Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

5 Tips ke Jepang untuk Pemula, Unduh Aplikasi dan Cari Tahu Informasi

KOMPAS.com - Jika berencana liburan ke Jepang dalam waktu dekat, negara ini tengah menyiapkan wisatawan untuk menyambut musim gugur dan musim dingin. 

Executive Director Japan National Tourism Organization (JNTO) Tamaki Hatakenaka mengatakan, ada beragam destinasi yang baru dan menarik untuk dikunjungi di Jepang. 

"Untuk wilayah kalau dibandingkan dengan Indonesia, ini negara yang kecil tapi Jepang memanjang dari utara ke selatan, tiap-tiap wilayah menawarkan pemandangan yang berbeda-beda," kata Tamaki saat ditemui di Jakarta, Selasa (15/8/2023). 

Lebih lanjut, kata dia, Jepang bukan hanya terdiri dari Tokyo, Kyoto, dan Osaka saja, tetapi ada banyak wilayah di Jepang yang menarik untuk dikunjungi. 

"Selain salju putih yang siap menyambut wisatawan, ada beberapa aktivitas baru seperti taman hiburan Harry Potter, Universal Studio Japan, dan lain-lain," tuturnya.

Ia juga membagikan beberapa tips bagi wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi Jepang. Berikut rangkuman tips yang bisa disimak. 

Terkait dengan keharusan sebelum bepergian ke negara lain yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, Tamaki berpesan agar wisatawan bisa melakukan riset mendalam soal informasi apa pun mengenai Jepang, termasuk visa. 

Salah satu dokumen yang harus disiapkan sebelum ke Jepang adalah visa. Namun, warga negara Indonesia (WNI) pemegang paspor elektronik (e-paspor) yang berencana ke Jepang maksimal 15 hari, bisa mengajukan registrasi bebas visa.

Selain soal visa, wisatawan juga harus menyiapkan pakaian yang disesuaikan dengan durasi dan musim saat berkunjung serta mengetahui aturan perjalanan dan selama di Jepang

Informasi terpercaya bisa kamu dapatkan melalui situs resmi JNTO, aplikasi JNTO, atau langsung bertanya pada pihak terkait, misalnya saat ada kegiatan seperti Japan Travel Fair. 

Tamaki menyampaikan, umumnya orang Jepang memahami bahasa Inggris dan bisa menggunakan percakapan sederhana, namun beberapa masih malu atau belum terbiasa saat ditanyai wisatawan asing. 

Oleh karena itu, ada baiknya memahami kata sapaan sederhana, seperti, "Selamat pagi, permisi, maaf ingin bertanya", untuk mengawali percakapan dengan warga Jepang. 

"Jadi buat yang pertama kali ke Jepang kalau bisa minimal tahu salam, setelah bisa salam dari bahasa Jepang, baru nanti kalau mau bertanya dalam Bahasa Inggris," kata dia. 

Dengan cara seperti ini, umumnya orang Jepang akan lebih terbuka dan bisa memberikan respons yang baik, meski sebenarnya secara umum, kata Tamaki, mereka akan berusaha menjawab dan membantu wisatawan asing yang bertanya. 

Selain itu, kamu sebaiknya menyiapkan juga aplikasi seperti Google Lens atau Google Translate di ponsel.

Meski sudah memahami percakapan sederhana, ada kalanya kamu akan bingung saat berbicara dengan orang Jepang. 

Selanjutnya, Tamaki menyarankan wisatawan untuk mengunduh aplikasi resmi yang dapat membantu perjalanan selama di Jepang, di antaranya aplikasi resmi JNTO, Free Japan Travel Guide DiGJAPAN!, atau Japan2Go!. 

"Dari JNTO juga ada aplikasi di ponsel. Kalau bisa ini di-download (diunduh) karena mengandung informasi-informasi yang berguna," ujar dia. 

Rute jalan, transportasi umum, penginapan, dan kuliner akan diinformasikan melalui aplikasi tersebut dan sudah diterjemahkan ke bahasa pengguna. Hal tersebut berguna saat wisatawan menghadapi situasi darurat.

Terkait durasi berwisata yang ideal, rata-rata paket wisata ke Jepang yang ditawarkan oleh agen perjalanan berdurasi antara lima hingga tujuh hari.

Biasanya dengan durasi tersebut, wisatawan sudah bisa mengunjungi tiga atau empat kota, misalnya Tokyo, Yokohama, Osaka, dan Kyoto.

"Kalau dari data yang kami miliki orang Indonesia normalnya berada di Jepang sekitar 7-14 hari. Jadi keliatannya itu waktu yang paling ideal dan paling nyaman untuk wisata," kata Tamaki. 

Adapun bagi pemegang paspor elektronik, bisa mengajukan masa tinggal tanpa visa maksimal selama 15 hari. 

Bagi wisatawan muslim yang harus melakukan ibadah wajib, seperti shalat, tidak perlu khawatir. Kota-kota besar di Jepang umumnya sudah menyediakan sarana ibadah, namun untuk perlengkapan seperti mukena tentunya lebih baik dibawa sendiri setiap saat.

Adapun sertifikasi halal layaknya milik Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Indonesia memang belum ada di restoran-restoran di Jepang.

Kendati demikian, kata Tamaki, sejumlah restoran berusaha untuk menunjukkan bahwa makanannya tidak mengandung bahan-bahan yang haram.

"Seperti apakah itu babi dan juga alkohol, dan untuk menunjukkannya itu diusahakan semudah mungkin dengan menggunakan logo," ujarnya.

Sebagai antisipasi makanan halal, kamu bisa membawa bekal beku atau cepat saji kemasan dari Indonesia.

Kamu bisa juga membuat makanan sendiri dari bahan-bahan yang dijual di supermarket, dan menyiapkannya di apartemen atau kamar hotel dengan dapur. 

https://travel.kompas.com/read/2023/08/17/060600327/5-tips-ke-jepang-untuk-pemula-unduh-aplikasi-dan-cari-tahu-informasi

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke