Salin Artikel

Semangat Kampung Batik Giriloyo Yogyakarta di Tengah Masalah Regenerasi

KOMPAS.com - Sehelai kain batik tulis telah menempuh perjalanan panjang sebelum sampai di tangan pemakainya. 

Pertama-tama, perajin batik wajib menyiapkan bahan, mulai dari kain, malam, hingga pewarna.

Malam atau lilin yang dipakai untuk membatik memengaruhi kualitas kain batik. Jika mutunya kurang bagus, maka goresannya akan patah-patah dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan. 

Saat membatik, api yang digunakan untuk memanaskan malam juga harus diatur dengan benar.

Jika belum panas, maka malam akan sulit keluar dari ujung canting. Namun, jika terlalu panas, malam yang keluar akan menjadi terlalu tipis. 

Usai menjalani proses membatik di kedua sisinya agar warna tidak tembus, kain tersebut memasukki proses pewarnaan. 

Pewarna sintetis tentunya akan lebih mudah untuk menghasilkan warna yang diinginkan. 

Namun, lain halnya dengan pewarna alami. Untuk pewarna dari tanaman indigofera, misalnya, harus difermentasi dan didiamkan selama 24 jam terlebih dahulu agar menghasilkan warna biru. Jika hendak dipakai, pewarna tersebut juga harus dicampur dengan bahan lainnya. 

Perjalanan kain batik tulis tidak berhenti sampai di titik itu. 

Apabila ada beragam warna dalam satu kain, maka kain tersebut akan melewati proses membatik dan pewarnaan lagi. Secara keseluruhan, proses tersebut memakan waktu mulai dari dua minggu.

Hal itulah yang diajarkan oleh para perajin di Kampung Batik Giriloyo di Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Kampung ini adalah rumah dari Paguyuban Batik Giriloyo, sebuah perkumpulan 12 kelompok kecil perajin batik dari tiga dusun, yaitu Giriloyo, Cengkehan, dan Karang Kulon.

Melansir Kompas.com, Sabtu (1/1/2022), dengan biaya paket mulai dari Rp 250.000 untuk lima orang, wisatawan bisa belajar membatik dari awal hingga akhir. 

Banyak hal yang bisa dipetik dari proses membatik. Di antaranya adalah ketenangan dan kreativitas.

"Kalau orang membatik pas kondisi batin lagi enggak nyaman, lagi ada masalah, batiknya juga acak-acakan gitu. Maksudnya, kadang ada aja gangguannya - cantingnya mampet, terus apinya juga enggak bisa lancar. Terus penorehan di kain juga beda. Kalau pas hatinya lagi enak, lagi enggak nyaman juga beda," terang Bendahara Paguyuban Batik Giriloyo, Wasihatun, kepada Kompas.com, Jumat (17/12/2021), sebagai bagian dari rangkaian Traveloka Garuda Flyers Club Media Trip to Yogyakarta.

Sedangkan, menurutnya, jika ada malam yang tidak sengaja menetes di luar pola yang sudah dibuat, maka perajin batik bisa membuat pola baru dari tetesan tersebut mengikuti kreativitas dan imajinasi mereka.

Motif batik yang ada di tempat ini merupakan motif klasik dari abad ke-17. Antara lain sidomukti, sido asih atau sida asih, wahyu tumurun, truntum, dan parang. 

"Kalau batiknya sendiri, batik klasik Mataram," ujar salah satu perajin batik di Kampung Batik Giriloyo, Diah. 

Pada zaman dahulu, lanjutnya, masyarakat setempat diajarkan membatik lantaran adanya kebutuhan sandang yang cukup banyak dari Kerajaan Mataram. 

"Batik itu kalau zaman dulu dipakai oleh para bangsawan, bukan orang biasa. Jadi kalau kita hanya diajari batiknya saja, belum diajari warna, belum diajari bagaimana caranya menjadi kain," katanya.

Pada tahun 2006, gempa mengguncang tanah Yogyakarta. Kompas.com melaporkan, Kamis (27/5/2021), bencana tersebut merusak ratusan ribu rumah dan menyebabkan ribuan orang meninggal dunia. 

Peristiwa tersebut juga menjadi awal berdirinya Paguyuban Batik Giriloyo, sekaligus pemberdayaan perajin batik di area tersebut.

"Dengan adanya paguyuban ini kita juga berpikir bagaimana batik bisa menjadi penopang ekonomi masyarakat. Tidak hanya menjual karya batiknya saja, tapi kita juga menjual edukasinya. Jadi kita menawarkan pelajaran batik kepada semua wisatawan yang datang ke Giriloyo dari TK sampai yang – masyarakat umum, para pejabat juga untuk ikut batik," ujar Diah.

Tidak hanya itu, paguyuban ini juga memiliki sistem pengolahan limbah batik sendiri, khususnya untuk pewarna sintetis.

Pandemi Covid-19 menyebabkan Kampung Batik Giriloyo melakukan penyesuaian.

