Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

6 Keunikan Candi Borobudur, Dibangun dari 2 Juta Batu 

KOMPAS.com - Candi Borobudur mempunyai sejumlah keunikan yang menjadi daya tarik situs sejarah ini. Tak heran, banyak wisatawan mancanegara dan domestik berkunjung ke Candi Borobudur. 

Dalam beberapa hari terakhir, Candi Borobudur menjadi perbincangan hangat. Sebab, pemerintah berencana memasang tarif tiket naik Candi Borobudur menjadi Rp 750.000 per orang. 

Sementara, tiket masuk tetap dipatok Rp 50.000 per orang. Namun, wisatawan hanya bisa memasuki area pelataran Candi Borobudur.

Lantas, apa saja keunikan Candi Borobudur sehingga menyedot perhatian wisatawan mancanegara dan domestik? Berikut enam keunikan Candi Borobudur yang dihimpun Kompas.com.

1. Peninggalan Dinasti Syailendra abad ke-7 hingga ke-8

Tidak ada bukti pasti tahun pembangunan Candi Borobudur. Namun, Sejarawan J.G. de Casparis berpendapat bahwa candi ini dibangun pada masa wangsa atau Dinasti Syailendra, berdasarkan informasi dari situs Balai Konservasi Borobudur. 

Pembangunan candi diperkirakan pada masa kepemimpinan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra pada abad ke-7 hingga ke-8, tepatnya 782-812 masehi. Pendapat itu berdasarkan interpretasi prasasti berangka 824 masehi dan prasasti Sri Kahulunan berangka 842 masehi.

2. Tempat pemujaan Buddha  

Bukan sekadar bangunan sejarah, Candi Borobudur ternyata merupakan tempat pemujaan Buddha, seperti dikutip dari laman Taman Wisata Candi. 

Situs ini berisi petunjuk agar manusia menjauhkan diri dari nafsu dunia dan menuju kebijaksanaan menurut Buddha. Borobudur dibangun dengan gaya Mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha.

Secara filosofis, Candi Borobudur dibagi menjadi tiga tingkatan vertikal. Pertama, Kamadhatu atau alam dunia yang sedang dijalani oleh manusia. 

Kedua, Rupadhatu atau alam peralihan, dimana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia. Ketiga, Arupadhatu atau alam tertinggi yang merupakan rumah Buddha. 

Namun, hasil penelitian geologi, vulkanologi, dan arkeologi belum dapat membuktikan letusan hebat tersebut. Pada abad ke-18, dapat dipastikan Candi Borobudur sudah tidak digunakan lagi.

  • Alternatif Candi Borobudur, Ini 10 Wisata Candi di Yogyakarta dengan Harga Terjangkau
  • Harga Tiket Naik Candi Borobudur Rp 750.000, Ibadah Umat Buddha Tak Akan Terganggu

Beberapa naskah Jawa, salah satunya Centhini, menyebutkan lokasi candi ini sebagai bukit atau tempat yang dapat membawa kematian atau kesialan. Artinya, tempat ini sudah ditinggalkan sebagai tempat suci agama Buddha.

Pada 1814, Candi Borobudur kembali ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang berkuasa atas Tanah Air kala itu. Raffles juga memerintahkan pembersihan situs dari pepohonan dan semak belukar.

4. Bangunan candi menggunakan 2 juta batu 

Berdasarkan informasi dari situs Balai Konservasi Borobudur, bangunan candi menggunakan batu-batu yang berasal dari sungai di sekitar Borobudur. Volume seluruh batu-batu tersebut sekitar 55.000 meter kubik, atau sekitar 2 juta potong batu. 

Struktur bangunan candi berbentuk kotak, dengan empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran. Panjang candi mencapai 121,66 meter, lebar 121,38 meter, dan tinggi  35,40 meter.

Susunan bangunan berupa sembilan teras berundak, terdiri dari enam teras berdenah persegi dan tiga teras berdenah lingkaran. Pada puncaknya, terdapat stupa induk berukuran besar. 

Secara geografis, Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sebelah  timur, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di utara, dan pegunungan Menoreh di Selatan. Tak heran, panorama dari puncak candi sangat menawan. 

Selain itu, Candi Borobudur terletak di antara Sungai Progo dan Sungai Elo. Candi Borobudur berdiri megah di atas bukit yang telah dimodifikasi, dengan ketinggian sekitar 265 mdpl.

Relief tersebut berada tingkatan Kamadhatu dan Rapadhatu. Tingkatan Kamadhatu terdiri dari 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Relief ini menggambarkan sifat dan nafsu duniawi manusia. 

  • Kenapa Jumlah Wisatawan di Candi Borobudur Harus Dibatasi?
  • Harga Tiket Masuk Candi Borobudur Masih Belum Naik, Ini Daftarnya

Selanjutnya, tingkat Rupadhatu mewakili dunia antara, menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi. Pada tingkatan ini, terdapat 1.300 panil relief yang terdiri dari relief Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha.

Sedangkan, pada tingkatan Arupadhatu tidak terdapat ornamen maupun hiasan, yang berarti menggambarkan kemurnian tertinggi.

Bagian ini terdiri dari stupa berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Secara keseluruhan, terdapat 72 stupa pada tingkatan Arupadhatu.

Stupa terbesar berada di tengah candi. Namun, stupa ini tidak setinggi versi aslinya yang memiliki tinggi 42 meter dengan diameter 9,9 meter.

6. Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO

Pada 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia (World Heritage Sites) oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). 

Berdasarkan informasi dari situs Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, UNESCO turut membantu pemugaran Candi Borobudur tahap kedua pada 1973 – 1983. 

UNESCO mendatangkan tenaga ahli yaitu Prof. Dr, P. Coremans, Kepala Laboratoire Central des Musees de Belgique. Coremans mendiagnosa bahwa Candi Borobudur menderita penyakit “kanker batu”, jika dibiarkan akan menghancurkan batu-batu candi secara perlahan. 

Pada 1960, Borobudur dinyatakan dalam keadaan darurat. UNESCO pun terlibat lebih aktif dalam upaya penyelamatan situs sejarah ini. 

Pada 1971, dilakukan upaya penyelamatan Candi Borobudur secara besar-besaran, setelah UNESCO menyetujui pemberian bantuan pemugaran candi. 

Pada 23 Februari 1983, pemugaran Candi Borobudur dinyatakan selesai. Selanjutnya, Presiden Soeharto meresmikan pembukaan Candi Borobudur bagi masyarakat luas. 

https://travel.kompas.com/read/2022/06/08/125657927/6-keunikan-candi-borobudur-dibangun-dari-2-juta-batu

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke