Salin Artikel

Promosi Pariwisata Kulon Progo Lewat Tiga Film Pendek Berlatar Tempat Wisata dan Budaya

KULON PROGO, KOMPAS.com – Suatu film bisa mempromosikan keindahan dan tempat wisata yang ada di suatu daerah. Film pun bisa menjadi sarana promosi wisata.

Salah satunya ada di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Terdapat film pendek berjudul Menoleh Menoreh yang disutradarai Agoes Kencrot.

Film itu berlatar masa kini, tetapi dibawakan mayoritas dalam bahasa Jawa ngoko atau bahasa keseharian masyarakat Jawa.

Banyak adegan lucu dan menggemaskan sepanjang perjalanan film. Namun menariknya, film ini turut mengeksplorasi beberapa sudut obyek wisata andalan Kulon Progo, seperti Kebun Teh Nglinggo.

Film berdurasi 30 menit ini diproduksi untuk menyiasati pariwisata yang terdampak pandemi. Film lantas digarap dengan berlatar potensi pariwisata Kulon Progo, baik tempat wisata hingga pelaku pariwisata.

“Bahwa Kulon Progo punya potensi yang bisa digali. Film adalah salah satu ekonomi kreatif yang ada di Kulon Progo,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Joko Mursito di Gala Premier Nusa Brata di Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu (18/9/2021).

Acara Gala Premier Nusa Brata itu menjadi ajang rilis tiga film dan anugerah bagi para pemain dan insan film Kulon Progo.

Tidak hanya Menoleh Menoreh. Joko melajutkan bagwa Dinas Pariwisata Kulon Progo memproduksi dua dilm pendek lain, yakni Dolan Mulio dan Nusabrata. Keduanya juga disutradarai Agus Kencrot.

Semua film yang didukung Dana Keistimewaan DIY ini dirilis bersama dalam Gala Premier, Sabtu.

“Kita sudah selesai memproduksi tiga judul film, Dolan Mulio, Menoleh Menoreh, dan Nusa Brata,” kata Joko.

Film Menoleh Menoreh

Adapun, dilm Menoleh Menoreh menceritakan kisah Jula (Rio Srundeng) dan Juli (Tatang Delon). Mereka adalah kakak beradik dan hidup di rumah Jawa bentuk limasan yang jamak ditemui di Kulon Progo.

Rumah itu mungil, tetapi asri. Sebagian berupa bata ekspos dan sebagian lagi dari anyaman bambu.

Bujang kakak beradik ini punya angan-angan mengubah nasib secara instan. Keinginan ini muncul mendadak setelah mengingat kembali tembang yang kerap dilantunkan orangtua mereka.

Tembang orang Jawa memang sarat makna. Menurut pendapat keduanya, makna yang tersirat adalah tentang harta di kahyangan, setelah mengikuti liuk seperti ular dan tak jauh dari bukit sebesar gajah.

Petualangan memburu harta dimulai dari sini. Mereka meyakini di ujung pencarian nanti, ada harta peninggalan orangtua.

Petualangan itu menemui tantangan karena kerabatnya malah berniat mencuri harta itu. Belakangan, si pencuri mengambil “harta” yang keliru.

Berbekal kendaraan roda dua dan alat seadanya, mereka melintas alam yang identik Kulon Progo, seperti kontur bukit, panorama lembah dan gunung di kejauhan, irigasi, orang mengangkut pakan sapi, hutan jati, hingga sungai bening berbatu.

Benar saja, mereka tiba di sebuah rumah yang di dalamnya tersimpan surat wasiat orangtua. Isinya, orangtuanya menitipkan kebun teh luas untuk dikelola bagi masa depan.

“Sebuah kebun teh yang surat tanahnya Bapak titipkan di pegadaian,” kata Juli saat membaca wasiat itu bersama Jula.

Film Dolan Mulio

Film pendek berjudul Dolan Mulio punya gaya berbeda dengan Menoleh Menoreh. Perjalanan film mayoritas dibawakan dengan bahasa Indonesia.

