Salin Artikel

Menelusuri Kemolekan Wakatobi, mulai dari Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, hingga Binongko

KOMPAS.com – Di sebelah tenggara Pulau Sulawesi, terdapat gugusan pulau yang begitu terkenal akan pesona alam bawah lautnya, yaitu Wakatobi.

Wakatobi sendiri merupakan akronim dari nama pulau penyusun, yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Keempat pulau ini menjadi pulau terbesar di gugusan taman nasional tersebut.

Selain ikan dan hewan laut lain, Wakatobi juga menjadi rumah bagi ratusan jenis spesies terumbu karang warna-warni. Karena itu, perairan Wakatobi dijuluki sebagai kawasan karang penghalang (barrier reef) terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia setelah Great Barrier Reef yang berada di Australia.

Seluruh kekayaan bahari itu pula menjadikan Wakatobi ditasbihkan sebagai titik penyelaman terbaik di dunia.

Pesona Wakatobi tak hanya soal lautnya saja, tapi juga budaya dan jejak-jejak sejarah yang tertinggal. Khazanah ini membuat Wakatobi ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Bumi ke-8 di Indonesia oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2012.

Pada dasarnya, masing-masing pulau penyusun Kepulauan Wakatobi punya keunikan tersendiri. Simak ulasannya berikut.

Pulau Wangi-Wangi

Pulau Wangi-Wangi merupakan gerbang sekaligus ibu kota Kabupaten Wakatobi. Secara geografis, wilayah yang dijuluki Pulau Wanci oleh masyarakat setempat ini terbagi dalam 14 desa dan 6 kelurahan, serta memiliki 5 pulau.

Ada beragam pengalaman menarik yang ditawarkan Pulau Wangi-Wangi. Wisatawan dapat menyaksikan atraksi lumba-lumba di perairan Pulau Kapota yang berada di timur pulau. Kemudian, berwisata bahari di Pantai Sousu atau Pantai Waha yang terkenal akan pepohonan mirip cemara.

Pantai lain yang tak kalah unik adalah Moli'i Sahatu. Di pantai yang berada di Desa Patuno ini, wisatawan akan menemukan ratusan mata air tawar di antara sela bebatuan dan pasir pantai.

Selain punya pantai cantik, Pulau Wangi-Wangi juga memiliki beberapa telaga gua dengan kondisi air yang bersih dan jernih, serta suasana alam yang begitu asri. Sebut saja, Telaga Gua Topa di Kelurahan Mandati, Telaga Gua Kontamale di Kelurahan Wanci, dan Telaga Gua Tee Kosapi di Kelurahan Wanci.

Jika ingin suasana berbeda, cobalah kunjungi kawasan dataran tinggi Puncak Waginopo. Sesampainya di atas, wisatawan dapat menyaksikan pemandangan alam, areal perkebunan penduduk, hamparan laut, dan matahari terbenam.

Tidak hanya menawarkan kesenangan, singgah ke Pulau Wangi-Wangi juga akan memperkaya wawasan. Wisatawan bisa belajar budaya dan sejarah di Desa Adat Liya Togo.

Penduduk desa itu masih mempertahankan tradisi hidup di rumah panggung kayu. Kebiasaan ini ternyata mengakar sejak era Kerajaan Liya yang merupakan bagian dari Kesultanan Buton.
Di Desa Adat Liya Togo juga terdapat benteng dan masjid keraton yang merupakan peninggalan kerajaan tersebut.

Hal menarik lain saat berkunjung ke desa tersebut, wisatawan berkesempatan untuk belajar menenun kain dan menyiapkan makanan tradisional bersama penduduk lokal.

Pulau Kaledupa

Sebagian besar Pulau Kaledupa merupakan area konservasi mangrove atau bakau. Pasalnya, masyarakat setempat percaya bahwa tanaman ini merupakan pelindung dari badai, topan lautan, dan serbuan biota laut, seperti kepiting dan kerang.

