Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berkelana ke Negeri-negeri Stan (57)

Kompas.com - 23/05/2008, 07:35 WIB
Editor

[Tayang:  Senin - Jumat]


Wajah yang Tersembunyi

Di antara sedikit wajah Islam yang 'direstui' oleh pemerintah Uzbekistan, adalah ajaran tassawuf, atau Sufisme, yang dibawa oleh sang guru besar Bahauddin Naqshband Bukhari.

Di negara yang mayoritas penduduknya Muslim ini, agama Islam justru menjadi hal yang sangat sensitif. Saya teringat suatu hari di sebuah taksi antar kota, saya asyik membaca buku tentang pergerakan fundamentalis Islam di Lembah Ferghana, ditulis oleh seorang jurnalis dari Pakistan. Kebetulan penumpang yang duduk di sebelah saya adalah polisi, penasaran ingin tahu isi buku yang sejak tadi menyedot perhatian saya.

Dia terloncat kaget ketika membaca nama-nama yang 'tidak baik', seperti Harakatul Islami Uzbekistan (Gerakan Islam Uzbekistan), Hizbut-Tahir, dan Taleqan Juma Namangani – buronan nomer satu pemerintah Tashkent yang sempat membikin ribut negara-negara Asia Tengah karena gerakan garis keras bawah tanahnya. Dalam sekejap, polisi yang semula akrab itu berubah sikap. Setelah menanyai ini itu, dia diam seribu bahasa sepanjang perjalanan. Mungkin dia sibuk mengira-ngira apakah saya ini kawan atau ancaman nasional.

Saya juga ingat betul, di kesempatan lain ketika saya melintas perbatasan Uzbekistan dari Turkmenistan, tas saya digeledah dengan teliti. Kebetulan saya membawa buku-buku pelajaran bahasa Arab dan sejarah Persia. Saya tidak tahu bahwa buku-buku bertulis huruf Arab bisa jadi masalah di sini.

            "Kamu bawa buku agama Islam?"
            Saya menggeleng, "itu cuma buku pelajaran, bukan buku agama."

Keadaan sempat jadi runyam, karena di backpack saya ada buku berjudul Taliban, tulisan jurnalis Ahmed Rashid, tentang sejarah pergerakan Taliban di Afghanistan. Setelah pemeriksaan ketat hampir satu jam, baru saya diizinkan lewat.

Pemerintah Uzbekistan memang sangat sensitif terhadap apa-apa yang berbau 'garis keras'. Teman saya bercerita, dulu di Lembah Ferghana, waktu zaman lagi heboh-hebohnya gerakan Harakatul Islami dan Hizbut Tahir, cuma gara-gara berjenggot pun bisa ditangkap polisi. Saya diwanti-wanti untuk tidak memublikasikan foto dia sedang bersalat di Pasar Ferghana karena takut polisi. Sebegitu besarnyakah ketakutan itu, hingga menunaikan salat di tempat umum malah membuatnya seperti dikejar-kejar dosa?

Tetapi tentu saja Lembah Ferghana adalah cerita lain. Tashkent sangat kosmopolitan, dan kisah-kisah tentang Harakatul Islami dari Ferghana yang ingin mendirikan negara Islam seperti cerita dari dunia lain saja. Bahkan di Bukhara, yang boleh dikatakan paling Islami di antara kota-kota Uzbekistan pada umumnya, kehidupan sangat damai dan tenang, jauh dari bayang-bayang kekerasan. Turis terus berdatangan, restoran-restoran baru bermunculan, dan bahkan sudah ada diskotik bawah tanah di kota kuno Bukhara.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+