Pada Maret 2020, tempat ini ditutup, lalu dibuka kembali pada September hingga akhir tahun 2020. Namun, tempat ini terpaksa tutup lagi pada awal tahun 2021 hingga September 2021. 

"September sampai sekarang mulai ada transaksi, walaupun belum seperti sebelum pandemi. Kalau penurunan dilihat dari tahun 2020 untuk penjualannya sekitar 90 persen penurunannya. Jauh sekali karena kan tutup," kata Diah.

Sementara itu, menurut Wasihatun, omzet tertinggi mereka terjadi sebelum pandemi melanda. 

"Di tahun 2019 omzet di galeri ini dari batiknya, bukan dari belajar paketan batik, hampir setengah miliar lebih. Satu tahun. Itu bahkan hampir mencapai satu miliar kurang sedikit," kata Wasihatun. 

Kampung Batik Giriloyo juga berdaptasi dengan situasi yang ada, mulai dari menerapkan protokol kesehatan di tempat wisata hingga vaksinasi untuk seluruh perajin.

Kendati demikian, Diah mengungkapkan bahwa pemasaran masih menjadi kendala yang mereka hadapi.

"Kalau produk kita satu bulan misalnya bisa mengumpulkan 600, yang terjual belum tentu bisa sebanyak itu. Kemudian penghasilannya juga kecil sebagai perajin batik," ujar Diah.  

Sebagai informasi, sehelai kain batik bisa dijual mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 3 jutaan. Ada juga syal batik dengan harga mulai dari Rp 250.000.

Masalah pemasaran tersebut juga ditambah dengan adanya masalah regenerasi. 

"Kalau dulu awalnya sampai 1.000 orang dari tahun ke tahun ternyata semakin ke sini semakin berkurang perajinnya. Untuk survei terakhir tahun 2019, jumlahnya sekitar 600 (orang) yang masih aktif," katanya.

Saat ini, perajin batik di Kampung Batik Giriloyo seluruhnya perempuan dengan rata-rata usia 30 tahun ke atas. 

Ia melanjutkan, ketika kondisi ekonomi membaik, sehingga beberapa warga bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi, terjadi pergeseran profesi ketika mereka lulus. 

"Mungkin ada suatu pergeseran yang dulu orang tuanya sebagai pembatik mungkin anak perempuannya bergeser (profesi). Jadi berkurang, berkurang, seperti itu," tuturnya. 

Meski demikian, berdasarkan apa yang ia lihat selama ini, warga setempat yang sudah berkeluarga dan tidak bekerja di kantor atau di pabrik lagi, akan kembali menjadi perajin batik sambil menjaga anak-anaknya di rumah. 

Dengan menjadi perajin batik, mereka mendapat tambahan penghasilan untuk keluarga. 

https://travel.kompas.com/read/2022/01/06/213500627/semangat-kampung-batik-giriloyo-yogyakarta-di-tengah-masalah-regenerasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

Travel Update
5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

Travel Tips
Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam Hari 

Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam Hari 

Jalan Jalan
Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Travel Update
Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Travel Update
Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Travel Update
Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Jalan Jalan
Mengenal Sungai Aare, Sungai Terpanjang di Swiss dari Pegunungan Alpen

Mengenal Sungai Aare, Sungai Terpanjang di Swiss dari Pegunungan Alpen

Travel Update
Camping di Bukit Golo Nawang, Manggarai NTT, Lihat Indahnya Sunrise

Camping di Bukit Golo Nawang, Manggarai NTT, Lihat Indahnya Sunrise

Jalan Jalan
Cara Selamatkan Diri Saat Hanyut di Sungai, Jangan Lawan Arus

Cara Selamatkan Diri Saat Hanyut di Sungai, Jangan Lawan Arus

Travel Tips
7 Kafe di Trawas Mojokerto yang Buka Malam Hari, Bisa buat Nongkrong dan Ngopi

7 Kafe di Trawas Mojokerto yang Buka Malam Hari, Bisa buat Nongkrong dan Ngopi

Travel Promo
Yogyakarta Maksimalkan Wisata Kotabaru, Jalur Skuter Listrik hingga Perawatan Wajah

Yogyakarta Maksimalkan Wisata Kotabaru, Jalur Skuter Listrik hingga Perawatan Wajah

Travel Update
Jalan Raya di Jepang Ini Tak Bisa Dilewati Kendaraan, Ini Sebabnya

Jalan Raya di Jepang Ini Tak Bisa Dilewati Kendaraan, Ini Sebabnya

Travel Update
5 Jembatan Gantung Unik di Pulau Jawa, Suguhkan Pemandangan Indah

5 Jembatan Gantung Unik di Pulau Jawa, Suguhkan Pemandangan Indah

Jalan Jalan
Pendaki Rinjani Jatuh Mengaku Didorong Perempuan Cantik, Pemandu Imbau 3 Hal Ini

Pendaki Rinjani Jatuh Mengaku Didorong Perempuan Cantik, Pemandu Imbau 3 Hal Ini

Travel Tips
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.