Menurut Ketua Forum Kaledupa Toudani La Beloro, pelestarian mangrove sudah terjadi jauh sebelum Wakatobi ditetapkan sebagai kawasan taman nasional.

“Bahkan, sebelum Wakatobi resmi masuk dalam teritorial Indonesia,” katanya, seperti diberitakan Kompas.com, Minggu (12/3/2020).

Ada beragam aktivitas menarik yang bisa wisatawan lakukan di Pulau Kaledupa. Salah satunya, belajar menenun di Desa Pajam.

Untuk diketahui, pembuatan tenun di desa tersebut masih menggunakan cara dan alat tradisional. Ada tiga tahapan yang mesti dilalui perajin dalam menghasilkan selembar kain.

Pertama, purunga yang merupakan proses menggulung benang. Tahapan selanjutnya adalah oluri, menggulung benang di atas papan. Terakhir, menenun. Seluruh tahapan ini menghabiskan waktu kurang lebih seminggu.

Kain tenun asal Desa Pajam sendiri memiliki ciri khas motif garis-garis berwarna. Biasanya, kain dengan pola ini dikhususkan untuk wanita. Sementara, tenun untuk pria bercorak kotak-kotak.

Selain terkenal sebagai kampung perajin tenun, desa yang terdiri dari dua kampung, yakni Palea dan Pajam, ini juga punya keistimewaan lain. Desa Pajam juga merupakan kampung pencak silat khas Wakatobi. Ilmu dan gerakan dalam olahraga ini diturunkan secara turun-temurun.

Untuk wisata bahari, wisatawan tak akan kesulitan menemukan pantai-pantai cantik di Pulau Kaledupa. Sebut saja, Pantai Sombano dan Pantai Peropa.

Selain itu, ada pula Pantai Hoga. Obyek wisata yang berjarak kurang lebih 15 menit menggunakan perahu dari Pulau Kaledupa ini merupakan pusat penelitian operasi Wallacea. Karena itu, suasana di sini terbilang lebih tenang dibandingkan pulau lainnya. Suara yang terdengar paling-paling berasal dari deru ombak dan semilir angin laut.

Jika ingin mengenal kehidupan suku Bajo, cobalah kunjungi desa air Bajo Sampela yang berada di lepas pantai Pulau Kaledupa.

Pulau Tomia

Secara otonomi, Pulau Tomia terdiri dari dua kecamatan, yaitu Tomia Timur yang berpusat di Usuku dan Tomia Induk yang berpusat di daerah Waha. Pulau yang berada di selatan Pulau Kaledupa ini juga memiliki 18 desa yang dihuni oleh masyarakat asal suku Bugis, Jawa, Bajo, dan Buton.

Pulau Tomia terbilang lebih kecil dibandingkan pulau-pulau lain di Kepulauan Wakatobi. Karena itu, berkeliling di sini hanya butuh waktu dua hingga tiga jam saja.

Secara topografi, daratan Pulau Tomia dihiasi dengan perbukitan, lembah, dan sabana. Berbagai situs bersejarah juga ada di sini. Contohnya, Benteng Patuha. Oleh masyarakat setempat, bangunan tersebut menjadi tempat perlindungan dari penjajah sekaligus pusat pemukiman warga.

Untuk wisata bahari, Tomia telah menjadi tempat menyelam yang terkenal selama lebih dari 10 tahun. Di sini, terdapat lebih dari 40 lokasi penyelaman yang telah diberi nama dan dipetakan sehingga mudah diakses wisatawan.

Salah satunya adalah Karang Roma yang dipenuhi gerombolan ikan warna-warni, termasuk trevally (kuwe) raksasa, ular laut, dan penyu, serta beragam jenis terumbu karang.
Bagi yang ingin bersantai menikmati suasana laut sambil berjemur, wisatawan bisa bertandang ke Pantai Huntete atau Pantai One Mobaa.