Dolan Mulio mengisahkan sejoli yang sedang jatuh cinta, diwarnai saling ngambek, kembali rukun, dan berakhir bahagia.

Keduanya mengisi eforia pacaran sambil jalan ke berbagai tempat wisata, mulai dari Pantai Glagah, Ekowisata Sungai Mudal, kebun teh Nglinggo dan DolanDeso di Boro Kalibawang.

Film dengan genre persahabatan dan romantisme ini juga mengeksplore keindahan beberapa obyek wisata. Latar belakang keindahan alam membangkitkan rasa penasaran.

Seperti halnya suara gemericik air sungai Mudal dan birunya air sungai. Begitu pula ketika mereka menyibak rerimbun kebun teh di Nglinggo. Timbul kesan obyek wisata Kulon Progo memang sangat asyik dan diminati anak muda.

Film Nusa Brata

Sementara itu, film ketiga berjudul Nusa Brata merupakan film kolosal dengan latar belakang kehidupan Kulon Progo di 1930-an.

Film ini juga disutradarai Agoes Kencrot dengan penulis naskah Susilo Nugroho atau yang lebih dikenal sebagai Den Baguse Ngarsa.

Nusa Brata merupakan akronim dari Manunggal Sedya Mbraya Pariwisata yang dalam Bahasa Indonesia berarti Bersatu Padu Memajukan Pariwisata.

Film ini mengisahkan masyarakat Kulon Progo yang guyup dan rukun menyambut hari jadi. Kebersamaan warga akhirnya bisa mencipta gelar budaya pertunjukan seni budaya khas mereka dalam bentuk pertunjukkan tari perang Sugriwo Subali.

Obyek wisata Goa Kiskendo di Kecamatan Girimulyo jadi latar lokasi pertunjukkan. Goa Kiskendo sering menjadi tuan rumah pertunjukan sendratari karena memiliki panggung terbuka.

Film ini diperankan para pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten Kulon Progo, termasuk Bupati Sutedjo dan Wakil Bupati Fajar Gegana. Selain itu, semua kepala dinas, sejumlah kepala bagian, direktur rumah saki,t maupun para Panewu (camat) ikut ambil bagian.

Nusa Brata lebih menonjolkan keramahan masyarakat Kulon Progo dan guyupnya warga. Banyak juga adegan mengundang tawa utamanya karena peran seorang yang pura-pura sebagai utusan keraton. Ia memanfaatkan kepolosan warga demi keuntungan pribadi.

Pada kesempatan berbeda, Bupati Sutedjo mengatakan, film Nusa Brata dan film lainnya bukan hanya mempromosikan pariwisata Kulon Progo. Film juga membangkitkan kesan kehidupan guyup masyarakat.

“Cerita ini ada edukasi positif untuk publik. Seperti halnya ada rembug (musyawarah warga di Nusa Brata) di film ini sebagai edukasi positif, di samping untuk memperkenalkan potensi wisata di Kulon Progo,” kata Sutedjo.

Testimoni Sandiaga Uno

Film Kulon Progo mendapat testimoni dari sejumlah pesohor, seperti sutrada dan aktris papan atas Indonesia, Hanung Bramantyo dan Reza Rahadian. Mereka mengharapkan lokalitas bisa berbicara di kancah nasional di masa depan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Salahuddin Uno juga ikut memberi testimoni.

Ia menilai, film seperti ini salah satu upaya baik dalam mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah pandemi. Film Pendek Kulon Progo dinilai sebagai salah satu upaya kreatif itu.

“Ke depan (film ini) membantu mempromosikan keindahan alam budaya dan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif (sehingga) Kulon Progo, sehingga makin dikenal masyarakat,” kata Sandiga dalam testimoninya.

https://travel.kompas.com/read/2021/09/19/195012627/promosi-pariwisata-kulon-progo-lewat-tiga-film-pendek-berlatar-tempat-wisata

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.