Salin Artikel

Museum Kapal PLTD Apung di Banda Aceh, Saksi Bisu Tsunami Aceh

KOMPAS.com – Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 adalah salah satu bencana alam yang mungkin masih sulit dilupakan oleh sebagian masyarakat lantaran memakan banyak korban.

Peristiwa yang menyapu pesisir Aceh tersebut terjadi pascagempa dangkal di dasar Samudera Hindia, dan disebut sebagai gempa terbesar kelima yang pernah terjadi dalam sejarah.

Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung, yang menjadi saksi bisu peristiwa itu, kini merupakan sebuah tempat wisata berbasis edukasi bernama Museum Kapal PLTD Apung, dan berlokasi di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh.

  • Hari Ini dalam Sejarah: Mengenang Peristiwa Tsunami Aceh 2004
  • SBY Abadikan Pantai Lampuuk Aceh dalam Lukisan
  • Cara Murah Jelajah Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, Singgahi 3 Dermaga Sekaligus
  • Itinerary 3 Hari 2 Malam di Banda Aceh, Wisata Sejarah di PLTD Apung

Saksi bisu tsunami Aceh

Mengutip keterangan pers dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Selasa (19/10/2021), kapal ini merupakan salah satu saksi bisu peristiwa tsunami Aceh.

Pada saat itu, Kapal PLTD Apung tengah berada di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Namun saat gelombang setinggi sembilan meter menghantam, kapal terseret hingga lima kilometer ke pusat kota Banda Aceh.

Bermula dari kisah tersebut, kapal dengan panjang 63 meter dan berat 2.600 ton itu pun dijadikan sebagai museum oleh pemerintah.

Tempat wisata edukasi kebencanaan

Wisatawan yang berkunjung ke Museum Kapal PLTD Apung akan disuguhi pemandangan sebuah monumen tsunami yang cukup besar.

Pada bagian atas monumen terdapat sebuah jam bundar yang menunjukkan waktu dan tanggal saat tsunami melanda Aceh, yakni pada 26 Desember 2004 pukul 07.55 WIB.

Sementara pada bagian bawah monumen terdapat prasasti berisi nama-nama korban jiwa di lima dusun, yakni Dusun Tuan Balik Ayei dengan 171 jiwa dan Dusun Tuan Dipakeh dengan 212 jiwa.

Kemudian Dusun Tuan Dikandang dengan 350 jiwa, Dusun Lampih Lubhook dengan 276 jiwa, dan Dusun Krueng Doy dengan 68 jiwa.

Pada bagian belakang monumen adalah relief yang menggambarkan bagaimana Kapal PLTD Apung terdampar.

Di sekitar kawasan kapal adalah bangunan rumah yang hancur akibat dihantam tsunami. Kapal ini juga dikelilingi oleh jembatan tua yang butuh perbaikan.

Meski demikian, kondisi kapal masih utuh sehingga pengunjung dapat melihat jangkar yang berada di dek paling bawah, dan kabel-kabel yang putus. Dari atas kapal, wisatawan dapat melihat kota Banda Aceh.

Di kapal ini juga terdapat informasi seputar sejarah PLTD Apung, hingga simulasi kapal hingga bisa sampai ke pusat kota.

  • Tari Saman dari Aceh, Permainan Tradisional yang Jadi Alat Dakwah
  • 19 Oleh-oleh Khas Banda Aceh, dari Camilan hingga Pakaian Adat
  • Cut Meutia Jadi Nama Desa Wisata di Aceh Utara

Penting untuk bangun pemahaman tentang bencana alam

Menparekraf Sandiaga Uno sempat berkunjung ke Museum Kapal PLTD Apung pada Selasa. Menurutnya, tempat wisata ini penting dalam membangun pemahaman bagi wisatawan tentang sebuah peristiwa atau bencana alam.

Dirinya menambahkan bahwa museum tersebut penting untuk membangun pemahaman terkait langkah mitigasi saat terjadi bencana alam.

“Terakhir saya kunjungi pada Maret 2005. Pada saat itu baru saja terjadi tsunami dan sekarang setelah lebih dari 17 tahun sudah terbentuk museum. Untuk itu, saya sangat mengapresiasi pak Walikota, pak Kadispar, karena dapat menghadirkan wisata edukasi di sini,” ujar Sandiaga.

Selama kunjungan, dia didampingi oleh Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, Wakil Walikota Banda Aceh Zainal Arifin, Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh Iskandar, dan Kepala Desa Gampong Armaya Surya.

Perbaruan fasilitas

Sandiaga berencana untuk mengadakan sebuah acara secara hybrid pada 26 Desember 2021 dengan mengundang pihak Rinkai Disaster Prevention Park, Jepang.

Adapun, diskusi dilakukan untuk bertukar gagasan dalam mendukung pengembangan sektor parekraf di Museum Kapal PLTD Apung.

Dia juga mengajak generasi milenial untuk berpartisipasi dalam membuat kegiatan yang dapat mendatangkan manfaat bagi museum tersebut.

“Hal ini tentunya membuka peluang kita untuk memperbarui fasilitas di sini, seperti jembatan yang mengitari kapal yang sudah mulai dimakan usia, lalu air mancur, dan juga fasilitas pendukung lainnya,” jelas Sandiaga.

Dia melanjutkan, tahun depan pihaknya akan mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah dari konferensi besar tentang kebencanaan.

“Nanti mungkin salah satu side event-nya adalah mengunjungi Museum PLTD Apung,” imbuhnya.

https://travel.kompas.com/read/2021/10/25/111600727/museum-kapal-pltd-apung-di-banda-aceh-saksi-bisu-tsunami-aceh

Rekomendasi untuk anda
TIPS, TRIK, DAN TUTORIAL
5 Hal yang Harus Dilakukan jika Berkendara saat Gempa dan Tsunami
5 Hal yang Harus Dilakukan jika...
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.