Jika berkunjung ke Pulau Tomia pada bulan Safar dalam penanggalan Islam, wisatawan berkesempatan untuk menyaksikan pesta adat Safara. Hajatan ini merupakan acara syukuran sekaligus ajang mempererat tali silaturahmi sesama warga.

Selain itu, Pulau Tomia juga punya tradisi Bose yang merupakan acara menghias perahu. Perahu-perahu yang telah dihias kemudian diisi dengan sajian makanan tradisional. Salah satunya, Liwo.

Perahu berisi penganan tadi berlayar mengelilingi pantai dari Dermaga Patipelong menuju Dermaga Usuku sampai ke Selat One Mobaa. Kegiatan ini semakin semarak dengan tetabuhan gendang. Pesta adat ini bertujuan agar semua dosa dapat hanyut bersama riaknya air laut.

Pulau Binongko

Pulau Binongko terletak di ujung tenggara Kepulauan Wakatobi. Dari Wangi-Wangi, pulau yang menjadi rumah bagi banyak pandai besi ini dapat ditempuh dengan kapal kayu selama kurang lebih lima hingga enam jam.

Pada beberapa kesempatan, wisatawan yang berkunjung ke Pulau Binongko akan disambut dengan tarian tradisional setempat dan sajian musik gambus.

Setelah itu, wisatawan akan diajak berkeliling melihat besi dan baja diproses, mulai dari penempaan hingga pengasahan. Semua tahapan dilakukan secara tradisional. Meski demikian, pisau atau parang buatan perajin setempat dianggap sebagai produk terbaik di Indonesia.

Keindahan alam Binongko tidak perlu diragukan lagi. Pesona daratan pulau ini terbilang cukup menarik dengan kehadiran Bukit Koncu. Bagi pencinta hiking, obyek wisata ini bisa jadi pilihan tepat. Pasalnya, suasana di sini begitu sejuk dan alami.

Sebagai informasi, bukit tersebut juga merupakan situs bersejarah. Oleh warga Binongko, Bukit Koncu diyakini sebagai lokasi permukiman penduduk pertama di pulau tersebut.

Sementara, pesona bahari Pulau Binongko dapat ditemukan di Pantai Yoro, Pantai Palahidu, Pantai Pasir Panjang, dan Pantai Bela’a.

Itulah keindahan dan keunikan dari masing-masing pulau besar penyusun Kepulauan Wakatobi. Dengan segala pesona yang dimiliki, Wakatobi sangat pantas dimasukkan ke dalam destinasi wisata andalan #DiIndonesiaAja. Apalagi, begitu situasi pandemi Covid-19 sudah mereda.

Jika punya kesempatan ke Wakatobi, jangan lupa untuk selalu mematuhi protokol kesehatan (prokes) 6M yang berlaku.

Adapun prokes 6M terdiri dari memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama.

Pastikan juga kamu sudah mengikuti program vaksinasi. Selain dapat melindungi diri dan orang terdekat dari Covid-19, vaksinasi juga menjadi syarat utama untuk bepergian di Indonesia.

Dalam upaya mempercepat pemulihan destinasi wisata di Wakatobi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) turut menerapkan protokol Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) pada program Wakatobi Rebound.

Melalui program itu, Kemenparekraf ingin membangun kembali kepercayaan masyarakat untuk menyambut wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru. Hal ini dinilai penting mengingat Wakatobi merupakan salah satu Destinasi Pariwisata Prioritas dengan daya tarik utama keindahan taman bawah laut yang sudah mendunia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno berharap, pemerintah kabupaten dan kota setempat dapat memperkuat program kolaborasi dengan berbagai pihak agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) di sana semakin maju.

“Bentuk kolaborasi tersebut dapat berupa pelaksanaan event-event yang mengedepankan tradisi dan budaya setempat. Selain itu, event-event tersebut juga harus dikemas dengan semenarik mungkin dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para wisatawan yang berkunjung,” kata Sandi.

Selain cantik dari segi alam, Wakatobi juga kaya akan kerajinan ekonomi kreatif (ekraf) berkualitas, mulai dari kriya, fesyen, hingga kuliner.

