemuda yang bertarung (pepadu) akan dilengkapi tongkat rotan (penjalin) serta perisai dari kulit kerbau yang tebal dan keras (ende).

Alunan musik yang terdiri dari gong, kendang, rincik, simbal, suling, dan kanjar mengiringi pertarungan antara kedua pemuda. Iringan musik ini semakin memeriahkan peresean.

Pepadu akan berhadapan sambil mengayunkan penjalin ke arah lawan, seperti sedang mencambuk. Mereka akan diawasi oleh dua orang pakembar atau wasit.

Pakembar akan menghentikan pertandingan ketika salah satu pepadu terluka atau berdarah. Meski telah melakukan pertarungan sengit, para pepadu harus saling memeluk dan memaafkan usai bertanding.

Keseruan tradisi itu membuat peresean menjadi pertunjukan yang diminati oleh wisatawan. Penonton harus memiliki cukup keberanian untuk menyaksikan pertarungan yang memacu adrenalin ini. Pasalnya, aksi saling mencabuk ini kerap membuat para pemain bersimbah darah.

Usai menonton tradisi peresean, jangan lupa menikmati kuliner khas suku Sasak, seperti sate bulayak, sate rembiga, jaje tujak, dan bebalung.

Jangan lupa pula menjelajahi kawasan Mandalika yang berada di Pulau Lombok dan tersohor akan pantai eksotisnya, seperti Pantai Kuta, Seger, Serenting, Selong Belanak, Tanjung Aan, dan Gerupuk.

Putar dodutu, Sulawesi Utara

Putar dodutu merupakan permainan tradisional masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut). Dalam bahasa Minahasa, dodutu berarti penumbuk padi.

Putar dodutu biasanya dilakukan petani sambil mengisi waktu luang. Tradisi ini dilakukan oleh dua orang secara berhadapan.

Dalam permainan itu, para peserta akan memutar dodutu ke arah berlawanan. Peserta akan dinyatakan sebagai pemenang jika mencapai putaran kurang lebih 90 derajat.

Permainan putar dodutu mengajarkan nilai kesabaran, kekuatan, persatuan, dan gotong royong yang sudah ditanamkan oleh para leluhur sejak dulu.

Setelah menonton putar dodutu, kamu bisa mampir ke Likupang yang berada di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulut. Destinasi ini merupakan surga bagi para pecinta diving serta snorkeling lantaran memiliki banyak spot dengan terumbu karang dan biota laut yang memukau.

Destinasi super prioritas tersebut juga memiliki sejumlah pantai berpasir putih dan air laut yang sangat jernih. Beberapa di antaranya adalah Pantai Paal, Pulau Gangga, serta Bukit dan Pantai Pulisan.

Selain itu, Likupang juga memiliki ragam kuliner yang mampu memanjakan lidah wisatawan, seperti bubur tinutuan, panada, pisang goroho lengkap dengan sambal roa, dan lalampa.

Itulah lima olahraga asli yang ada #DiIndonesiaAja. Kelima olahraga ini bisa kamu saksikan langsung di daerah asalnya atau saat perhelatan PON XX Papua 2021. Tentu, hal ini bisa kamu lakukan saat kondisi pandemi mulai membaik.

Begitu saat itu tiba, wisatawan juga diminta untuk tetap menaati protokol kesehatan (prokes) 6M saat mengunjungi obyek-obyek wisata tersebut.

Adapun prokes 6M terdiri dari memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama.

Untuk melindungi diri dan orang terdekat dari Covid-19, kamu juga diimbau untuk mengikuti program vaksinasi. Kini, vaksinasi menjadi syarat utama yang harus dimiliki masyarakat untuk bepergian atau berwisata.

Berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 17 Tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 yang diterbitkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, seseorang harus memiliki minimal sertifikat vaksin dosis pertama untuk melakukan perjalanan di Jawa dan Bali.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, tingkat vaksinasi juga berkorelasi besar dalam memastikan langkah-langkah pembukaan kembali destinasi pariwisata serta sentra ekraf, termasuk pembukaan perbatasan untuk wisatawan mancanegara (wisman).

“Jika berbagai program pemerintah untuk membantu pelaku pariwisata dan ekraf tereksekusi dengan baik, saya optimistis, uji coba pembukaan perbatasan dapat dilakukan pada akhir kuartal III atau IV 2021,” kata Sandi dalam laman resmi Kemenparekraf, Rabu (25/8/2021).

Sebagai informasi, demi mendukung pelaku ekraf Tanah Air, khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), Kemenparekraf menginisiasi program #BeliKreatifLokal.

Sandi berharap, program itu mampu membuka akses pasar produk ekraf melalui digitalisasi serta membuat pelaku UMKM tetap produktif dan berkembang, terutama di masa pandemi Covid-19.

Sebelum mengunjungi destinasi wisata impian dan menyaksikan olahraga khasnya, kamu bisa mengikuti akun Instagram @pesonaid_travel untuk mendapatkan berbagai informasi terbaru mengenai sektor pariwisata Indonesia.

https://travel.kompas.com/read/2021/09/01/090300827/kenalan-dengan-5-olahraga-asli-indonesia-ada-yang-dilombakan-di-pon-xx-papua

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.