Berkelana ke Negeri-negeri Stan (66)

Kompas.com - 05/06/2008, 06:09 WIB
Editor
[Tayang:  Senin - Jumat]

Yor-Yor

Adakah yang lebih sempurna dari ini, menghadiri pesta pernikahan tradisional Uzbek di jantung peradaban Uzbekistan, Lembah Ferghana? Yor-yor mengalun lembut menyebar tangis, ibu-ibu tua berkerudung menari-nari, dan mempelai perempuan sesenggukan di balik cadar.

Kebetulan sekali waktu saya masih asyik menghabiskan waktu di pabrik sutra Yodgorlik di Margilan, ada orang yang membagikan sobekan kertas undangan pernikahan. Acaranya besok pagi.

            "Sudah, datang saja," kata Firuza. Tetapi saya kan tidak diundang.
            "Tak masalah. Orang Margilan sangat suka kalau acara pernikahannya didatangi orang asing. Malah kadang undangan disebar sembarangan di pasar-pasar."

Dengan muka setebal tembok, saya datang ke alamat yang tertulis di atas sobekan kertas undangan itu. Bukannya dicerca pertanyaan macam-macam, saya malah disambut tuan rumah dengan penuh kehangatan. Keramahan Lembah Ferghana di Uzbekistan memang tidak perlu diragukan lagi.

Para tamu pria duduk di halaman, yang sudah dipasangi tenda dan berdinding karpet-karpet bermotif indah. Merah menyala. Tamu-tamu mengenakan chapan, jubah tebal yang sebagian besar berwarna gelap, cocok untuk musim dingin begini. Kakek-kakek tua mengenakan topi bulu hitam, tinggi dan besar. Tuan rumah segera menyiapkan roti nan dan teh hijau, bagian tak terpisahkan dari meja makan Uzbekistan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Melihat ada tamu asing yang datang, tuan rumah buru-buru memperkenalkan saya ke anggota keluarga. Saya dibawa dari meja ke meja, dan setiap perkenalan selalu dimulai dengan menengadahkan tangan bersama-sama, seorang pembaca doa yang berkomat-kamit cepat, dan diakhiri dengan menyerukan Amin. Setelah berputar-putar di ruangan untuk tamu pria, saya dibawa ke dalam pekarangan rumah, untuk melihat bagian bagi tamu-tamu wanita.

Resepsi pernikahan tradisional Uzbek, terutama di Lembah Ferghana yang masih sangat kuat pengaruh agama Islamnya, tamu laki-laki dipisah dari tamu perempuan. Ini sesuai dengan prinsip chador. Seperti di bagian pria tadi, saya 'berkunjung' dari meja ke meja, menengadahkan tangan, mengucap doa, dan menyeru amin.

Sebagai orang asing, saya sangat beruntung dengan identitas ganda seperti ini, bisa melongok-longok bagian yang tersembunyi dari tamu pria pada umumnya. Pekarangan rumah Uzbek lazimnya dikelilingi tembok tinggi dan tebal, sehingga bangunan rumah dan pekarangan sama sekali tak terlihat dari luar. Di sinilah para tamu wanita, semuanya mengenakan kerudung dan jilbab, 'disembunyikan'.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.