Produk ekraf khas Wakatobi bisa dibeli secara daring melalui platform #BeliKreatifLokal milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) lewat tautan ini.

Sebagai informasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah menggelar program berhadiah Pesona Punya Kuis (PUKIS) dengan total hadiah senilai jutaan rupiah.

Adapun peserta yang ingin mengikuti kuis tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu menjawab satu pertanyaan yang diberikan melalui akun Instagram @pesonaid_travel dan tag tiga orang teman.

https://travel.kompas.com/read/2021/10/13/130300327/menelusuri-kemolekan-wakatobi-mulai-dari-wangi-wangi-kaledupa-tomia-hingga

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jepang Larang Kedatangan Turis Asing untuk Cegah Varian Omicron

Jepang Larang Kedatangan Turis Asing untuk Cegah Varian Omicron

Travel Update
Hotel Santika Tawarkan Harga Promo Tahun Baru, Ada Voucer Rp 50.000

Hotel Santika Tawarkan Harga Promo Tahun Baru, Ada Voucer Rp 50.000

Travel Promo
Staycation di Hotel dengan Anak saat Nataru Tak Perlu Bawa Bukti Tes Covid-19

Staycation di Hotel dengan Anak saat Nataru Tak Perlu Bawa Bukti Tes Covid-19

Travel Update
Hotel Santika Antisipasi Peningkatan Pemesanan Kamar Jelang Nataru

Hotel Santika Antisipasi Peningkatan Pemesanan Kamar Jelang Nataru

Travel Update
Hotel Santika Wajibkan Tamu Reservasi Sebelum Renang atau Fitness

Hotel Santika Wajibkan Tamu Reservasi Sebelum Renang atau Fitness

Travel Update
Sederet Prokes di Jaringan Hotel Santika, Reservasi Dulu Sebelum Berenang

Sederet Prokes di Jaringan Hotel Santika, Reservasi Dulu Sebelum Berenang

Travel Update
Wisata Pantai Watunene Gunungkidul yang Indah dan Masih Sepi

Wisata Pantai Watunene Gunungkidul yang Indah dan Masih Sepi

Jalan Jalan
Update Daftar Daerah PPKM Terbaru di Jawa dan Bali

Update Daftar Daerah PPKM Terbaru di Jawa dan Bali

Travel Update
Semua Pintu Masuk Wisata Gunung Bromo Buka Lagi per 30 November 2021

Semua Pintu Masuk Wisata Gunung Bromo Buka Lagi per 30 November 2021

Travel Update
Aturan Perjalanan PPKM Level 3 Nataru, Wajib Bawa SKM

Aturan Perjalanan PPKM Level 3 Nataru, Wajib Bawa SKM

Travel Update
Pendaki Gunung Lawu via Karanganyar Wajib Pakai Sepatu Gunung

Pendaki Gunung Lawu via Karanganyar Wajib Pakai Sepatu Gunung

Travel Update
Turis Indonesia Sudah Bisa ke Singapura, Syaratnya Siapkan Asuransi Rp 315 Juta

Turis Indonesia Sudah Bisa ke Singapura, Syaratnya Siapkan Asuransi Rp 315 Juta

Travel Update
5 Tips Wisata di Puncak Kuik Ponorogo agar Puas Nikmati Keindahannya

5 Tips Wisata di Puncak Kuik Ponorogo agar Puas Nikmati Keindahannya

Travel Tips
Rute ke Candi Sukuh, Sekitar 45 dari Pusat Kabupaten Karanganyar

Rute ke Candi Sukuh, Sekitar 45 dari Pusat Kabupaten Karanganyar

Travel Tips
5 Tips ke Puncak Kuik Ponorogo, Waspada Jalan Menanjak Terjal dan Berkelok

5 Tips ke Puncak Kuik Ponorogo, Waspada Jalan Menanjak Terjal dan Berkelok

Travel Tips
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.