Berkelana ke Negeri-negeri Stan (68)

Kompas.com - 09/06/2008, 07:40 WIB
Editor

Sepasang kakek dan nenek datang menyambut saya. Kelihatannya mereka sudah lama sekali menunggu saya. Saya meminta maaf atas keterlambatan kami dalam bahasa Rusia, yang kemudian diterjemahkan oleh Ahror ke dalam bahasa Uzbek. Kedua orang tua itu hanya tersenyum, dan menanyakan apakah saya lapar.

Nenek Salima Xon, neneknya Temur, langsung menyiapkan semangkuk sup kambing hangat, serta sebuah roti nan bundar besar. Saya tidak pernah merasakan roti nan selezat ini. Ternyata roti ini memang bukan roti biasa. Kalau roti yang kita beli di pasar biasanya adalah campuran tepung dan air, roti nan buatan tangan Nenek Salima dicampur susu. Harumnya, renyahnya, manisnya..., semua benar-benar istimewa.

Saya tak bisa banyak berkomunikasi dengan kakek dan nenek karena kendala bahasa. Sepupu Temur, Saidullo, juga tinggal di rumah itu. Saidullo berumur 25 tahun, sudah menikah, dan baru saja punya bayi. Saidullo juga cuma bisa bahasa Uzbek, sehingga saya harus berjuang keras dengan kosa kata Uzbek saya yang amat sangat terbatas, plus bahasa-bahasa isyarat dari gerakan tubuh dan wajah.

Kakek dan nenek sudah tidur lebih awal. Mereka tidak tidur di ruangan besar ini, tetapi punya kamar sendiri. Saidullo menyiapkan matras dan selimut tebal di sebuah sudut di atas panggung kayu kamar besar ini. Inilah pertama kalinya saya tidur sendirian di sebuah kamar nyaris kosong yang hampir sama luasnya dengan seluruh rumah saya. Seketika saya merasa diri saya begitu kecil.

Keesokan paginya, Saidullo mengajak saya keliling melihat-lihat rumah. Bukan hanya ruang tamunya yang lapang, rumah ini memang sangat luas. Beberapa bangunan terpencar-pencar mengelilingi pekarangan yang juga tidak kecil. Gedung-gedungnya pun apik, perpaduan antara kehidupan tradisional dengan cita rasa modern. Saya hanya melongo menyaksikan kemewahan istana mungil ini, yang tersembunyi di balik tembok biasa di sebuah gang terpencil di desa yang orang pun tak tahu ada di mana.

Ada sebuah kamar khusus tempat menyimpan buku-buku koleksi ayah Temur. Jumlah bukunya 15 ribuan, umumnya berbahasa Rusia, tertata rapi di rak yang berjajar menyelimuti dinding, dari lantai hingga ke langit-langit. Rusia adalah negeri yang selalu haus akan ilmu pengetahuan, dan buku adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban negeri itu. Ayah Temur memang bukan orang biasa. Di sudut perpustakaan keluarga ini, yang masih lebih besar daripada perpustakaan sekolah saya dulu, ada foto kebesaran ketika ayah Temur berjalan bersama presiden Tajikistan dan Kyrgyzstan.

Dari keseharian Temur yang sangat sederhana, sebagai mahasiswa di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Tashkent, saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa keluarganya demikian luar biasa, dengan rumah yang tak terkira luasnya, dan seorang ayah yang juga bukan orang sembarangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

            "Tanah di desa memang murah, jadi rumah di desa luas-luas. Sama sekali bukan hal yang luar biasa," kata Temur merendah, sewaktu saya mengungkapkan kekaguman saya.

Kembali ke ruang tamu, Kakek Hoshimjon, kakeknya Temur, duduk di sudut ruangan dengan kekhusyukan yang maha tinggi. Kakinya terbujur dalam sandal. Eits, ini bukan sandal sembarang sandal, melainkan penghangat tradisional di musim dingin. Sekaleng batu bara atau kayu yang dibakar, diletakkan di bawah meja rendah setinggi lutut yang dibungkus ko'rpa, selimut tebal. Orang-orang bisa duduk di keempat sisi meja, masing-masing menyelonjorkan kaki ke bawah meja untuk berbagi kehangatan.

Nenek Salima sibuk memasak. Tetapi Saidullo mengajak saya keluar, melihat-lihat pemandangan desa. Saya keluar dari gerbang rumah.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.