Sate Mak Syukur, Cita Rasa Warisan Leluhur

Kompas.com - 19/02/2008, 16:32 WIB
Editor

Tahun 1941, Mak Syukur memikul tempat panggang dan berjalan sekitar empat kilometer dari Padang Panjang ke arah Batusangkar untuk menjajakan sate. Abad ke-21 ini, keturunan Mak Syukur tinggal menanti pelanggan mampir ke rumah makan.


 
Pelanggan sate Mak Syukur tengah menikmati tiap porsi sate di kedai Sate Mak Syukur (SMS) di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Kenikmatan sate merupakan warisan turun-temurun dari Mak Syukur yang menjajakan sate sejak tahun 1941
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama almarhum Mak Syukur—sebutan untuk Sutan Rajo Endah—memang sudah terkenal sebagai penjaja sate di Padang Panjang, sebuah kota yang terletak di perlintasan antara Padang-Bukittinggi, Sumatera Barat. Kata ”Mak” dalam bahasa Minang merupakan akronim dari mamak yang berarti panggilan untuk laki-laki dewasa.

Hingga kini, nama Mak Syukur, yang hidup tahun 1911-1985, masih tetap terkenal. Tidak heran bila anak-anak beliau tetap memasang papan nama Sate Mak Syukur. Tetapi, tidak hanya nama saja yang bertahan, warisan rasa sate berkuah kuning kental itu masih tetap enak dinikmati di Kota Padang Panjang, tepatnya di Jalan Sutan Syahrir Silaing Bawah.

Irisan daging sapi yang ditusuk serta disusun di ujung bilah bambu ini menjadi teman menyantap katupek, sebutan ketupat dalam bahasa Minang. Kuah yang disiram ke atas katupek dan sate inilah yang menjadikan santapan ini berkesan di lidah.

Sate Mak Syukur, yang juga sering disingkat SMS ini, mempunyai kekhasan pada rasa sate, dan terutama di rasa kuah. Daging yang dipakai untuk sate Mak Syukur diambil dari bagian rusuk serta punuk sapi. Pada bagian ini, daging yang dihasilkan tidak terlampau keras namun masih mengandung lemak.

”Lemak inilah yang membuat rasa sate nikmat. Namun, lemak tidak diikutsertakan manakala sate sudah akan dibakar dan disajikan,” tutur H Syafril Syukur, putra bungsu Mak Syukur, pemilik kedai SMS di Padang Panjang.

Sapi yang dipilih untuk bahan sate juga khusus, yakni sapi yang dibesarkan di Padang Panjang. Dari tes rasa yang dilakukan sejak zaman Mak Syukur, sapi dari Padang Panjang diyakini mempunyai rasa daging yang berbeda. Jumlah pakan yang berlimpah serta udara khas Padang Panjang dianggap sebagai faktor yang menentukan rasa daging sapi kemudian.

Selain daging sapi, bagian lain yang juga dijadikan sate adalah usus, jantung, dan lidah sapi. Syafril berpesan agar pembeli yang sudah mempunyai kadar kolesterol tinggi sebaiknya berhati-hati karena kandungan kolesterol pada usus sapi ini tergolong tinggi. Meskipun ada ancaman kolesterol, ketiga jenis sate ini tetap saja laris.

”Sate usus, lidah, dan jantung sapi ini biasanya cepat habis karena banyak peminat. Kalau sudah siang, pasti sulit mendapatkan sate jenis ini,” papar Nurdin Karim alias Oyong, pimpinan di kedai SMS Padang Panjang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X