Mencicipi Tawaran Mitra Bakso Kuto Cak To

Kompas.com - 09/06/2008, 07:03 WIB
Editor

Siapa yang tak kenal dengan udapan bernama bakso. Bola-bola daging yang mengambang dalam kuah gurih itu sangat mudah ditemui di mana-mana. Namun, meski sama-sama bernama bakso, setiap daerah mempunyai citarasa khas. Sebutlah, misalnya, bakso malang, bakso solo, bakso surabaya, bakso sukabumi, dan masih banyak lagi. Nah, bagaimana kalau banyak citarasa bakso bergabung menjadi satu dalam satu mangkuk?

Wachid Basir Krismanto yang biasa mendapat sapaan Cak To, mencoba memadukan dua citarasa bakso, yakni bakso solo dan bakso malang. "Bakso solo kuahnya lebih keruh dan kental karena bumbunya digoreng dulu. Sedangkan bakso malang kuahnya bening karena bumbunya memang mentah," terangnya. Cak To mengaku butuh sekitar enam bulan untuk menemukan resep andalan hasil perpaduan dua cita rasa itu.

Selain soal rasa, merger bakso ala Cak To juga menawarkan beragam bakso. "Kami sudah mempunyai 23 jenis bakso," ujar Cak To. Dia segera menyebut barisan nama bakso, di antaranya: bakso halus, bakso kasar, bakso puyuh, bakso mercon, bakso udang, serta bakso ikan.

Harga bakso Cak To yang membuka kedai di Jalan Pahlawan, Sidoarjo, Jawa Timur, ini pun relatif murah. "Harganya mulai Rp 5.500 hingga Rp 10.000 per porsi," terangnya. Setiap hari, minimal ada 200 pembeli yang meramaikan kedai bakso yang memasang papan nama Bakso Kuto Cak To itu.

Cak To memang sudah lama bergelut di bidang kuliner. Bahkan dia bersekolah di Surabaya Hotel School, mengambil jurusan produk. Setelah lulus, Cak To mencoba mencari peluang di bisnis kuliner. "Saya sudah mencoba berbagai macam usaha makanan. Mulai dari tempe penyet hingga kafe anak muda," ungkapnya.

Namun pada 2004, Cak To memutuskan fokus pada bakso. "Tahun itu, saya mulai fokus di bisnis warung bakso," katanya. Ia memilih bakso lantaran jenis makanan ini lebih tahan banting dalam suasana apa pun.

Sepertinya, bakso memang menjadi bagian takdir Cak To. Atas permintaan para pelanggannya, Cak To lantas menawarkan kemitraan usaha Bakso Kuto Cak To sejak pertengahan 2006. Sekarang, kemitraan ini berkembang menjadi sembilan gerai. Cak To cuma mempunyai satu, sisanya milik mitra. Gerai tersebut tersebar di Semarang, Ponorogo, Madiun, Magetan, Gresik, dan seputar Surabaya.

Pembayaran fleksibel

Untuk menjadi mitra Cak To, Anda harus menyiapkan dana investasi sebesar Rp 35 juta untuk jangka waktu kerja sama enam tahun. "Nantinya, mitra akan memperoleh fasilitas senilai Rp 15 juta," ujar Cak To. Di antaranya, etalase berbentuk gerobak, perlengkapan memasak, spanduk, banner, mesin kasir, seragam karyawan, neon box, hingga poster. "Kami juga sediakan produk awal senilai Rp 500.000," imbuhnya.

Untuk membantu promosi, Cak To juga menyediakan voucher @ Rp 5.000 sebanyak 100 lembar. "Voucher ini bisa dibagikan ke siapa pun, terserah kepada mitra," ujarnya.

Cak To juga memberikan pelatihan karyawan selama seminggu, mulai untuk kasir hingga koki. Perhitungan Cak To, mitra usahanya bisa balik modal sekitar satu hingga dua tahun. "Sebagai gambaran, omset satu gerai kami di hari biasa mencapai Rp 3 juta per hari. Pada akhir pekan, omset bisa sampai Rp 5 juta," ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X