Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Makna Menerbangkan Lampion Saat Hari Raya Waisak bagi Umat Buddha

KOMPAS.com – Perayaan Hari Raya Waisak di Indonesia umumnya disertai kegiatan pelepasan lampion ke langit. 

Acara pelepasan lampion tersebut salah satunya diadakan di Candi Borobudur, Jawa Tengah, serta dihadiri oleh para biksu hingga masyarakat.

Banyaknya lampion yang diterbangkan menciptakan pemandangan tersendiri lantaran berlatar langit malam.  

  • 30 Ucapan Selamat Hari Raya Waisak, Hangat dan Penuh Makna
  • Kapan Waktu Terbaik Memberi Ucapan Selamat Waisak?
  • Catat, Cara Pesan Tiket Pelepasan Lampion Waisak 2022 di Borobudur

Di balik acara menerbangkan lampion saat Hari Raya Waisak, terselip makna yang mendalam.

Ketua umum Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia (LKBI), Dr. Rusli SE, SH, MM, menjelaskan bahwa makna pelepasan lampion saat Waisak adalah agar doa-doa yang dipanjatkan bisa segera terwujud.

“Dengan menerbangkan lampion ke langit, diharapkan doa-doa serta keinginan lebih mudah terwujud, karena dekat dengan langit,” jelas Rusli kepada Kompas.com, Kamis (12/5/2022).

Walaupun lampion adalah salah satu elemen yang telah dikenal saat Hari Raya Waisak di Indonesia, sebenarnya ada ritual lain yang tidak kalah penting.  

“Selain menerbangkan lampion, ada ritual lainnya yang biasa dijalankan oleh umat Buddha yakni membakar kertas atau dupa dan ceremony (upacara) memanjatkan doa,” kata Rusli.

Meski perayaan Hari Raya Waisak bisa digelar dengan meriah, umat Buddha diketahui lebih mengutamakan amal baik di kehidupan sehari-hari. 

“Hidup itu harus bijaksana dengan banyak-banyak senyum, memudahkan jalan orang lain yang bisa membawa rasa kebahagiaan kepada orang banyak,” tutur Rusli. 

Rusli menyebutkanlima sila dari ajaran Buddhis yang wajib diamalkan oleh para penganutnya.

Dilansir dari BBC, berikut  lima hal yang menjadi pedoman umat Buddha dalam menjalani kehidupan mereka di dunia agar terhindar dari penderitaan serta mendapat pencerahan:

  1. Menahan diri dari mengambil kehidupan, contohnya tidak membunuh makhluk hidup apapun termasuk hewan, sehingga banyak umat Buddha yang menjadi vegetarian.
  2. Menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, maksudnya dilarang untuk mencuri dari siapapun.
  3. Menahan diri dari penyalahgunaan indra, artinya adalah tidak melakukan perbuatan tercela melalui indra yang dimiliki. Misalnya, tidak melakukan zina.
  4. Menghindari ucapan yang salah, maksudnya tidak boleh berbohong atau bergosip tentang orang lain.
  5. Menahan diri dari minuman keras yang mengaburkan pikiran. Umat Buddha diketahui dilarang minum alkohol atau menggunakan obat-obatan, karena itu bisa menyebabkan kesulitan berpikir jernih.

Ia melanjutkan, seminggu sebelum perayaan Waisak, umat Buddha kerap melakukan banyak kegiatan. Mulai dari mengambil air yang disakralkan, hingga melakukan baksos (bakti sosial), jadi setiap harinya selalu ada kegiatan menjelang Waisak.

“Umat Buddha mengutamakan baksos dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan kemanusiaan, karena itu lebih penting dari semuanya,” tuturnya.

  • Sejarah Hari Raya Umat Buddha Waisak, Ada 3 Peristiwa Penting
  • Hari Raya Waisak, Apa Itu Waisak dan Bagaimana Umat Buddha Merayakannya?
  • Apa Itu Hari Raya Waisak dan Kenapa Tanggal Perayaannya Berubah-ubah

Menurutnya, umat Buddha lebih mementingkan melakukan amal kebaikan saat Waisak daripada perayannya yang tampak meriah. 

“Jika ingin doa cepat sampai (dikabulkan), melakukan kebaikan dan kegiatan kemanusiaan wajib dilakukan lebih dulu.”

Selain itu, agama ini juga akrab dengan kata-kata "Sabbe satta bhavantu sukhitatta" yang artinya adalah semoga semua makhluk berbahagia. 

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa, dalam ajaran Buddha, semua makhluk hidup, tak hanya manusia, juga berhak atas kebahagiaan.

https://travel.kompas.com/read/2022/05/12/171100727/makna-menerbangkan-lampion-saat-hari-raya-waisak-bagi-umat-buddha

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke