Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

45 Tahun Masjid Istiqlal, Masjid Terbesar di Asia Tenggara

KOMPAS.com- Keberadaan Masjid Istiqlal sebagai salah satu rumah ibadah umat Islam di Jakarta bukan hal yang asing terdengar.

Rumah ibadah yang dirancang sejak era Presiden Soekarno (Bung Karno) ini menjadi salah satu tempat ikonis dan populer di Ibu Kota. Khususnya bagi umat islam dan wisatawan penikmat wisata religi.

  • Jam Buka Masjid Istiqlal dan Panduan Transportasi Umumnya
  • 6 Fakta Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid Terbesar di Asia Tenggara

"45 tahun yang lalu kita patut bersyukur karena ada orang yang punya cita-cita besar, yakni Bung Karno, menggagas sebuah masjid kebanggaan bangsa," kata Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar saat ditemui di Masjid Istiqlal, Selasa (14/2/2023).

Dikutip dari laman resmi Masjid Istiqlal, hadirnya masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut pada saat ini merupakan wujud realisasi impian para petinggi ulama setelah Indonesia merdeka pada 1945.

Pada saat itu para ulama ingin agar Indonesia memiliki suatu tempat kebanggaan sekaligus tempat untuk beribadah yang istimewa di hati masyarakat.

Dalam hal ini kenginan para ulama diimplementasikan melalui sebuah masjid. Rencana tersebut kemudian disambut baik dan dilaksanakan saat pemerintahan Presiden Soekarno. 

Nazaruddin Umar menceritakan bahwa proses pembangunan Masjid Istiqlal sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta perihal lokasi pembangunan masjid.

Bung Karno pada saat itu mengusulkan untuk membangun masjid di area bekas benteng Belanda yaitu kawasan Benteng Frederick Hendrik dan Taman Wilhelmina.

Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan untuk membangun masjid di dekat Pasar Tanah Abang.

Dari perbedaan pendapat tersebut kemudian diputuskan untuk membangun masjid di kawasan bekas benteng Belanda. Salah satu pertimbangannya yaitu karena ingin membangun masjid untuk 3.000 tahun.

"Masjid ini bukan dibangun untuk tiga abad, melainkan 3.000 tahun," kata Nazaruddin.

Pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961. Setelah 17 tahun pengerjaan, Masjid Istiqlal kemudian diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.

Oleh sebab itu, setiap tanggal 22 Februari diperingati sebagai Hari Istiqlal.

Menilik 10 tahun belakangan, Nazaruddin menyampaikan bahwa bangunan Masjid Istiqlal secara fungsional tidak hanya dijadikan sebagai rumah ibadah umat Islam.

"Istiqlal itu buka hanya untuk tempat ibadah, hanya 20 persen untuk shalat, 80 persennya itu untuk pemberdayaan umat, bangsa, dan masyarakat," tuturnya.

Beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di Masjid Istiqlal, seperti menyediakan berbagai kebutuhan pokok dan mengembangkan institusi pendidikan berbasis Islami.

"Di Istiqlal juga ada dialog lintas agama yang rutin diadakan. Setiap persoalan kebangsaan kita selesaikan di masjid ini. Jadi bukan hanya untuk umat Islam, tapi juga untuk umat agama lainnya," katanya. 

Sepanjang 45 tahun berdirinya Masjid Istiqlal, perubahan paling signifikan yang terjadi pada 10 tahun belakangan bisa dilihat dari hasil renovasi bangunan pascapandemi.

Nazaruddin mengatakan, renovasi Masjid Istiqlal terakhir kali dilakukan sekitar awal tahun 2019, tepatnya saat pandemi Covid 19 mulai masuk ke Indonesia.

Pada awalnya, ujarnya, Masjid Istiqlal direncanakan akan ditutup selama satu tahun dalam rangka renovasi. 

Bahkan, pengerjaannya pun akan dilakukan selalam 24 jam dengan sistem siang dan malam. Hal ini dilakukan supaya pengerjaan renovasi bisa segera selesai dan tidak terlalu lama menutup masjid. 

"Ketika mau kita umumkan untuk penutupan Istiqlal, tiba-tiba Covid 19 datang, dan pada saat itu instruksi dari pemerintah tidak boleh datang ke masjid," katanya.

Bertepatan dengan imbauan tersebut, maka Masjid Istiqlal kemudian ditutup dan renovasi masjid pun mulai dikerjakan.

"Pengerjaannya dua tahun, begitu selesai renovasi, orang-orang saat datang ke Masjid Istiqlal kaget dengan perubahannya," ucap Nazaruddin. 

Salah satu perubahan yang cukup signifikan pada Masjid Istiqlal pascarenovasi, menurut Nazaruddin, adalah penampakan halaman masjid yang lebih teratur.

Adapun halaman Masjid Istiqlal dulunya penuh dengan mobil yang terparkir dan para pedagang kaki lima. Area tersebut tampak ramai dan tidak teratur, terutama saat hari Jumat.

"Sekarang tidak ada parkir di halaman, semua parkiran dialihkan ke basement. Ada dua basement yang bisa menampung sekitar 1.000 mobil. Area parkir yang dulu, kini kita jadikan taman," jelasnya. 

Perubahan terbaru lainnya di Masjid Istiqlal yang bisa dilihat yaitu hadirnya Terowongan Silaturahim (Terowongan Silaturahmi), terowongan bawah tanah penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.

Nazaruddin mengatakan, hadirnya terowongan tersebut sebagai bentuk implementasi toleransi beragama. Namun, sayangnya, terowongan tersebut belum dibuka untuk umum.

Ke depannya dari segi arsitektur, ujar Nazaruddin, di Masjid Istiqlal akan dibangun sebuah tower (menara).

Sementara itu, dari segi fungsional, Nazaruddin berharap pemanfaatan Masjid Istiqlal sebagai lokasi institusi pendidikan bisa difokuskan ke tempat terpisah.

Menurutnya, lokasi Masjid Istiqlal sebagai rumah ibadah sudah cukup penuh dan tidak memungkinkan jika digabung dengan institusi pendidikan.

"Kemungkinan institusi pendidikan akan dipindahkan, supaya di sini (di Istiqlal) fokus ke Masjid (tempat ibadah) saja," pungkasnya. 

https://travel.kompas.com/read/2023/02/15/142046127/45-tahun-masjid-istiqlal-masjid-terbesar-di-asia-tenggara

Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke