Salin Artikel

Cerita Shalat Idul Fitri WNI di 5 Negara, Rindu Malam Takbiran

JAKARTA, KOMPAS.com - Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang ditemui setiap tahunnya membawa memori tersendiri bagi setiap orang.

Ketika tinggal jauh dari tanah air, setiap momen ketika Idul Fitri pun menjadi sesuatu yang amat dirindukan, termasuk momen shalat Idul Fitri.

Kompas.com melalui live streaming di kanal YouTube Kompas.com berbincang dengan sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjalani momen Idul Fitri 2022 di luar negeri.

Mereka membagikan keseruan hari raya, termsuk suasana menjalankan shalat Idul Fitri di negeri orang.

Tinggal di New York selama sekitar lima tahun terakhir membuat Harfa begitu merindukan suasana Idul Fitri di tanah air. Meski sempat beberapa kali pulang ke Indonesia, namun ia tak pernah tiba saat momen Idul Fitri.

Tahun ini, Harfa merasakan momen Idul Fitri yang cukup meriah, apalagi karena dua tahun sebelumnya shalat Idul Fitri tak dilaksanakan akibat pandemu.

"2020, 2021 kami benar-benar shalat Id di kamar, virtual saja. Jadi imam dan penceramahnya ada di masjid tapi kami melaksanakannya di apartemen masing-masing," ujarnya kepada Kompas.com.

Selama berada di lokasi shalat Idul Fitri, Harfa merasakan seperti tidak sedang berada di Amerika Serikat.

Sebab, sebagian besar orang yang datang adalah WNI, baik yang sedang bekerja di sana, sekolah, maupun warga keturunan Indonesia.

"Jadi kami kayak ada di rumah, di Indonesia. Sampai sana, ramai banget orang-orang. Kedengarannya di mana-mana (ngobrol) Bahasa Indonesia," sambungnya.

Selain itu, tahun ini shalt Idul Fitri diselenggarakan dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, yang membuat Harfa semakin merasa seperti di berada di rumah.

Meski jauh dari tanah air, namun Hana merasakan vibe Idul Fitri yang cukup kental di tempat tinggalnya saat ini, Marseille.

Sebab, kota di selatan Perancis itu lebih banyak dihuni oleh penduduk muslim dari berbagai negara dibandingkan kota-kota lain.

Hal itu membuat Hana banyak menemui orang-orang dengan pakaian muslim berjalan untuk shalat Idul Fitri.

"Di jalan lihat banyak sekali yang pakai baju muslim, baik baju koko maupun baju seragam keluarga. Tipikal seragam Idul Fitri. Banyak sekali," katanya.

Tahun ini, Hana menjalani shalat Idul Fitri di KJRI Marseille, sementara tahun sebelumnya di Masjid Agung Perancis di Pris.

Ia bercerita, muslim yang melaksanakan shalat Idul Fitri di Paris saat itu sangatlah banyak, bahkan sebagian di antaranya tak kebagian tempat di dalam masjid.

"(Di Paris) pesertanya banyak sekali sampai harus ngantri keluar masjid, tapi alhamdulillah saya bisa masuk ke dalam masjid untuk menunaikan shalat Idul Fitri," ucap dia.

Shalat Idul Fitri di London dimulai pukul 09.00 waktu setempat.

Nadia yang melakukan shalat Idul Fitri di Wisma Nusantara atau kediaman Duta Besar Desra Percaya harus memesan tiket terlebih dahulu karena keterbatasan tempat.

Setibanya di sana, pengunjung diimbau memindai tiket dan tidak melakukan kontak fisik. Bahkan, makanan dibagikan berupa nasi kotak alih-alih digelar secara prasmanan, demi menjaga protokol kesehatan.

Bagi WNI yang sudah tinggal di London selama beberapa tahun, momen tersebut begitu dirindukan. Sebab, dua tahun sebelumnya shalat Idul Fitri tak digelar akibat pandemi.

Sementara bagi Nadia, ini adalah pertama kali menjalani shalat Idul Fitri di London.

Ia mengaku merindukan suara takbiran pada malam Idul Futri yang biasa dirasakannya di tanah air.

Untuk itu, mendengar suara takbir pada pagi hari membuat kerinduannya cukup terobati.

"Jujut saya kami mencari takbiran dari semalam, di London Central Mosque tidak ada takbiran. Kami sudah menunggu-nunggu."

"Pagi hari ini mendengar takbiran sangat mengobati rasa rindu terhadap lebaran di Indonesia," tuturnya.

Sama seperti di beberapa negara lain, Sydney juga baru kembali menggelar shalat Idul Fitri yang absen dua tahun belakangan karena pandemi.

Yulia yang melaksanakan shalat di Diamond Venue, Sydney itu merasakan suasana Idul Fitri yang menyenangkan dan penuh semangat karena bertemu dengan banyak WNI lain.

Selain itu, penceramah shalat juga orang Indonesia, meskipun ceramah diterjemahkan pula ke dalam Bahasa Inggris untuk jamaah lainnya.

"Di sini yang datang banyak, lebih dari 1.000 (orang). Seru banget, ada dua lantai kami berbondong-bondong datang," ujarnya.

Selain karena sudah hampir dua tahun tak pulang ke kampung halaman, suasana shalat Idul Fitri yang meriah tersebut tak didapatkannya tahun lalu di Tasmania.

"Sebelumnya di Tasmania. Karena komunitas Islam dan Indonesianya enggak banyak, jadi hari lebarannya kayak hari-hari biasa. Enggak ada bedanya."

"Di sini cukup berbeda karena komunitas Indonesianya banyak banget. Jadi kami pakai baju (lebaran), dandan-dandan cantik," kata Yulia.

Songkhla dihuni oleh banyak penduduk muslim Thailand. Itulah mengapa, Dzerlina merasa nyaman tinggal di sana selama beberapa bulan terakhir.

Meskipun, ia mengaku suasana Idul Fitri di Songkhla terasa sepi karena banyak penduduknya pulang ke kampung halaman.

"Di Songkhla istimewanya, kita kan tahunya Thailand mostly Buddhist. Jadi, ada 10 persen warga Thailand itu muslim dan 90 persennya di selatan, termasuk di area Songkhla."

"Jadi banyak pemukiman muslim di sini, banyak makanan halal," ucapnya.

Suasana Idul Fitri juga cukup terasa, apalagi Pemerintah Thailand memberikan libur resmi untuk lima provinsi di selatan, termasuk Songkhla.

"Yang lain enggak libur. Jadi mungkin teman-teman seperti di Bangkok, tidak libur. Tapi kami dapat libur satu (hari) alhamdulillah," ucap dia.

Di samping itu, rutinitas usai shalat Idul Fitri yang dijalani Dzerlina di Songkhla juga mirip di Indonesia, seperti berkumpul atau betsalam-salaman.

"Mirip (seperti di Indonesia). Jadi habis shalat Id ketemu saudara-saudara, saling ngucapin hari raya. Tapi kayak selamat Hari Raya Idul Fitri saja, enggak mohon maaf lahir batin. Biasa saja," kata dia.

https://travel.kompas.com/read/2022/05/04/083540427/cerita-shalat-idul-fitri-wni-di-5-negara-rindu-malam-takbiran

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.